Debu semen beterbangan setiap kali palu menghantam dinding bata tua. Gedung dua lantai di belakang gudang beras Pasar Serpong yang selama bertahun-tahun terbengkalai dipenuhi suara renovasi. Cat kusam dikerok habis. Jendela-jendela kayu yang lapuk dicabut dari engselnya.
Di halaman belakang, tumpukan besi hollow, keramik, dan papan gypsum berserakan menunggu giliran dipasang. Bunyi mesin bor bersahut-sahutan.
"Angkat dikit... dikit lagi!"
"Udah! Las!"
Cahaya las menyala sesaat, memantulkan kilau biru ke dinding yang masih setengah jadi.
Renggo berdiri di depan bangunan, kedua tangannya masuk ke saku jaket kulitnya. Rokok di bibirnya hampir habis.
Robi keluar dari dalam gedung, membawa gambar denah yang sudah penuh coretan. "Zal."
"Gimana?"
"Lantai dua tinggal ruang meeting sama ruang kerja lo."
Renggo menggeleng. "Ruang kerja gue kecilin."
Robi mengernyit.
"Loh?"
"Ruang meeting gedein."
"Kenapa?"
Renggo menghembuskan asap rokoknya perlahan. "Yang bikin gede Black Ribal bukan kursi gue."
Robi menatap lurus wajah Renggo.
"Tapi orang-orang yang duduk di depannya," lanjut Renggo.
Robi mengangguk pelan.
Di sisi lain bangunan, Sanyo mengawasi beberapa tukang memasang rolling door baru menuju gudang.
"Yang ini jangan diganti!" teriak Sanyo.
Seorang tukang menoleh. "Kenapa, Bang?"
"Pintu itu bekas truk Wild Liar nabrak." Sanyo tersenyum tipis. "Biar jadi pengingat."
Tak jauh dari sana, Jek dan Aban memindahkan meja kayu besar dari gudang menuju lantai dua.
"Anjing... berat amat."
"Mejanya apa dosanya?"
"Dosanya pernah dipakai rapat Olay."
Mereka tertawa kecil sambil terus mengangkat meja itu menaiki tangga.
Sementara itu, Aurell duduk santai di atas tumpukan semen.
Renggo menoleh ke arah Aurell. Aurell mendongak, tatapan mereka bertemu.
Aurell berjalan mendekat, berhenti di samping Renggo sambil memainkan Zippo peraknya. "Nggak nyangka," gumam Aurell. "Dulu markas kita cuma gudang bau beras."
Renggo mendengus. "Sekarang nambah gedung."
"Masih bau beras juga sih."
Renggo terkekeh pelan. "Biarin."
Aurell mengangkat kepala, memandangi gedung dua lantai yang masih dipenuhi suara palu dan mesin bor. "Lumayan juga ya... sekarang kita punya kantor."
"Bukan kantor," koreksi Renggo.
Aurell menoleh. "Terus?"
"Rumah."
"Bedanya?"
Renggo mengusap dagunya sebentar. "Kalau kantor, orang datang buat kerja."
Ia menatap lurus mata Aurell, lalu beralih ke gedung. "Kalau rumah... orang datang buat pulang."
Aurell tersenyum tipis. Jemarinya kembali memainkan Zippo.
Ponsel di saku jaket Renggo bergetar. Nama Brandy muncul di layar.
KAMU SEDANG MEMBACA
TRILOGY SATU TITIK [COMPLETE]
ActionTRILOGY SATU TITIK "Akan datang satu titik di mana keputusanmu yang akan menentukan jalan hidupmu. Titikmu dan titikku tidak akan pernah sama." BUKU 1 : SATU TITIK (PROLOG - BAB 40) BUKU 2 : SATU TITIK PERSIMPANGAN (BAB 41-86) BUKU 3 : SATU TITIK...
![TRILOGY SATU TITIK [COMPLETE]](https://img.wattpad.com/cover/220144956-64-k175150.jpg)