Jakarta, 12 Oktober 2008
Ponsel Nokia berpindah tangan di bawah meja kelas, layar hijaunya menampilkan kalimat yang sama seperti yang diterima sejak siang. Rizal mematikan layar Nokia itu sebelum guru yang masih menjelaskan di depan kelas sempat menoleh. Beberapa siswa saling bertukar pandang. Ada yang menyelipkan sabuk ke luar celana. Ada yang diam-diam memasukkan rantai motor ke dalam tas. Seorang siswa di pojok ruangan sudah melepas dasinya, melilitkannya di pergelangan tangan.
Rizal menopang dagunya dengan tangan kiri. Pandangannya keluar jendela kelas. Jalan raya di depan sekolah masih tampak biasa. Angkot ngetem, pedagang es lewat sambil membunyikan lonceng kecil, dan beberapa ibu berjalan menggandeng anaknya.
Ia menoleh ke belakang. "Jam empat. PGA."
***
Pukul empat sore, barisan putih abu-abu menutup dua lajur sekaligus. Tubuh-tubuh saling dorong, sabuk terangkat, kayu patah berayun tanpa arah. Seseorang jatuh, diseret bangun lagi sebelum sempat benar-benar menyentuh aspal. Para pedagang kaki lima segera menarik terpal. Penumpang angkot menutup kaca jendela rapat-rapat sambil membuang muka.
"Alvita maju lagi!" teraik Noval, suaranya serak. Ia memutar sabuk sekolahnya, gesper besi beradu dengan udara, menciptakan bunyi siulan pendek.
Di sampingnya, Riki sedang menyeimbangkan langkah di atas separator jalan. Matanya liar, mencari celah di antara kerumunan siswa berseragam pramuka dari Alvita Jaya yang mulai merangsek. Rizal menggenggam sebilah kayu patahan kursi, matanya terkunci pada satu titik di depan.
Debu beterbangan setiap kali puluhan sepatu menghantam aspal. Batu-batu kecil melenting ke bawah kolong mobil yang berhenti karena jalan sudah sepenuhnya dikuasai para pelajar.
Di kejauhan terdengar kaca pecah. Seorang anak berseragam putih abu-abu berlari sambil memegangi pelipis yang mengucurkan darah. Ia baru beberapa langkah sebelum kembali berbalik mengambil sabuknya yang terjatuh.
Wiuuuu-
Suara sirene memotong teriakan provokasi. Dari kejauhan, lampu rotator biru memantul di kaca-kaca gedung perkantoran. Barisan putih abu-abu buyar ke segala arah.
"Polisi! Cabut!"
Riki meloncat dari separator, mendarat tepat di samping Noval. Mereka bertiga berlari menyelinap di sela-sela mobil yang berhenti total.
"Berhenti! Berhenti kalian!" teriak seorang polisi, suaranya serak melawan deru panas.
"Tangkep kalau bisa, Pak!" tantang Rizal.
Ia menoleh ke kiri. Seorang tukang bakso sedang terpaku memegangi tiang gerobaknya, matanya nanar melihat keributan. Rizal tidak berhenti. Dengan satu gerakan sentak, ia merebut gagang gerobak itu.
"Pinjam, Pak!"
Gerobak didorong sekuat tenaga ke arah jalur motor yang sedang melaju kencang. Petugas trail itu mengerem mendadak. Ban depannya menghantam roda kayu gerobak. Bunyi dentang panci jatuh terdengar nyaring, disusul uap panas yang membubung saat kuah kaldu tumpah membasahi aspal dan sepatu boot petugas.
Rizal, Noval, dan Riki menghilang di balik gang sempit sebelum petugas itu sempat berdiri kembali.
Di dalam gang yang pengap oleh jemuran warga, ketiganya berhenti. Rizal menyandarkan punggung ke tembok yang lembap. Dadanya masih naik turun. Napasnya terasa panas di tenggorokan.
Dari mulut gang, suara peluit polisi masih terdengar bersahutan.
"Ke sana!"
"Masuk gang!"
"Lari!"
Beberapa detik mereka saling diam.
"Hampir aja... Untung ada tukang bakso tadi" Noval menyandarkan punggung ke tembok, setelah suaran sirene menjauh
KAMU SEDANG MEMBACA
TRILOGY SATU TITIK [COMPLETE]
ActionTRILOGY SATU TITIK "Akan datang satu titik di mana keputusanmu yang akan menentukan jalan hidupmu. Titikmu dan titikku tidak akan pernah sama." BUKU 1 : SATU TITIK (PROLOG - BAB 40) BUKU 2 : SATU TITIK PERSIMPANGAN (BAB 41-86) BUKU 3 : SATU TITIK...
![TRILOGY SATU TITIK [COMPLETE]](https://img.wattpad.com/cover/220144956-64-k175150.jpg)