85. DARAH DAN API

3 0 0
                                        

Pukul 18:47. Uap tipis dari kopi single origin yang baru diseduh menguap di udara, beradu dengan aroma kayu dari furnitur minimalis. Riki duduk di sofa kulit, jemarinya melingkari cangkir keramik yang hangat.

Ponsel di atas meja kaca bergetar panjang.

Riki meletakkan cangkirnya. Layar ponsel menyala, menampilkan dua notifikasi gambar dari nomor tanpa identitas. Jari Riki menyentuh layar.

Dua foto terpampang di layar.

Foto Pertama. Nadia terikat di kursi kayu. Lakban perak menutup mulut dan cuping hidungnya, menyisakan mata yang merah dan bengkak. Kabel ties warna putih mencengkeram pergelangan tangannya hingga kulit di sekitarnya membiru dan menggembung. Lokasi. Gudang CV Tirtamas, Pasteur, Bandung.

Foto Kedua. Sisilia terduduk merosot di atas semen lembap yang berlumut. Wajahnya tidak lagi simetris, pipi kiri bengkak keunguan, sudut bibirnya pecah, menyisakan kerak darah kering. Di antara kedua kakinya yang tertekuk, sebuah testpack dengan dua garis merah terlihat jelas di bawah lampu neon yang redup. Matanya menatap lensa kamera tanpa fokus, pupilnya mengecil. Lokasi. Gudang Tua, Lembang.

Sebuah pesan teks muncul di bawahnya.

Pilih satu. Yang satunya kami bakar hidup-hidup malam ini juga. Lo punya waktu sampai tengah malam.

Jangan coba-coba bawa polisi. Kami tahu. Kami lihat.

Ponsel itu lolos dari genggaman Riki, menghantam lantai kayu. Riki menjambak rambutnya sendiri, napasnya keluar dalam tarikan yang pendek.

Dia menyambar ponselnya kembali, menekan nomor Gilang dengan jempol yang gemetar.

"Lang... gue butuh bantuan. Sekarang. Gue kirim foto. Ini bukan main-main, Lang!" Suara Riki pecah, serak seperti gesekan amplas pada besi.

Tiga detik hening dari ujung telepon. "Gue hubungi Ilham. Dia di Bandung. Gue koordinasi sekarang. Kita bagi dua tim," suara Gilang datar.

Riki tidak membalas. Ia mematung beberapa detik di depan layar ponselnya. Kedua foto itu kembali memenuhi pikirannya. Nadia. Sisilia. Dua nama yang selama ini justru menjadi alasan semua kekacauan hidupnya.

"Nggak..." bisiknya pelan.

Riki berbalik, melangkah cepat ke arah gudang. Pintu kaca ia dorong begitu keras hingga membentur dinding.

BRAK!

Ia membuka pintu gudang kecil, bau besi, oli, dan kayu lembap menyergap hidungnya. Di sudut ruangan, sebilah golok tebas bersarung kulit hitam tergantung di dinding.

Riki mencabutnya.

SREEK...

Suara gesekan baja keluar dari sarungnya terdengar panjang dan dingin. Mata pisau itu memantulkan cahaya lampu gudang.

Riki mengembuskkan napas panjang, lalu memasukkan golok itu kembali ke sarungnya.

"Jangan mati sebelum gue dateng..." Ia berlari kembali ke garasi.

Pintu bagasi Porsche Carrera terbuka otomatis. Riki meleparkan golok ke kursi penumpang hingga membentur dashboard.

DUK!

Riki membanting pintu mobil, lalu menekan tombol starter.

RAAANGG!

Raungan mesin flat-six memantul memenuhi seluruh basement sebelum Porsche hitam itu melesat keluar menuju jalan raya.

Riki menatap layar dashboard Porsche-nya yang menyala biru. Peta digital menunjukkan jarak Jakarta-Bandung. 140 KM. Estimasi waktu 4 jam 45 menit jika ia memacu mesin di batas maksimal.

TRILOGY SATU TITIK [COMPLETE]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang