Pukul 23:10. Hawa dingin markas Wild Liar merayap masuk ke celah-celah gudang. Ajay bangkit, mengibaskan debu dari celana kainnya.
"Ikut gua, Lay. Waktunya lu punya taring beneran," ucap Ajat datar.
"Sekarang, Bang? Anak-anak lagi pada panas. Bahaya kalau gua cabut," sahut Olay. Matanya merah, melirik ke arah botol yang masih penuh.
Ajat menoleh. "Lu mau terus-terusan main kayu sama celurit? Gua mau ngenalin lu sama orang yang pegang barang panas. Sekali lu punya pasukan yang pegang senjata api, Renggo bakal cium kaki lu."
Pupil mata Olay melebar. Ia mengangkat tangan, memberi isyarat ke empat pengawal pribadinya untuk segera merapat.
Di belakang punggung Olay, Obi menurunkan pandangan ke layar ponselnya di balik saku jaket. Jemarinya bergerak cepat, tanpa melihat tombol.
Target keluar. Lima orang. Sedan hitam. Tujuan stasiun dekat pasar Jombang.
Pesan terkirim dalam hitungan detik. Obi menghapus jejak percakapan, mengunci layar, lalu menyelipkan kembali ponselnya ke dalam saku.
"Bos," Obi membuka pintu mobil untuk Olay, "jalanan sepi. Kita aman."
Dari balik dinding gudang, Renggo menatap pintu markas terbuka perlahan. Olay keluar lebih dulu, disusul empat pengawal membentuk setengah lingkaran di sekelilingnya. Ajat berjalan paling belakang.
Sorot lampu halaman menyapu wajah Olay sesaat sebelum ia masuk ke dalam mobil.
Tatapan Renggo mengikuti Olay hingga pintu kendaraan tertutup rapat. "Keluar juga..."
Mobil mereka meluncur membelah aspal Tangerang Selatan yang hanya diterangi lampu jalan yang berkedip sekarat.
Beberapa puluh meter di belakangnya, satu lampu motor menyala redup. Renggo menjaga jarak, beberapa kendaraan lain sesekali menjadi pembatas di antara dirinya dan mobil Olay.
Sedan berpindah jalur, Renggo ikut bergeser. Saat lampu rem kendaraan di depan menyala, ia memperlambat laju motornya.
Mobil berhenti di dekat rel Stasiun Sudimara. Renggo mematikan mesin motornya jauh sebelum mencapai lokasi, motornya meluncur pelan tanpa suara, berhenti di balik rimbun ilalang dan semak liar.
Ajat turun lebih dulu, memimpin jalan menyusuri jalan setapak yang ditumbuhi ilalang tinggi dan rimbun. Olay mengekor di belakang bersama pengawalnya.
Helm Rizal dilepas perlahan. Matanya menatap punggung Olay berjalan mengikuti Ajat memasuki jalan setapak yang gelap.
Sepatu bot Ajat berhenti di atas kerikil tajam. Ia merogoh saku jaketnya, menarik sebungkus rokok yang sudah kempes dan remuk. Dengan wajah datar,
"Duluan, Lay. Gua beli rokok dulu, rokok gua habis." Ajat menunjukkan bungkus kosong itu ke hadapan Olay. Matanya melirik ke arah warung remang-remang di kejauhan, jauh dari jalur setapak yang gelap.
Olay mengusap tengkuknya, menatap jalan setapak menuju gedung terbengkalai. "Oke, Bang. Jangan lama-lama." Olay dan empat pengawalnya meninggalkan Bang Ajat.
Ajat mengangguk singkat. Ia berdiri mematung, memperhatikan punggung Olay dan empat pengawalnya yang perlahan ditelan kegelapan ilalang tinggi.
Di seberang jalan, di dalam kabin mobil yang gelap, Gilang mengatur napasnya yang menderu pelan. Jemarinya mencengkeram grip pistol Glock yang tergeletak di samping jok. Matanya menatap spion dan kaca depan, memantau setiap pergerakan Ajat.
Tangannya baru saja menyentuh tuas pintu saat sekelebat bayangan memotong cahaya lampu jalan yang redup.
Seorang lelaki muncul dari kegelapan, bergerak gesit dengan hoodie hitam yang menelan tubuhnya. Cahaya merkuri dari tiang listrik di pinggir jalan menyinari sekilas punggung pria itu. Sebuah gambar tengkorak besar terpampang di sana.
KAMU SEDANG MEMBACA
TRILOGY SATU TITIK [COMPLETE]
AcciónTRILOGY SATU TITIK "Akan datang satu titik di mana keputusanmu yang akan menentukan jalan hidupmu. Titikmu dan titikku tidak akan pernah sama." BUKU 1 : SATU TITIK (PROLOG - BAB 40) BUKU 2 : SATU TITIK PERSIMPANGAN (BAB 41-86) BUKU 3 : SATU TITIK...
![TRILOGY SATU TITIK [COMPLETE]](https://img.wattpad.com/cover/220144956-64-k175150.jpg)