Asap mesiu yang menggantung di bawah plafon mulai mendingin. Bau apek gabah tertutup aroma anyir, keluar dari cairan merah kental yang menggenang di sela-sela lantai. Lampu sorot kepolisian yang terpasang di atas truk taktis membedah kegelapan gudang, memancarkan cahaya putih keperakan yang statis.
Garis polisi berwarna kuning melintang kencang, membelah tumpukan karung beras yang penuh lubang peluru. Butiran beras putih dan narkoba berserakan di atas lantai, bercampur dengan selongsong peluru kuningan yang masih menyisakan panas tipis.
Gilang berdiri di tengah area terbuka. Jaket taktisnya sobek di bagian lengan kiri, balutan perban putih perlahan berubah warna menjadi merah di bagian tengah. Napasnya teratur namun berat, uap tipis keluar dari sela-sela masker hitam yang ia tarik ke bawah dagu.
Di radius lima meter dari posisinya, petugas forensik berpakaian putih steril bergerak tanpa suara. Cahaya blitz kamera menyambar bergantian, membekukan detail maut di atas sensor digital.
Dua belas kantong jenazah oranye berjajar lurus di dekat pintu keluar. Resletingnya tertutup rapat, menyembunyikan wajah anggota timnya yang beberapa jam lalu masih memeriksa magazin bersama Gilang. Di sisi seberang, jasad anggota Black Ribal dibiarkan terbuka. Sammy tergeletak dengan mata menatap plafon, Ambon tersungkur dengan tangan masih mencengkeram pecahan kaca, sementara Jek dan Bores berdampingan di dekat pilar beton dengan luka tembak yang merobek dada mereka.
Gilang menatap jajaran kantong oranye tanpa berkedip. Jari tangan kanannya meremas perlahan kain perban di lengan kirinya, menekan luka yang masih berdenyut. Ia menarik napas panjang, mengisi paru-parunya dengan udara yang jenuh aroma belerang dan debu semen.
Samar-samar, suara sirene ambulans yang menjauh mulai digantikan oleh deru mesin mobil tahanan di luar area gudang. Gilang memutar tubuhnya perlahan, memunggungi deretan mayat, lalu melangkah menuju pintu besi yang menuju ke sel sementara di belakang truk taktis.
"Jadi, ini si Renggo?"
Suara berat Pak Nano memecah kesunyian di tengah area steril. Sepatu bot kulitnya yang mengkilap menginjak genangan air sisa semprotan pemadam kebakaran, menciptakan riak kecil di permukaan yang berminyak. Pak Nano membungkuk, ujung jarinya menyibak sedikit kain putih yang menutupi sesosok mayat berambut gondrong di lantai.
Sebuah lubang hitam kecil bersarang tepat di tengah kening mayat itu. Sisa bubuk mesiu membentuk lingkaran abu-abu di sekitar luka tembak jarak dekat.
"Iya, Pak. Dia tewas di ruangan pribadinya," suara Gilang datar.
Pak Nano menegakkan punggung, melepaskan kain putih, kembali menutupi wajah kaku di bawahnya. "Harusnya kamu bisa nangkep dia hidup-hidup, Lang. Ini kasus besar. Kita butuh informasinya." Pak Nano mengembuskan napas panjang, bahunya naik-turun.
Gilang menoleh perlahan. Sudut matanya merah, urat-urat halus di bola matanya pecah membentuk jaringan kemerahan. Ia menatap lurus ke arah kancing seragam Pak Nano.
"Dia melawan saat saya coba tangkap, Pak. Dia menyerang saya. Terpaksa saya harus menembak dia. Dia nekat."
Pak Nano terdiam sejenak, memindai wajah Gilang. "Yah, setidaknya kamu bisa menumpas mereka. Operasi ini sukses memenggal empat Kepala Hydra dalam satu malam."
Pak Nano mengalihkan pandangannya ke arah pintu samping. Petugas menggiring Irish dan Vermouth dengan tangan terborgol ke belakang. Mayat Brandy baru saja dievakuasi dari ruang dokumen dalam kantong jenazah yang berbeda.
Pak Nano menepuk bahu Gilang. "Kamu pahlawan, Gilang. Pahlawan negara."
"Dibayar dua belas anggota saya, Pak," potong Gilang. Jakunnya bergerak naik-turun dengan cepat. "Ini bukan kemenangan."
KAMU SEDANG MEMBACA
TRILOGY SATU TITIK [COMPLETE]
AçãoTRILOGY SATU TITIK "Akan datang satu titik di mana keputusanmu yang akan menentukan jalan hidupmu. Titikmu dan titikku tidak akan pernah sama." BUKU 1 : SATU TITIK (PROLOG - BAB 40) BUKU 2 : SATU TITIK PERSIMPANGAN (BAB 41-86) BUKU 3 : SATU TITIK...
![TRILOGY SATU TITIK [COMPLETE]](https://img.wattpad.com/cover/220144956-64-k175150.jpg)