Lampu jalan kuning pucat masuk ke dalam interior Toyota Yaris hitam, menciptakan garis-garis bayangan yang menari di wajah Chacha. Ia duduk kaku, jemarinya mencengkeram sabuk pengaman hingga kuku-kukunya memutih. Di sampingnya, Alee mengemudi dengan satu tangan di atas kemudi, tubuhnya bersandar santai.
"Jangan terlalu nafsu, Cha."
Suara Alee memecah kesunyian. Ia melirik Chacha sekilas. Matanya menyipit saat sorot lampu dari truk arah berlawanan menerpa pupilnya. "Krugger bukan sekadar bos gangster yang bisa lo pancing pake pertanyaan receh. Di Bogor, dia nggak punya wajah, cuma punya telinga di mana-mana. Salah langkah sedikit, lo bukan dapet info, tapi dapet nisan."
Chacha menoleh, rahangnya mengeras, menciptakan garis tegas di bawah dagunya. Matanya memantulkan kilatan lampu jalanan. "Gue nggak peduli, Alee. Gue bakal hancurin dia... dia harus bayar."
Alee mendengus sinis. Ia memutar kemudi dengan gerakan halus saat melintasi tikungan tajam menuju Tajur. "Tekad nggak bakal bikin lo tetep hidup kalau lo masih amatiran kayak kemarin. Inget cara lo ngomong sama Om Daeng?"
Chacha membuka mulut, lalu menutup lagi. Ingatannya kembali pada tatapan Om Daeng sore itu. Tidak kemarahan atau ancaman. Hanya tersenyum tipis sambil terus menuangkan teh, seolah pertanyaan Chacha hanyalah obrolan biasa.
Alee menginjak rem perlahan saat lampu merah menyala di persimpangan. Ia memutar tubuhnya, menatap Chacha. "Lo terlalu transparan. Lo nanya soal Krugger, tapi mata lo teriak kalau lo pengen bunuh dia. Lo pikir Om Daeng bego?"
Chacha tidak menjawab. Ia kembali menatap lurus ke aspal yang hitam legam di depan mereka. Di luar, gerimis tipis mulai membasahi kaca depan.
"Dunia ini nggak butuh martir yang mati konyol karena emosi," tambah Alee. "Krugger itu seperti kabut Bogor. Lo nggak bisa nangkep kabut pake tangan kosong. Lo cuma bakal basah dan kedinginan sebelum akhirnya mati kaku. Kalau lo mau main di zonanya, lo harus belajar jadi bayangan, bukan jadi api yang teriak-teriak minta disiram."
Chacha mengepalkan tangannya di atas paha. Ia merasakan getaran mesin mobil merambat ke tulang-tulangnya. "Ajarin gue kalau gitu. Ajarin gue jadi bayangan yang bisa gorok leher dia tanpa dia sempet ngedip."
Alee melirik jemari Chacha yang gemetar di atas lutut. Ia menepikan mobilnya di bahu jalan yang gelap, tepat di bawah pohon beringin besar, dahannya menjuntai ke aspal. Suara mesin idle menjadi satu-satunya bunyi di sana.
"Langkah pertama," Alee meraih pergelangan tangan Chacha, menekannya dengan kuat hingga gadis itu mendesis. "Kontrol detak jantung lo. Musuh bisa denger napas lo yang nggak beraturan dari jarak lima meter. Kalau lo nggak bisa kontrol diri sendiri, jangan mimpi mau kontrol nasib orang lain."
Chacha mencoba menarik napas perlahan, dadanya tetap berdegup keras.
"Liat?" Alee melepas pergelangan tangannya. "Lo bohong sama mulut lo." Ia menunjuk dada Chacha. "Tapi badan lo jujur."
Alee menatap mata Chacha yang berair. "Mulai sekarang. Di depan Daeng dan jaringan Bogor, lo cuma alat. Nggak punya masa lalu, nggak punya perasaan. Paham?"
Chacha menelan ludah. Ia menarik napas panjang. "Paham."
Chacha mengedipkan mata perlahan. Sekali. Dua kali, lalu memejamkan mata beberapa detik. Matanya kembali terbuka, napasnya mulai teratur.
Alee melirik sekilas, lalu mengangguk tipis. "Sekarang baru keliatan hidup."
Alee melepaskan cengkeramannya, lalu kembali memindahkan tuas transmisi. Mobil melaju kembali, menembus kegelapan jalanan Tajur yang mulai sepi. kabut tipis yang mulai turun menyelimuti aspal Bogor, bayangan pohon-pohon besar di pinggir jalan Bogor tampak seperti raksasa yang mengawasi pergerakan mereka menuju jantung kekuasaan Krugger.
Asap cerutu Kuba yang pekat menggantung di udara, menciptakan lapisan tipis di bawah pendar redup lampu gantung kristal. Di dalam private suite, kebisingan jalanan Kota Bandung teredam sempurna oleh dinding kedap suara yang tebal. Aroma alkohol dari botol single malt yang baru terbuka menyeruak, beradu dengan bau kulit sofa premium yang diduduki dua pria paling berbahaya di Jawa Barat.
Champagne duduk dengan punggung tegak, memutar gelas kristal di tangannya perlahan, es batu di dalamnya berdenting pelan. Di seberangnya, Jagermeister bersandar santai, menyesap cocktail hijau zamrudnya.
"Pak! Bagaimana dengan Krugger?"
"Saya akan menangkap Krugger."
Mereka menonton rekaman ulang proses pelantikan kenaikan jabatan Gilang.
"Saya nggak nyangka," Jagermeister memecah keheningan, suaranya berat. Ia meletakkan gelasnya di atas meja marmer tanpa suara. "Ternyata Anda yang merekomendasikan bocah itu untuk jadi Kepala di Tangerang."
Champagne membiarkan keheningan itu menekan ruang beberapa detik.
"Saya butuh umpan, Jey. Sesuatu yang cukup berkilau untuk memancing Brandy keluar dari sarangnya," ujar Champagne. Wajahnya datar. "Brandy sudah terlalu lama bertingkah seperti raja di Jakarta. Dia beroperasi terlalu terbuka, terlalu berisik. Dia mulai merusak estetika organisasi kita."
Jagermeister mendengus, seringai tipis muncul di sudut bibirnya. "Dia memang sudah lupa diri. Dia pikir kursi Jakarta itu miliknya selamanya."
"Brandy mendekati Renggo untuk bangun kekuatan melawan kita, Jey." Jemari Champagne mengetuk meja.
"Dan Tangerang adalah batas wilayah yang sempurna untuk memancingnya," timpal Jagermeister.
"Bocah itu dan si Polisi hanya alat efisien untuk membersihkan sampah-sampah kita. Termasuk Irish yang sudah terlalu ambisius dan serakah," lanjut Champagne.
Champagne mematikan cerutunya ke asbak kristal, menekannya perlahan hingga bara apinya padam total. Ia mencondongkan tubuh, cahaya lampu temaram menyoroti garis-garis tegas di wajahnya.
"Dunia ini butuh keseimbangan, Jey. Brandy dan Irish adalah variabel yang sudah tidak bisa dikontrol. Mereka terlalu banyak makan. Saya hanya membantu alam melakukan seleksi."
Jagermeister menyesap sisa minumannya, matanya menyipit menatap dasar gelas. "Seleksi yang berdarah. Vermouth?"
"Dia korban yang tidak diinginkan. Itu diluar rencana. Sangat disayangkan dia ikut jadi korban."
"Jadi, apa rencana Anda selanjutnya? Jakarta kosong, Tangerang hancur," tanya Jagermeister.
"Saya ada satu orang yang bisa gantiin posisi bocah itu di Tangerang. Dan untuk Jakarta...," Champagne tidak meneruskan kalimatnya.
"Kau yang akan gantiin sementara posisi Brandy?" tebak Jagermeister.
"Biarkan kursi itu kosong untuk saat ini. Rasa lapar akan membuat orang-orang di bawah sana berebut, dan saat itulah kita akan tahu siapa lagi yang perlu disingkirkan."
"Surabaya dan Semarang?" tanya Jagermeister.
"Kita biarin Pisko dan Tequillia kasih pendapat mereka. Selama Jawa bagian Barat tetap dalam genggaman, mereka tidak akan berani melangkah lebih jauh."
Jagermeister kembali menyandarkan punggungnya. "Jadi, siapa yang akan Anda jadikan Kepala Tangerang? Siapa penyamar yang Anda maksud?"
Champagne menarik selembar kartu kecil dari saku kemejanya, meletakkannya terbalik di atas meja marmer. "Orang yang selama ini menyamar di sana, dan loyalitasnya sudah teruji. Dia bukan sekadar prajurit. Dia adalah bayangan yang tumbuh di tengah cahaya."
"Bagaimana dengan Krugger?" Jagermeister menunjuk rekaman yang terhenti tepat saat kamera menangkap wajah Gilang. "Dia akan mulai memburunya."
"Aman, polisi itu nggak akan pernah bisa menyentuh Krugger, sama seperti polisi lainnya."
"The Hydra," ucap Jagermeister, mengangkat gelasnya.
"Kita raja," sahut Champagne, ikut mengangkat gelasnya. Mereka bersulang di atas pengkhianatan dan kehancuran rekan-rekan mereka.
***
KAMU SEDANG MEMBACA
TRILOGY SATU TITIK [COMPLETE]
AksiTRILOGY SATU TITIK "Akan datang satu titik di mana keputusanmu yang akan menentukan jalan hidupmu. Titikmu dan titikku tidak akan pernah sama." BUKU 1 : SATU TITIK (PROLOG - BAB 40) BUKU 2 : SATU TITIK PERSIMPANGAN (BAB 41-86) BUKU 3 : SATU TITIK...
![TRILOGY SATU TITIK [COMPLETE]](https://img.wattpad.com/cover/220144956-64-k175150.jpg)