39. RIZAL DAN RENGGO

59 11 3
                                        

Sore turun pelan di Pasar Serpong. Bau ikan asin, sayur basah, dan asap gorengan bercampur di udara yang padat. Orang-orang lalu-lalang membawa kantong plastik, suara tawar-menawar saling tumpang tindih.

Di tengah lorong, seorang lelaki sempoyongan berhenti. Matanya merah, kemejanya terbuka setengah. Botol kosong masih tergenggam di tangannya.

"REMBO!" teriaknya, suaranya pecah.

Beberapa pedagang melirik sekilas, lalu kembali ke aktivitas masing-masing.

"REMBO! KELUAR LO!"

Ia berjalan tak lurus, menabrak bahu pembeli, menyenggol ember, lalu tertawa sendiri. Sampai kakinya menendang meja lapak sayur. Meja itu terbalik, tomat dan cabai berserakan ke lantai.

"GUA NYARI LO!" teriaknya lagi, kali ini sambil mengangkat botol dan melemparkannya ke arah tumpukan keranjang.

Botol pecah. Seorang ibu menjerit, beberapa pedagang saling pandang, lalu salah satu dari mereka menjauh meraih ponsel di laci meja dan menelpon seseorang.

Jon datang tidak lama setelah itu. Langkahnya tenang menembus kerumunan yang mulai memberi jalan. Dua orang di belakangnya mengikuti tanpa banyak bicara. Lelaki mabuk itu masih berdiri di tengah kekacauan kecil yang ia buat.

"Rembo!" teriaknya lagi.

Jon berhenti beberapa langkah di depannya. Matanya menyipit, mengenali wajah lelaki mabuk itu.

"Udah nggak ada Rembo di sini," ucap Jon, suaranya datar. "Pasar ini bukan punya dia lagi."

"Lo siapa?" Lelaki itu menoleh. Menatap Jon dari atas ke bawah.alu tertawa pendek.

Jon tidak menjawab. Hanya berdiri.

"Panggil dia!" bentak lelaki itu lagi, mendekat setengah langkah. "Gua mau beresin urusan!"

"Pulang aja." Jon menghela napas tipis. "Lu lagi nggak sadar." katanya pelan.

"Lu ngeremehin gua?" Wajah lelaki itu mengeras. Rahangnya mengatup.

Ia melangkah maju, mendorong bahu Jon. Jon menoleh sedikit ke samping. Dua orang di belakangnya bergerak.

Pukulan pertama mendarat di perut. Tubuh lelaki itu membungkuk. Belum sempat mengangkat kepala, tendangan menyapu kakinya dari samping. Ia jatuh keras ke lantai. Pukulan demi pukulan turun tanpa suara teriakan berlebihan. Terukur dan cepat, sampai tubuh itu tidak lagi bergerak.

Jon menatap lelaki mabuk itu beberapa detik. "Angkat."

Lampu bohlam gantung berayun sedikit. Cahaya kuningnya jatuh tepat ke tubuh yang terikat di kursi. Kepalanya tertunduk. Darah mengering di sudut bibirnya.

Pintu berderit, langkah sepatu Renggo masuk pelan. Jon berdiri sedikit di belakangnya.

"Yang tadi," kata Jon singkat.

Renggo memperhatikan bentuk tubuh itu, cara napasnya naik turun, lalu ia berjalan mendekat. Tangannya menarik kain yang menutup wajah lelaki itu.

"...Dia." Matanya berhenti di wajah itu. Napasnya tertahan

Tengah malam. Di dalam markas, botol anggur terbuka di atas meja. Renggo duduk bersandar, gelas di tangannya. Jon dan Baron di depannya.

Langkah cepat masuk dari pintu samping. "Bang, yang tadi udah sadar."

Renggo meletakkan gelasnya, ia berdiri. Jon dan Baron ikut bangkit, mengikuti dari belakang.

TRILOGY SATU TITIK [COMPLETE]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang