Asap sisa hujan menyelinap tipis di antara celah-celah gudang. Dari balik pilar beton, lima puluh meter dari markas utama Wild Liar, Rizal berdiri tak bergerak. Jarinya terselip di balik saku hoodie tebal, pandangannya mengunci bangunan ruko dua lantai berdinding kusam di seberang jalan.
Dentum bass dari musik house di lantai dua ruko masih menggetarkan kaca-kaca jendela. Cahaya lampu disco merah-hijau berkedip liar, memancar tipis menembus tirai yang tertutup separuh.
Di kejauhan, sayup-sayup terdengar raungan sirine patroli polisi-melengking, tumpang tindih dari tiga arah perbatasan wilayah yang berbeda. Kota di sekeliling mereka sedang membarah oleh bentrokan, tapi di tempat ini, waktu seolah berjalan terbalik.
Rizal mengangkat pergelangan tangannya. Jarum jam analog menunjukkan pukul 23.12.
Rizal menatap kilatan lampu pesta di lantai dua.
"Masih sempat ketawa..." bisik Rizal pelan, tenggelam oleh deru angin malam.
Rizal melangkah maju, kegelapan pilar menutupi separuh tubuhnya. Jarinya merogoh kain perban yang terikat kencang di pergelangan tangan kirinya, memutar simpulnya hingga makin ketat melilit tulang.
Matanya bergerak cepat membaca peta pertahanan lapangan tanpa jeda. Dua orang anggota Wild Liar bersandar di pintu depan ruko, memegang botol bir kosong, anggota lain memutar pisau lipat.
Di halaman samping, seorang pemuda muntah ke arah tembok, berdiri oleng lalu ambruk berlutut di tanah.
Kendaraan berjejer di pelataran, kunci kontak beberapa di antaranya masih tertancap. Pintu kayu di lorong belakang ruko gelap total.
PRANG!
Suara gelas kaca hancur berantakan dari jendela lantai dua, disusul gelak tawa melengking Olay yang melintasi keriuhan musik.
"Tuang lagi, Bangsat! Malam ini kita yang punya Tangsel!!" jerit Olay dari dalam.
Rizal memejamkan matanya rapat-rapat. Jemarinya mengepal hingga buku-buku jarinya memutih di dalam saku hoodie. Otot rahangnya mengeras. Tawa Olay terus menggema dari balik jendela.
Tahun ketiga di lapas Salemba, halaman kecil dipenuhi tahanan. Barisan mereka duduk rapat di atas karpet tipis yang digelar di atas semen. Seorang ustad yang dipanggil ke lapas untuk mengisi khutbah jumat berdiri di mimbar dengan mikrofon kecil. Suara kipas angin berputar di langit-langit.
"Tidak ada dosa yang terlalu besar untuk diampuni."
Beberapa kepala tertunduk.
"Hai anak Adam! Sesungguhnya selama engkau berdoa dan berharap hanya kepada-Ku, niscaya Aku mengampuni dosa-dosa yang telah engkau lakukan dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam! Seandainya dosa-dosamu setinggi langit, kemudian engkau minta ampunan kepada-Ku, niscaya Aku mengampunimu dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam! Jika engkau datang kepada-Ku dengan membawa dosa-dosa yang hampir memenuhi bumi kemudian engkau bertemu dengan-Ku dalam keadaan tidak mempersekutukan-Ku dengan sesuatu pun, niscaya Aku datang kepadamu dengan memberikan ampunan sepenuh bumi." (HR. At-Tirmidzi)
"Sebaik-baiknya manusia, adalah dia yang kembali kepada-Nya."
"Allah Sang Maha Pengampun. Jika kau anggap dosa-mu sebesar gunung, maka percayalah ampunan-Nya seluas lautan. Jangan putus asa, mari jemput Rahmat-Nya."
Rizal duduk di barisan tengah, mengenakan hoodie hitam pemberian Noval. Tudungnya menutup sebagian kepalanya. Tangannya terlipat di depan dada. Rama duduk di sampingnya.
Imam mengangkat tangan untuk takbir, Rizal ikut mengangkat tangannya. Kain hoodie bergerak sedikit di bahunya.
Kalimat-kalimat yang diucapkan ustad itu menjadi pegangan baru bagi Rizal.
Lima bulan sebelum pintu besi benar-benar terbuka. Cahaya matahari sore masuk lewat jendela kecil dengan sudut yang hampir mendatar, menyinari lantai semen menjadi kuning kecokelatan. Rizal bersandar di dinding, tangannya memutar potongan kecil kertas di antara jari.
"Keluar nanti lo mau ke mana?" tanya Rama.
"Rumah bukan pilihan," jawab Rizal. Matanya menatap jendela. Bayangan jeruji memanjang di lantai antara mereka.
"Mereka pasti nerima lo lagi kalau tahu lo udah berubah, Zal."
"Nggak ada jaminan untuk itu."
Rama diam sebentar, lalu meraih pulpen pendek dari sakunya. Ia merobek selembar kertas dari kalender dinding, menulis sesuatu, menyerahkannya ke Rizal.
"Itu alamat rumah gue. Nggak jauh dari Pasar Serpong, sekitar dua kilometer. Temuin bokap gue, ceritain semuanya. Bilang lo teman sekamar gue."
"Tapi-"
"Nggak ada kata tapi." potong Rama. "Tujuh bulan lagi gue nyusul."
Rizal menatap kertas itu. Melipat kecil. Memasukkannya ke saku celana.
"Insya Allah," sahutnya.
Desember 2012. Gerbang lapas terbuka. Matahari siang memutihkan halaman tanah yang retak-retak kekeringan. Rizal berdiri di ambang gerbang, mengenakan hoodie hitam pemberian Noval. Tas kain di bahu.
Rama berdiri di dalam blok, kedua tangannya memegang jeruji. "Salam buat bokap gue."
Rizal mengangguk.
"Tujuh bulan lagi gue keluar." Mata Rama tidak berkedip. "Tunggu gue."
Rizal mengangguk sekali lagi, lalu berbalik.
Gerbang besi berdenting keras saat tertutup di belakangnya. Suaranya memantul sekali, lalu hilang ditelan udara terbuka. Langkahnya terhenti tiga meter dari gerbang, ia menoleh, menatap gerbang sekali lagi, lalu melangkah meninggalkan lapas Salemba.
Tiga jam perjalanan menuju pasar Serpong, Rizal duduk di sudut angkutan umum, bahu menyentuh kaca jendela yang bergetar di setiap polisi tidur. Di luar, lampu jalan, spanduk warung makan, motor yang saling menyalip di persimpangan.
Rizal sampai di Pasar Serpong, matahari menyentuh ufuk barat. Bau asap sate dan knalpot bercampur di udara sore. Pedagang kaki lima berteriak. Seseorang mendorong gerobak es lewat celah sempit antara motor yang parkir.
Ia berdiri di pinggir jalan. Tangannya memegang kertas kecil dari Rama. Matanya menyapu deretan gang di seberang jalan, lalu beralih ke pakaiannya sendiri .
Langkahnya berjalan ke warkop di sudut pasar Serpong, lalu memesan kopi hitam, duduk di sudut paling jauh dari pintu. Ia meletakkan kertas alamat di atas meja di depannya.
Menatapnya sampai lampu-lampu di luar mulai dipadamkan satu per satu dan pemilik warkop mulai membalik kursi ke atas meja.
Ia berjalan ke deretan toko yang sudah terkunci. Menggelar jaketnya di atas emperan berbatu. Tubuhnya berbaring, matanya memandang langit malam Serpong. Ia menyentuh lipatan kertas itu, lalu diam di sana.
BAM!
Dentum bass musik dari lantai dua menghantam dinding ruko, menarik kesadaran Rizal kembali.
Rizal membuka matanya. Matanya merah berdarah. Ia mengusap wajahnya, ujung jarinya basah menyeka air di sudut matanya. Napasnya memburu seperti hembusan angin dari dalam jurang.
"Gue udah pernah nyoba berhenti." Ia menarik napas panjang, menghembuskannya perlahan menembus celah giginya yang rapat. Tangannya terulur ke balik jaket.
"Ini semua..." bisik Rizal, suaranya serak, "...buat Chacha."
Rizal melangkah keluar dari bayangan bangunan kosong. Langkah sepatu botnya menapak pasti di atas aspal jalan raya, membelah kegelapan malam menuju pintu belakang ruko yang gelap.
***
KAMU SEDANG MEMBACA
TRILOGY SATU TITIK [COMPLETE]
AksiyonTRILOGY SATU TITIK "Akan datang satu titik di mana keputusanmu yang akan menentukan jalan hidupmu. Titikmu dan titikku tidak akan pernah sama." BUKU 1 : SATU TITIK (PROLOG - BAB 40) BUKU 2 : SATU TITIK PERSIMPANGAN (BAB 41-86) BUKU 3 : SATU TITIK...
![TRILOGY SATU TITIK [COMPLETE]](https://img.wattpad.com/cover/220144956-64-k175150.jpg)