3. MAU SAMPAI KAPAN?

208 50 0
                                        

Bau solar yang pekat bercampur dengan aroma amis ikan busuk yang mengendap di genangan air dermaga. Kabut tipis menggantung di atas permukaan laut, hanya sesekali pecah oleh lampu sorot kapal nelayan yang bersandar.

Rizal, Noval, Riki, Gilang, Nadia, Novi, dan Chacha berdiri merapat di dekat pilar beton yang berlumut. Semuanya merapatkan jaket, tangan terbenam di saku. Angin laut subuh menyusup lewat celah jaket dan kerah kaos mereka, menembus pori-pori.

"Mana sih tour guide-nya? Katanya jam empat teng," gerutu Nova. Ia menghentakkan kakinya ke aspal dermaga yang kasar.

Gilang bersandar ke pilar, matanya menatap lurus ke arah langit subuh yang masih gelap. Chacha berdiri di sampingnya, kepalanya tenggelam di dalam hoodie kebesaran milik kakaknya. Sesekali Chacha merapatkan pelukannya ke lengan Gilang.

Di sudut lain, Bahu Nadia naik turun. "Dingin banget, Zal. Jakarta nggak pernah sedingin ini," bisiknya, suaranya bergetar di ujung.

Rizal hanya melirik sekilas dari sudut matanya. "Siapa suruh pakai kaos tipis begitu. Centil sih lo." Rizal menggeser posisi berdirinya mendekat ke depan Nadia.

"Nih, kalau berani macem-macem!" Nadia mengepalkan tangan ke arah Rizal, bibirnya menahan senyum tipis saat menyadari Rizal berdiri kaku di depannya, memblokir angin yang mengarah padanya.

"Berisik lo. Siapa juga yang mau sama lo. Gue cuma nggak mau repot kalau lo masuk angin di kapal." Rizal membuang muka ke arah tumpukan ban bekas di pinggir dermaga.

Tak lama, sosok kurus berjalan mendekat. Akew, sang pemandu, tiba tepat waktu. Setelah bicara sebentar dengan Gilang, Ia menarik napas pendek, lalu memberi isyarat ke arah kapal, termasuk menyelundupkan kardus minuman berlogo lelaki tua berjenggot putih ke dalam kapal kayu biru tua.

Dua jam berada di atas kapal kayu membuat kaki mereka masih bergoyang saat menginjak dermaga Pulau Tidung. Matahari pagi mulai muncul dari balik laut, menyinari air yang berubah hijau kebiruan. Udara asin bercampur aroma kayu basah jauh berbeda dengan Jakarta yang penuh asap knalpot.

"Buset..." Noval sambil meregangkan badan. "Baru kali ini gue ngerasa udara ada rasanya."

"Namanya juga laut, Goblok," sahut Riki.

"Emang udara bisa dimakan?"

"Bisa. Lo aja yang IQ jongkok."

"Ngomong lagi gue ceburin."

"Nih ceburin."

Riki membuka kedua tangan sambil mundur mendekati dermaga.

Noval langsung mengejar.

"WOY WOY WOY!" Akew mengangkat kedua tangan. "Jangan main-main di situ! Dalem!"

Noval dan Riki berhenti berlari.

Rizal menggeleng melihat tingkah mereka. "Nih dua orang kalau dikirim perang juga sempet-sempetnya berantem."

Di belakang mereka, Mata Chacha membesar, memandangi laut. "Kak..."

"Hm?"

"Lautnya gede banget."

Gilang tersenyum kecil. "Ini belum apa-apa."

Chacha menoleh ke arah Gilang. "Masa?"

"Nanti kalau udah naik kapal gede lagi, lautnya nggak kelihatan ujungnya."

Chacha menatap laut sekali lagi. "Wah..."

Hari pertama diisi dengan tawa yang jarang mereka miliki di Jakarta. Ban sepeda berderit di atas jembatan kayu yang menghubungkan Tidung Besar dan Tidung Kecil. Deburan ombak di bawah mereka terdengar jernih, tanpa gangguan suara knalpot atau teriakan makian dari sekolah lawan.

TRILOGY SATU TITIK [COMPLETE]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang