18. TRAUMA

5 1 0
                                        

Empat hari setelah peristiwa pemerkosaan Chacha.

Aroma kopi Arabika memenuhi ruangan Starbucks Jakarta Selatan. Di balik meja sudut, Gilang duduk dengan bahu merosot. Di depannya, segelas Americano menyisakan es batu di dasar gelas. Jari-jarinya memutar gelas itu perlahan, searah jarum jam, lalu berbalik. Matanya ke pintu masuk setiap kali ada bayangan yang lewat di balik kaca.

Ilham melangkah masuk. Jaket denimnya terbuka, menyembunyikan lencana kepolisian yang terselip di pinggang. Gilang menarik sudut bibirnya tipis. Rambut Ilham dipotong cepak sesuai regulasi, garis wajah mengeras, binar mata nakal saat mereka masih sering memanjat pagar sekolah dulu belum sepenuhnya hilang.

"Gimana kabar dia?" Ilham menarik kursi, duduk tepat di hadapan Gilang.

"Udah mendingan. Tapi matanya masih kosong, Ham." Suara Gilang tercekat. Ia menatap ke luar jendela.

"Gue turut sedih, Lang. Apa yang dialami Chacha itu berat. Kalau lo salah ngadepin dia, Chacha bisa bunuh diri," Ilham menyandarkan tangan di meja.

"Iya... Gue tahu. Recovery mentalnya butuh waktu. Abis dari sini kita jenguk Chacha dulu."

"Boleh, gue mau ngelihat kondisinya juga, siapa tahu gue bisa ikut menghibur dia, kan," Ilham menganggugk

Gilang menunduk sebentar. "Makasih, Ham. Lo jauh-jauh dari Bandung cuma buat ini."

"Chacha itu adik gue juga, dan lo saudara gue." Ilham memajukan duduknya, suaranya merendah. "Gue bakal bantu lo seret orang yang bikin dia kayak gitu,"

Gilang menegakkan punggung. "Soal bantuan yang lo bilang di telepon. Apa?"

"Waktu gue dengar pelakunya ketua Wild Liar, gue langsung ingat satu nama." Ilham menatap lurus ke mata Gilang. "Tapi, sebelum gue temuin lo sama dia, gue minta satu hal,"

"Apa?"

"Gua minta lo jamin keamanan dan keselamatan dia," kata Ilham.

"Oke. Selama dia kooperatif, gua pasang badan." Gilang mengangguk.

Ilham menarik napas panjang, jemarinya mengetuk meja. "Satu lagi. Ini berat, lo boleh nolak."

Gilang menyipitkan mata. "Ngomong aja."

"Hapus data kejahatan dia dari sistem. Dia masuk DPO karena dia yang bangun Wild Liar dari nol."

Gilang tersentak. Tangannya berhenti memutar gelas. "Ketua Wild Liar?"

"Mantan," ralat Ilham cepat.

Gilang terdiam cukup lama. "Gue nggak bisa janji soal hapus data, Ham. Itu pelanggaran berat. Tapi gue jamin dia aman di bawah kendali gue, asal dia bisa buktiin kalau dia beneran mau tobat dan ikut aturan main gua."

Ilham mengangguk pelan. "Besok datang ke kantor gue. Gue bakal kenalin lo sama dia. Dia punya warung rombong di pinggiran kota. Kita bahas detailnya di sana.

"Gilang menyambar kunci mobilnya di atas meja. "Oke, besok gua ke sana. Sekarang ikut gua dulu jengukin Chacha."

Langit Jakarta mulai menggelap ketika mobil Gilang memasuki pelataran Rumah Sakit. Lampu-lampu taman menyala satu persatu, memantulkan warna kekuningan di jalan setapak yang masih basah oleh sisa hujan sore.

Ilham memandang bangunan rumah sakit beberapa detik sebelum membuka pintu mobil. "Gue nggak nyangka bakal ketemu Chacha lagi dalam keadaan begini."

Mereka berjalan berdampingan melewati lorong yang dipenuhi bau antiseptik. Langkah Gilang terdengar berat, Ilham sesekali melirik ke arah Gilang.

Di depan pintu ruang rawat, dua anggota polisi berdiri memberi hormat. "Siap, Komandan."

Gilang mengangguk. Ia membuka pintu perlahan. Suara monitor detak jantung berbunyi pelan di sudut ruangan.

TRILOGY SATU TITIK [COMPLETE]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang