Ban mobil Chacha berhenti berputar, menyentuh jalanan tanah berbatu yang membelah lereng bukit di Sukabumi. Derit pelan rem mobil terdengar kontras dengan kesunyian yang tebal di sekelilingnya. Udara di sini tidak berbau asap knalpot; hanya aroma tanah basah dan pucuk teh yang terbawa angin sejuk.
Di hadapannya, deretan rumah panggung berdiri berjauhan. Chacha menarik ritsleting jaketnya hingga ke leher, matanya menyapu sekeliling dengan gerakan cepat.
Dari balik tikungan jalan setapak, muncul seorang lelaki paruh baya. Dia mengenakan kemeja polos yang dibalut sarung motif kotak-kotak dan peci hitam.
"Cari siapa, Neng? Kayaknya bukan orang sini," Tanya lelaki itu, Kang Taqim.
"Oh, iya Kang, maaf numpang tanya. Di sini bener kampungnya Ustad Dedi?" Sahut Chacha bertanya pada lelaki itu.
"Oh, iya, bener. Ustad Dedi Nurhadi, kan? Kalau bener Ustad Dedi Nurhadi, kebetulan saya mau ke pengajiannya. Kalau mau, bisa ikut saya ke sana," Jawab lelaki itu ramah.
"Iya, bener, Kang. Tapi saya lagi cari Rama, anaknya Ustad Dedi. Bener ya, Kang?"
"Kang Rama masih di rumah, Neng. Lagi beberes kayaknya. Mari, saya antar saja, cuma sepelemparan batu dari sini," ujar Kang Taqim ramah sembari memberi isyarat agar Chacha mengikutinya.
Mereka berjalan menyusuri jalan setapak. Langkah Chacha terhenti di depan sebuah rumah panggung yang asri. Pohon-pohon besar memayungi halaman, Di salah satu sudut halaman, sebuah kolam ikan dibangun begitu menyatu dengan alam, dikelilingi bebatuan sungai yang berlumut tipis. Sembilan ekor ikan Koi dengan corak warna merah dan emas yang kontras berenang dengan gerakan lambat, sangat tenang. Chacha berdiri kaku di depan pagar, tangannya mencengkeram tali tasnya.
Kang Taqim mengetuk pintu kayu. "Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam... Eh, Kang Taqim. Ada apa, Kang?" sahut Bu Hana, wanita berusia empat puluh tahunan, dari dalam rumah. Mata Bu Hana beralih ke Chacha.
"Ini, Teh, ada yang nyari Rama," jawab Kang Taqim.
"Oh, maaf siapa ya? Ada apa cari Rama?" tanya Bu Hana, alisnya bertaut.
"Saya dari Tangsel, Bu. Saya lagi cari seseorang, dan infonya Rama kenal dengan orang yang saya cari," jawab Chacha. Suaranya datar.
"Sebentar ya, saya telepon Rama dulu, soalnya dia lagi nggak di rumah. Ayo, masuk, Neng. Duduk dulu," Bu Hana mempersilakan Chacha masuk.
Lima belas menit berlalu. Chacha duduk di kursi kayu, matanya melirik ke arah pintu kayu yang tertutup. Jari-jarinya mengetuk-ngetuk cangkir teh hangat yang disuguhkan Bu Hana.
"Rama... dia satu-satunya harapan kakak saya untuk bertemu sahabat lamanya, Bu," ucap Chacha, menyesap teh hangat, membiarkan cairan panas itu melewati tenggorokannya yang kering.
Suara deru mesin motor berhenti tepat di depan halaman.
Seorang pria muda melangkah masuk. Dia mengenakan kemeja flanel. Begitu mata mereka bertemu, Chacha berdiri sentak, membuat kursi kayunya berderit keras di lantai papan.
"Kak Rama?!" seru Chacha.
Pria itu mematung di ambang pintu. Helm yang ia tenteng hampir saja terlepas. Pikirannya terlempar kembali ke koridor SMK Alvita Jaya bertahun-tahun lalu. Wajah siswi yang dulu sering ia lihat kini ada di ruang tamu ibunya di pelosok Sukabumi.
"Chacha? Kamu... kok bisa sampai ke sini?" tanya Rama, suaranya parau karena keterkejutan yang sama besarnya.
Chacha mengangguk pelan. Sudut bibirnya sempat terangkat membentuk senyum tipis. "Maaf datang tiba-tiba, Kak."
KAMU SEDANG MEMBACA
TRILOGY SATU TITIK [COMPLETE]
AksiTRILOGY SATU TITIK "Akan datang satu titik di mana keputusanmu yang akan menentukan jalan hidupmu. Titikmu dan titikku tidak akan pernah sama." BUKU 1 : SATU TITIK (PROLOG - BAB 40) BUKU 2 : SATU TITIK PERSIMPANGAN (BAB 41-86) BUKU 3 : SATU TITIK...
![TRILOGY SATU TITIK [COMPLETE]](https://img.wattpad.com/cover/220144956-64-k175150.jpg)