59. DILEMA

56 3 2
                                        

Di tempat berbeda, Gilang, Aura, Noval, dan Novi duduk mengelilingi meja sarapan. Aroma kopi dan gorengan memenuhi udara. Novi meletakkan piring, Aura menyeka tangan, Gilang tetap menatap kosong ke piringnya.

"Lagi liburan, jangan bawa kerjaan," Noval menyentuh gelas di depannya.

"Ah. Enak kok," sahut Gilang asal, mencongkel sayur di piring.

"Kita nggak bahas makanan, yang" potong Aura.

Gilang menarik napas panjang, tangan menggenggam rokok, abu jatuh ke piring. "Rizal sekarang Kepala Hydra Tangerang Raya. Code name Absinthe."

Noval menegakkan badan, "The Hydra? Rizal udah masuk level itu?"

Gilang mengangguk. "Delapan kepala. Setiap kali polisi nangkep satu, langsung diganti. Namanya tetap Absinthe, tapi orangnya berbeda. Lima tahun lalu Irish di Surabaya ketangkep, diganti. Tiga tahun lalu Vermouth di Semarang kena, bisnisnya malah makin gede. Kemarin, Absinthe lama, Niki Kanaya, ketangkep. Sekarang Rizal yang ngisi kursi panas itu."

Noval menunduk, menatap sendoknya. "Jadi Rizal cuma target operasi seumur hidup?"

Gilang membalik rokok di tangan. "Dan gue punya utang nyawa sama dia. Gue nggak tahu harus nangkep atau biarin dia lepas."

"Datengin dia sebagai teman, Lang. Bukan polisi," suara Noval rendah.

"Semoga gue bisa bawa dia balik," Gilang menutup mata sesaat, tangan masih di stir.

"Semoga," Noval mengangguk.

Mereka selesai beres-beres, masuk mobil. Gilang memacu Pajero Sport-nya membelah kemacetan Puncak yang mulai merayap naik menuju arah Jakarta. Di dalam mobil, obrolan ringan antara Aura dan Novi sesekali memecah ketegangan, namun Gilang tetap fokus pada jalanan yang berkelok, sesekali melirik jam digital di dasbor.

"Lang, cari tempat makan dulu yuk. Laper lagi nih, tadi sarapan cuma dikit," celetuk Noval sambil memegang perutnya.

"Boleh. Di depan ada rumah makan Padang yang parkirannya luas. Kita berhenti di sana bentar," jawab Gilang, mulai menyalakan lampu sein kiri saat melihat papan nama restoran besar di pinggir jalan.

Beberapa kilometer di depan, pick up dobel. kabin hitam melaju. Renggo menggeser pundak, tangan memijat tengkuk. Efek alkohol semalam dan pergulatan panas tadi pagi mulai membuatnya gerah. Aurell menempel di jendela.

"Gue laper," Aurell menyandarkan kepalanya di jendela. "Doclang tadi cuma lewat doang di tenggorokan."

"Iya, ini gue cari tempat. Tuh, di depan ada Padang Sederhana. Kita makan di sana aja," sahut Renggo.

Renggo membelokkan mobilnya masuk ke pelataran parkir yang cukup ramai. Ia memarkirkan mobilnya tepat di barisan depan, sejajar dengan deretan mobil pengunjung lainnya. Tanpa menunggu lama, keduanya turun.

"Tunggu sini. Gue ke toilet dulu, nggak tahan," Renggo menyerahkan kunci mobil ke Aurell.

Renggo berjalan setengah berlari menuju area toilet yang letaknya terpisah di samping gedung utama. Di saat yang sama, Pajero Sport milik Gilang baru saja memasuki area parkir, hanya terpaut beberapa baris dari posisi Fortunernya.

"Aura, Novi, kalian duluan aja pesen meja. Gua sama Noval mau ngerokok bentar di luar," ujar Gilang mematikan mesin.

Aura dan Novi turun lebih dulu. Sebelum masuk ke ruang makan, mereka berjalan menuju ke toilet untuk sekadar mencuci muka dan merapikan riasan.

Gilang masuk bersama Noval. Mereka melangkah mendekati duduk di barisan meja paling depan.

Noval menarik kursi. "Masih kepikiran Rizal?"

TRILOGY SATU TITIK [COMPLETE]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang