Desember 2012
Cahaya matahari menyinari pasar Serpong. seorang pedagang menurunkan karung sayur, suara plastik beradu, motor lewat pelan di sela orang-orang yang berjalan. Bau sayur basah, sampah, dan asap knalpot bercampur di udara.
Rizal terbaring miring di emperan toko, lengannya tertekuk dibawah tindihan kepala. Pintu rolling toko di belakangnya bergetar saat ditarik dari dalam. Seorang pria kurus melangkah keluar, keningnya mengerut begitu melihat tubuh di depan tokonya.
"Bangun lu!" sentak Delon pemilik toko. Kakinya menghantam betis Rizal.
Tubuh Rizal tersentak, mata terbuka.
Pandangannya kosong beberapa detik, berusaha membedakan mimpi dan kenyataan. Punggungnya masih pegal akibat tidur di atas lantai semen semalaman. Embun pagi belum benar-benar hilang, ujung lengan jaketnya lembap.
Tangan Rizal menangkap kaki Delon, tubuhnya memutar lalu bangkit, mendorong bahunya mengenai dada Delon.
Delon mundur dua langkah, punggungnya menghantam rak. Botol-botol plastik bergetar, beberapa jatuh ke lantai.
"Anjing! "Maling! Maling!" teriak Delon, suaranya pecah di tengah pasar.
Beberapa kepala menoleh. Langkah kaki mendekat dari berbagai arah.
Pedagang yang sedang menata sayuran berhenti bekerja. Seorang ibu yang baru turun dari angkot buru-buru menarik anak kecilnya menjauh. Dalam hitungan detik, lorong pasar yang tadi sibuk berubah menjadi lingkaran manusia.
Rizal berdiri, tangannya terbuka di depan dada, telapak menghadap keluar.
"Gue bukan-"
Pukulan mendarat di pipinya, memotong ucapan Rizal. Satu tangan menarik bahunya. Yang lain mendorong dari belakang.
Rizal menahan satu pukulan, siku naik menutupi wajah. Tendangan datang dari samping mengenai pahanya.
Rizal mundur setengah langkah, punggungnya bersandar pada tembok toko. Tangannya masih terbuka, bergerak cepat menepis dan menahan.
"Udah, hajar!"
"Telanjangin!"
"Bakar!"
Teriakan dan pukulan datang dari berbagai arah. Satu ke pipi, satu lagi ke pelipis. Kepala Rizal terayun, lalu jatuh ke aspal. Debu menempel di kulitnya yang basah oleh keringat.
Tangannya mencengkeram tanah. Satu tendangan mendarat di rusuk. Tubuhnya tergeser sedikit. Tangannya terangkat jari-jari mengepal, lalu berhenti. Ia menarik napas pendek.
Langkah kaki mendekat dari belakang kerumunan. Bang Dedi, seorang pedagang tahu yang juga dikenal sebagai ustadz.
"Ada apa ini?" Suara Bang Dedi memotong riuh.
Beberapa orang menoleh. Keributan perlahan mengendur. Beberapa tangan yang semula masih mengepal mulai turun.
"Ini, Tadz... maling," sahut seseorang, menunjuk ke arah Rizal yang tergeletak.
Rizal mengangkat kepala sedikit. Bibirnya pecah, napasnya pendek. "Saya bukan maling, Pak..."
"Sebentar. Jangan pada main tangan." Bang Dedi maju beberapa langkah, berdiri di antara kerumunan. Matanya menyapu satu per satu wajah di sekeliling.
Beberapa orang mundur setengah langkah.
"Siapa yang kemalingan?"
"Dia, Tadz," satu orang menunjuk ke arah Delon.
KAMU SEDANG MEMBACA
TRILOGY SATU TITIK [COMPLETE]
AksiTRILOGY SATU TITIK "Akan datang satu titik di mana keputusanmu yang akan menentukan jalan hidupmu. Titikmu dan titikku tidak akan pernah sama." BUKU 1 : SATU TITIK (PROLOG - BAB 40) BUKU 2 : SATU TITIK PERSIMPANGAN (BAB 41-86) BUKU 3 : SATU TITIK...
![TRILOGY SATU TITIK [COMPLETE]](https://img.wattpad.com/cover/220144956-64-k175150.jpg)