14. SATU : TIGA

102 17 2
                                        

Cahaya matahari menembus celah gorden yang tidak rapat, membentuk garis emas yang memotong karpet abu-abu kamar hotel. Riki masih di posisi yang sama sejak pukul tiga dini hari. Ia duduk di tepi ranjang, punggungnya melengkung, menatap botol whiskey kecil di nakas yang kini menyisakan cairan setinggi dua jari. Labelnya sudah terkelupas sedikit karena gesekan jemarinya semalaman.

Ia berdiri, bunyi krek tulang belakang terdengar saat ia memutar punggungnya, lalu melangkah ke kamar mandi. Kepalanya menunduk dibawah guyuran air dingin, matanya menatap aliran air berkumpul di bawah kakinya sebelum masuk ke lubang pembuangan.

Riki menarik jeans dari koper dan kaus polos hitam, lalu melangkah keluar. Ia menyambar kunci mobil, melewati lobi dengan langkah cepat tanpa menoleh ke arah restoran.

Perjalanan dari hotel menuju Jalan Citarum jauh lebih panjang dari biasanya. Lampu-lampu lalu lintas berganti hijau lalu merah. Radio mobil menyala pelan, lalu dimatikannya lagi. Tangannya tetap berada di kemudi.

Pukul dua kurang lima menit, mobilnya berhenti di depan Cafe Jordin.

Di sudut Cafe Jordin, Riki menatap dasar gelas kopi yang sudah menyisakan ampas kering. Ia mengetuk telunjuk ke meja kayu. Matanya sesekali melirik angka digital di layar ponsel yang menyala setiap kali ada notifikasi masuk, lalu beralih ke arah gerbang masuk cafe yang dipayungi pohon besar.

Riki mendengus, memasukkan ponsel ke saku jeans. Ia menarik kunci mobil dari meja, lalu berdiri hingga kursi kayunya berderit panjang.

Dari ujung trotoar, seorang perempuan berjalan ke arah Cafe. Dress pendek tanpa lengan berwarna biru langit bermotif bunga-bunga putih, dipadukan dengan jaket jeans sebagai outer dan sepatu Converse high 70's berwarna putih. Beberapa pria di meja depan menoleh, mata mereka mengikuti langkah kaki perempuan itu sampai ia melewati pintu masuk.

Matanya menatap lurus ke sudut cafe. Ia berjalan mendekat ke sudut, lalu menarik kursi kayu di depan Riki. Suara gesekan kaki kursi dengan lantai semen terdengar nyaring di tengah keheningan meja mereka.

"Udah lama?" sapa Sisilia. Ia meletakkan tas jinjingnya di atas meja, jemarinya merapikan helai rambut yang menempel di pipinya yang kemerahan.

"Masih dalam batas toleransi,. Riki kembali duduk.

"Kamu nggak berubah ya, nggak pernah bikin orang nunggu," balas Sisilia menatap mata Riki.

"Udah biasa." Tangan Riki terangkat, dua jarinya bergerak naik turun, memberi kode ke pelayan di dekat bar.

Sisilia tersenyum tipis mendengar Riki memasan teh hangat dengan sedikit gula.

"Kenapa senyum?" tanya Riki melihat Sisila tersenyum. "Jadi, kenapa kamu minta aku dateng kesini?"

"Nggak, aku cuma mau ngobrol." jawab Sisilia.

"Itu aja?" Riki bertanya tanpa nada.

"Aku mau minta maaf. Soal tiga tahun lalu. Soal kenapa aku hilang tanpa bilang apa-apa."

Riki mengangkat kepala. Matanya menyapu wajah Sisilia, lalu turun ke tangan wanita itu. "Kamu istri Richard sekarang. Partner bisnisku."

Sisilia terdiam sebentar, jemarinya bertaut di atas meja. "Dengar dulu, Riki."

Uap teh hangat naik perlahan di antara mereka. Suara anak-anak sekolah dari seberang jalan bercampur dengan bunyi sendok yang beradu dengan cangkir dari meja lain. Tatapan mata mereka bertemu, membawa kenangan tiga tahun lalu.

***

Gerobak angkringan bergoyang setiap kali bus kota lewat di depan showroom. Sisilia mengelap gelas plastik sementara Riki mengipasi sate usus.

"Kios di ujung jalan itu disewakan, babe. Kamu harus ambil," kata Sisilia, matanya berbinar terkena pantulan lampu jalan.

Riki ingat bagaimana mereka menghabiskan malam-malam di emperan toko setelah angkringan tutup, hanya untuk menggambar denah kafe masa depan di balik struk belanja yang kosong. Sisilia yang menyemangatinya saat cabang pertama hampir bangkrut. Riki yang memeluk Sisilia saat wanita itu menangis karena tugas akhir yang buntu. Sisilia yang memegang tangan Riki di depan pusara ibunya, berdiri berjam-jam tanpa mengeluh meski tanah makam masih basah.

Lalu, tiga hari yang senyap setelah satu tahun bersama. Riki sengaja tidak menghubungi Sisilia karena ia baru saja membayar uang muka untuk sebuah cincin emas putih kecil. Ia ingin memberikan kejutan di hari ulang tahun mereka.

Riki berdiri di depan gerbang kampus dengan buket bunga yang dibungkus kertas koran. Sisilia tidak keluar sampai satpam menggembok pagar. Ia pergi ke kos Sisilia, di kosannya, kamar nomor 12 itu sudah kosong melompong.

Hujan pertama setelah kemarau tiga bulan turun begitu deras hingga jarak pandang hanya satu meter. Riki berdiri di depan kos Diana sebelah kamar Sisilia.

"Sisil nggak ada, Rik. Dia udah seminggu nggak masuk. Semua barang di kosannya udah diangkut." Suara Diana tertutup suara air yang jatuh ke atap seng.

Riki mundur ke trotoar, ia berjalan di bawah hujan deras, sepatu boot-nya tergenang air. Ia merogoh saku, mengambil sebatang rokok. Tangannya gemetar hebat. Ia memantik korek berkali-kali. Angin dan sisa air hujan mematikan apinya sebelum sempat menyentuh ujung tembakau. Ia terus mencoba sampai jempolnya perih, berdiri sendirian di bawah guyuran air dengan kotak cincin yang mendadak terasa seberat beton di sakunya.

***

Bunyi klakson dari jalan raya menarik Riki kembali ke kursi kayu tempat ia duduk. Gelas teh di depan Sisilia masih mengepulkan uap tipis. Sisilia menarik napas panjang, matanya menatap ke arah SMP 44 di seberang jalan, tempat anak-anak sekolah mulai berhamburan keluar.

"Ayah panggil aku pulang hari itu juga. Di ruang tamu sudah ada Richard. Ayah bilang itu jaminan supaya keluarga kita nggak hancur. Bisnis Ayah di ambang pailit, dan Richard satu-satunya yang nawarin bantuan dengan syarat... pernikahan." Sisilia menunduk. "Aku nggak pernah membantah Ayah, Ki. Seumur hidupku."

Riki tertawa pendek. "Yang udah terjadi, ya terjadi. Kamu pilih jaminan hidup yang layak. Richard punya segalanya, aku cuma punya gerobak dan mimpi yang nggak jelas."

"Aku minta maaf, Riki. Benar-benar minta maaf."

"Aku sudah maafin. Lama." Riki meneguk air mineral yang baru diantar. "Tapi bukan berarti aku lupa."

Sisilia menggeser duduknya lebih dekat ke meja. "Kamu mau balik lagi sama aku?"

Riki tersedak. Ia menatap Sisilia. "Gila kamu. Kamu istri orang. Istri Richard. Aku nggak akan mengkhianati dia hanya karena masa lalu kita yang sudah jadi abu."

"Kasih aku waktu. Aku akan minta cerai."

"Kamu pikir segampang itu?"

"Susah, tapi bukan berarti nggak bisa." Suara Sisilia bergetar.

"Kenapa?" Riki memajukan tubuhnya. "Alasannya apa?

"Aku nggak pernah cinta sama dia, Riki. Aku cuma menghormati dia karena Ayah. Setahun lalu Ayah meninggal. Aku nggak punya alasan lagi buat pura-pura."

"Kenapa nggak setahun lalu?"

Sisilia menarik ujung lengan jaket jeans-nya perlahan ke atas. Memar kebiruan terlihat saat lipatan lengan jaketnya sampai ke siku.

Rahang Riki mengeras, napasnya mendadak pendek. Sisilia menggeser tangannya di atas meja, menyentuh punggung tangan Riki yang mengepal hingga buku-buku jarinya memutih.

Riki membiarkan jari Sisilia mengusap punggung tangannya, Ia menatap memar di lengan Sisilia, lalu beralih ke arah jalan raya tempat mobil-mobil mewah melintas.

***

TRILOGY SATU TITIK [COMPLETE]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang