Saat sisa tembakan masih menggema di Muara Angke, helikopter Pisco melintas rendah di atas perkebunan tebu Jasinga. Lampu navigasinya berkedip merah, sesekali menyapu hamparan tanaman yang bergoyang diterpa angin sebelum fajar.
Daeng duduk menghadap jendela. Jaket kulit tua yang ia kenakan lebih dari dua puluh tahun lalu melekat di tubuhnya, ketika tempat yang mereka tuju belum menjadi milik Champagne.
Di seberangnya, Pisco memeriksa koordinat melalui tablet. Panggilan masuk dari Unit Barong.
Pisco memasang perangkat komunikasi ke telinganya. "Lapor."
"Perimeter luar dikuasai," jawab suara dari seberang. "Dua penjaga dilumpuhkan. Kamera dan jalur komunikasi utama sudah mati."
"Korban?"
"Satu anggota kena tembak di lengan. Masih bisa bergerak."
"Yang lain?"
"Ada satu kendaraan pengamanan lolos lewat jalur selatan."
Pisco menatap Daeng. "Mereka sempat kirim orang keluar."
"Berapa lama sebelum Champagne tahu?" tanya Daeng.
"Kalau kendaraan itu langsung kirim laporan, kurang dari lima belas menit."
Daeng mengalihkan pandangan kembali ke jendela. "Cukup."
Pisco memutus komunikasi.
"Cleaner memang ditarik ke Muara Angke, tapi Champagne nggak ninggalin Jasinga tanpa gigi."
"Dulu gue yang masang giginya."
Pisco menyeringai. "Makanya gue berharap lo tahu cara mencabutnya."
Helikopter mulai menurun.
Di bawah mereka, bangunan tua nyaris tertutup ilalang dan pepohonan liar. Dinding bata eksposnya ditumbuhi lumut. Dua kendaraan Unit Barong disembunyikan di balik bangunan penyimpanan pupuk.
Helikopter menyentuh tanah. Debu dan daun kering berputar di bawah baling-baling. Daeng turun lebih dulu, udara dingin Jasinga menyentuh wajahnya. Sepatu botnya menginjak tanah lembap yang pernah ia pijak hampir setiap malam di masa lalu.
Empat anggota inti Unit Barong menunggu di dekat pintu gudang. Salah seorang dari mereka menekan luka tembak di lengannya menggunakan kain hitam.
"Jalur masuk aman," lapor pemimpin mereka. "Empat penjaga di dalam sudah dilumpuhkan. Masih mungkin ada orang di bagian arsip bawah."
"Barong tahan perimeter," perintah Pisco. "Empat orang ikut masuk."
Daeng mengangkat tangan. "Dua."
Pisco menoleh ke Daeng.
"Gudang ini nyimpen terlalu banyak nama. Gue nggak perlu semua orang lo tahu apa yang kita ambil."
Pisco memberi isyarat. Dua anggota Barong yang mengikuti mereka, sisanya menyebar mengamankan jalan masuk dan titik pendaratan.
Daeng berhenti di depan pintu baja.
Permukaannya sudah berkarat. Cat hitam yang dahulu menutupinya hampir seluruhnya terkelupas. Engsel dan rangka pintunya tetap utuh.
Pisco mengangkat senapan. "Diledakkan?"
"Jangan." Daeng berjongkok di samping kusen. Tangannya menyusuri bata yang menonjol di sisi kanan pintu. Ia menekannya dua kali, kemudian menarik salah satu bagian dinding palsu.
Tuas mekanik tersembunyi di dalamnya. Daeng menarik tuas itu.
Bunyi logam berat terdengar dari balik pintu, kunci bagian dalam terlepas.
Pisco menatap samping wajah Daeng "Lo tau tempat ini?"
KAMU SEDANG MEMBACA
TRILOGY SATU TITIK [COMPLETE]
ActionTRILOGY SATU TITIK "Akan datang satu titik di mana keputusanmu yang akan menentukan jalan hidupmu. Titikmu dan titikku tidak akan pernah sama." BUKU 1 : SATU TITIK (PROLOG - BAB 40) BUKU 2 : SATU TITIK PERSIMPANGAN (BAB 41-86) BUKU 3 : SATU TITIK...
![TRILOGY SATU TITIK [COMPLETE]](https://img.wattpad.com/cover/220144956-64-k175150.jpg)