22. PERANG KEDUA

4 0 0
                                        

Kabut subuh menggantung tebal di atas jalan lingkar Pondok Aren. Udara dingin bercampur embun basah menempel di dinding-dinding gudang. Di persimpangan jalan utama, dua jalur besar membelah wilayah itu menjadi dua bagian. Timur yang dikuasai gudang material dan pangkalan truk, Barat dipenuhi labirin pasar dan pertokoan rapat.

Di dalam gudang utama Black Ribal, peta Tangerang Selatan terbentang di kap mobil tua. Renggo berdiri membelakangi lampu neon yang berkedip. Jarinya yang kasar menunjuk dua lingkaran merah pudar di kawasan Pondok Aren.

"Olay ketakutan." Suara Renggo berat membelah hening subuh. "Dia narik hampir semua pasukan utamanya buat numpuk di markas tengah. Dia mikir kita nggak bakal ngelirik Pondok Aren karena posisi batasnya terlalu pinggir."

Renggo menatap Entus dan Jek bergantian. "Penjagaan di sana tipis." Ia meremas peta di titik Pondok Aren. "Cuma disisa-sisain pos bayangan sama kroco-kroco tua yang sibuk ngitung koin parkir. Serang sekarang. Sebelum Olay sadar celah mereka bolong."

Entus mengangguk. Jek tersenyum tipis, menyapu pisaunya ke telapak tangan yang terbungkus sarung kulit.

Suara besi beradu dengan semen menggema. Puluhan bilah golok diluncurkan dari karung terpal, dibagikan satu per satu ke tangan-tangan kekar yang sudah terbalut kain kassa hitam.

Entus berdiri di sisi kiri ruangan. Tubuhnya yang tinggi, besar dan tegap dilapisi jaket kulit tebal. Di depannya, dua puluh orang berdiri merapat tanpa suara.

Di sisi lain gudang, Jek berdiri di samping Sanyo. Jaket parasit merah cerah tampak kontras di tengah keremangan. Tangannya yang lentur merapikan lipatan kemejanya.

"Wilayah timur buat gue," kata Entus pendek, suaranya rendah seperti deru mesin tua.

Jek memutar lehernya pelan, terkekeh tipis dengan nada melengking. "Barat buat eyke ya, Cintaaah..."

Seorang anggota muda di barisan belakang menahan tawa, menyenggol siku temannya.

Gerakan tangan Jek terhenti. Ia menoleh pelan, tatapannya mendadak kosong. Matanya menusuk pemuda yang baru saja terkekeh.

"Yang ketawa..." bisik Jek datar, jemarinya memegang pangkal pisaunya. "...gue bacok duluan lehernya."

Pemuda itu menelan ludah, seluruh barisan membeku.

Entus menatap peta di atas kap mobil. "Hari ini jangan mikir pulang."

Jek tersenyum tipis, sudut matanya merapat tajam. "Kalau pulang... pastiin bawa wilayah."

Satu menit kemudian, raungan puluhan mesin motor memecah kesunyian subuh. Di persimpangan besar, konvoi besar itu terbelah dua. Deretan motor Entus meluncur kencang mengambil jalur kanan menuju kawasan pangkalan truk Timur, rombongan Jek dan Sanyo membelokkan kemudi menyusuri lorong-lorong padat jalur Barat.

Pos penjagaan Wild Liar di pangkalan truk Pondok Aren Timur masih diselimuti asap obat nyamuk bakar. Empat penjaga duduk berhimpit mengelilingi teko plastik, beberapa golok bersandar santai di tembok.

BRAAAAMMMM!!

Besi gerbang pendorong dihantam bagian depan motor matic berkecepatan tinggi. Engselnya terlepas, pintu besi itu roboh menimpa dua orang penjaga di balik pos.

Entus melompat dari atas motor yang masih bergerak. Golok di tangan kanannya berayun menyamping tanpa ragu.

SLAASSH!

Seorang anak buah Wild Liar yang baru berdiri tersungkur, memegangi dadanya yang terbelah.

Seorang lagi mencoba menghantamkan balok kayu ke kaki Entus. Entus tidak menghindar, balok kayu itu hancur menabrak paha tebalnya, tubuhnya hanya bergeser beberapa senti. Satu gerakan memutar, Entus mencengkeram leher pria itu, memutar tubuhnya, lalu menghempaskannya menghantam meja kayu.

TRILOGY SATU TITIK [COMPLETE]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang