15. ARTI LUKA

80 16 0
                                        

Rizal memulai kebiasaannya lebih awal

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Rizal memulai kebiasaannya lebih awal. Setelah selesai melakukan pekerjaan harian, ia pergi menuju ke warung makan langganannya, memesan tiga puluh kotak nasi dengan menu yang berbeda setiap harinya. Ia menatap tumpukan kotak nasi di dashboard motornya. Kalimat Rama di sel penjara dulu kembali berdengung, lebih nyaring dari deru mesin motornya.

Jika kamu tidak bisa memberi satu juta, maka berikanlah seratus ribu.

Jika tidak bisa seratus ribu, berikanlah sepuluh ribu.

Jika masih tidak bisa, maka berikanlah seribu.

Jika masih belum bisa juga, maka berikanlah tenaga mu.

Jika tak bisa memberikan tenaga, maka berikanlah sebuah doa.

Kalimat diukir lebih dalam daripada luka sayat di bawah mata kanannya. Ia hanya berharap, nasi hangat dalam kotak itu bisa menahan rasa lapar mereka, setidaknya untuk satu malam lagi

Rizal menarik tudung hoodie hitamnya sampai batas dahi. Masker kain naik menutupi hidung, menyisakan luka sayat di bawah mata kanan. Gambar tengkorak di punggungnya menyeringai di bawah lampu jalan yang remang. Masker kain menutupi hidung, menyisakan luka sayat di bawah mata kanannya.

Motor matiknya perlahan meninggalkan warung makan. Jalur yang ia ambil nyaris selalu sama. Kolong jembatan. Emperan ruko. Halte yang sudah lama tidak dipakai. Taman kota tempat para pemulung biasa menggelar kardus. Ia hafal siapa yang lebih dulu harus didatangi ketika hujan turun dan siapa yang selalu menyisakan sebagian nasi untuk istrinya yang sakit.

Tidak ada seorang pun yang mengenal namanya. Mereka hanya mengenal pria bertudung hitam yang datang membawa makan malam lalu menghilang sebelum sempat menerima ucapan terima kasih.

***

Masih ada sepuluh kotak nasi yang harus Rizal bagikan, disimpan di dashboar motor matiknya. Laju motor Rizal melambat saat melihat siluet perempuan berjalan cepat di trotoar. Tiga lelaki keluar dari bayangan toko yang sudah tutup di belakangnya, menjaga jarak namun konsisten mengikuti.

Rizal mematikan lampu depan, lalu memarkir motor di balik tumpukan kardus bekas pabrik. Ia memperhatikan jarak di antara mereka menyempit.

Di ujung gang sempit dan gelap, ketiga lelaki tersebut menjegat wanita yang mereka buntuti. Salah satu dari mereka menarik paksa kerah baju wanita itu, mengancam wanita itu memberikan tas yang dia bawa. Wanita itu melempar tasnya ke arah mereka. Namun, hal itu tidak menghentikan para pelaku. Ketiga lelaki tersebut tergoda dengan kecantikan wanita itu.

Rizal membetulkan posisi maskernya. Ia mencabut stick baton dari balik pinggang, lalu bergerak masuk. Ia berjalan mengendap-endap, memanfaatkan bayangan, mendekati mereka dari belakang.

Langkahnya terhenti tepat di belakang orang ketiga. Rizal menepuk pundak lelaki paling belakang. Lelaki itu menoleh, ayunan stick baton sudah menghantam wajahnya, suara keras memantul di gang sepi. Lelaki itu tersungkur ke aspal, memegang hidungnya yang patah.

TRILOGY SATU TITIK [COMPLETE]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang