118. SANDERA

2 0 0
                                        

Di bawah cahaya lampu pijar yang redup, langkah Champagne terdengar kering di atas lantai marmer markas rahasia Hydra. Ia bergerak dari satu ujung ruangan ke ujung lain, melewati meja panjang yang dipenuhi layar, laporan tercetak, dan peta pergerakan seluruh kepala Hydra.

Jasnya masih terpasang rapi, kerahnya yang mulai basah oleh keringat.

Di salah satu layar, tiga laporan menyala bergantian.

MUARA ANGKE - JALUR BRANDY DISERANG.

BANDUNG - GUDANG JAGERMEISTER DITEMBUS.

JASINGA - KOMUNIKASI TERPUTUS.

Champagne berhenti di depan laporan Jasinga.

Jemarinya mengencang di sekitar ponsel satelit.

Tuut...

Tuut...

"Jey, angkat," desis Champagne.

Tidak ada jawaban. Ia memutus sambungan, lalu menelepon kembali.

Panggilan baru tersambung di dering keempat. Suara Mang Wawan terdengar berat dari seberang, bercampur bunyi orang berteriak dan benda-benda logam yang dipindahkan.

"Ada apa, Jenderal?" tanya Mang Wawan "Subuh-subuh begini telepon terus. Gudang gue baru diserang."

"Richard mati, Jey."

Suara di seberang menghilang. Suara napas Mang Wawan berubah.

"Apa?!" Sentak Mang Wawan

"Richard mati di Muara Angke."

"Keponakanku?"

"Renggo dan orang-orangnya masuk ke rumah aman. Richard tertinggal di kawasan pelabuhan."

"Bagaimana bisa?" Suara Mang Wawan meninggi. "Cleaner lo ada di sana!"

"Cleaner masuk terlambat."

"Berarti orang-orang kau gagal, Jendral!"

Champagne memejamkan mata sejenak. "Jangan mulai."

"Richard itu darah dagingku!" bentak Mang Wawan. "Aku kasih dia orang. Masih dia wilayah. Kasih dia kursi Brandy. Sekarang kau bilang dia mati karena Cleanermu masuk terlambat?"

"Bukan cuma Richard yang diserang." Champagne menyentuh layar di depannya. Laporan Bandung terbuka. "Gudangmu dibobol orang-orang yang pakai kendaraan dan perlengkapan polisi. Arsip transaksi dibawa. Uang tunai hilang."

"Aku tahu gudangku dibobol!"

"Nggak. Kau belum tahu siapa yang bobol."

Mang Wawan terdiam.

Champagne membuka laporan Muara Angke. "Di jalur Richard, mereka ambil uang taruhan dan daftar bandar. Narkoba ditinggal. Ada segel jalur Batam di lokasi."

"Tequila?"

"Mungkin."

"Atau Pisco," balas Mang Wawan. "Perlengkapan polisi bisa datang dari orangnya."

"Itu yang mereka mau kita pikirkan."

Champagne melanjutkan langkahnya. "Mereka nggak lagi mencoba menghancurkan bisnis kita. Mereka buat kita saling menunjuk."

"Terus Jasinga?"

Champagne berhenti. "Komunikasi dengan gudang arsip putus."

Keheningan berlangsung lebih lama.

"Siapa yang tahu tempat itu?" tanya Mang Wawan.

"Orang yang membangunnya."

"Daeng?"

TRILOGY SATU TITIK [COMPLETE]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang