41. PULANG?

35 2 0
                                        

Menjelang subuh, satu per satu mobil bak terbuka kembali ke markas Black Ribal. Tak ada sorak kemenangan. Yang turun hanya wajah-wajah letih, pakaian berlumur darah, dan beberapa tandu darurat berisi tubuh yang tak lagi bernapas. Entus dipulangkan dalam keadaan terbujur kaku. Baron masih belum ditemukan. Tak ada seorang pun yang tahu apakah ia gugur atau berhasil meloloskan diri.

Tidak ada rapat malam itu. Tidak ada pidato kemenangan. Botol-botol minuman keras dibuka tanpa bersulang. Mereka minum sampai matahari hampir terbit, mencoba melupakan wajah-wajah yang tidak ikut pulang.

Pagi hari di markas Black Ribal. Bau alkohol menyengat, menusuk hidung. Tubuh Renggo dan beberapa anak buahnya terhampar di lantai gudang. Botol-botol minuman keras kosong berserakan di sekitar. Malam tadi, Renggo menegak sisa botol di tangannya, berharap rasa terbakar di tenggorokan bisa menenggelamkan bayangan Rama dan janji-janji masa lalu yang terus menghantui setiap kali ia menutup mata.

Langkah pelan terdengar. Seorang wanita muncul, wajahnya penuh luka memar yang sudah mengering, lengan kiri terbalut perban. Matanya fokus menatap ke botol setengah penuh di lantai. Perlahan ia mengambilnya, jari-jari gemetar menahan ketegangan.

Renggo menoleh perlahan, kepala berdenyut. Matanya setengah terbuka, mengikuti gerakan wanita itu. Tangan menekuk di lantai, tubuh menahan diri saat berusaha duduk.

Wanita itu menunduk, meletakkan botol di meja kayu yang miring. Tangannya gemetar saat merapikan sisa botol lain. Mata mereka bertemu sesaat. Renggo menahan napas, jari-jari mencengkeram lantai, lutut menekuk sedikit.

Wanita itu melangkah mundur, menutup botol dengan kain, lalu menatap Renggo lagi. Sunyi di antara keduanya hanya dipecahkan oleh bunyi botol yang digenggam, detak jantung yang terasa cepat, dan denyut kepala yang berdentum di tengkorak Renggo.

"Aurell?!" seru Renggo, suaranya serak. Tubuhnya terguncang, membangunkan Jek dan Sanyo yang terkapar tak jauh.

Aurell menegak habis sisa minuman setengah botol. Botol kosong jatuh ke lantai.

"Lo pikir gue udah mati?" sahut Aurell, balik bertanya. "Mana lagi? Gue masih haus." Ia mengulurkan tangan.

"Nyo, ambilin!" perintah Renggo.

Aurell bicara tak beraturan, hampir menghabiskan dua botol sendirian. Suara ribut mereka membangunkan Robi dan Jon.

"Ke mana aja semalam?" tanya Renggo.

"Lo yang ke mana, anjing! Gue hampir ketangkap, tai!" Aurell menendang meja, botol bergetar. "Eh, gue bisa aja sih langsung pulang. Tapi kan polisi ikut ngejar gue. Kalau gue langsung pulang, polisi tau dong markas lo," sahut Aurell.

"Jaga mulut lo, Rell!" Robi bangkit.

"Bi! Dia lagi mabok, biarin aja," sahut Renggo, membela Aurell.

"Gue dibelain dong, hehe," Aurell terkekeh. "Eh, gue nggak mabok, yaa. Mana, gue mau nambah," ia mencoba meraih botol lagi.

"Nggak. Lo udah mabok," sahut Renggo.

"Kalian semua balik ke markas masing-masing. Bersihin wilayah," Renggo berteriak ke anak buahnya.

"Dia gimana, Bos?" tanya Aban.

"Dia ama gue sampe sadar," jawab Renggo.

Aban mengangguk, meninggalkan Aurell dan Renggo.

"Lo di sini, Bi. Wilayah Serpong lo pegang sekarang. Baron masih belum ada kabar," Renggo menoleh ke Robi. "Jon, lo balik ke Setu." Ia beralih ke Jon.

"Siap," sahut Robi dan Jon bersamaan.

"Lo mau bawa ke mana?" tanya Robi saat Renggo membopong Aurell yang tak sadarkan diri.

"Nggak mungkin dia tidur di sini, kan?" Renggo berjalan, menahan tubuh Aurell.

"Hati-hati, Zal," ucap Robi.

"Tenang aja," sahut Renggo, lalu membawa Aurell keluar dari gudang.

Pintu kaca hotel bergeser otomatis saat Renggo melangkah masuk, mendekap Aurell dengan leher terkulai ke bahunya. Manajer di balik meja resepsionis berdiri tegak. Pria itu membuka mulut, namun sedetik kemudian ia menunduk dalam, tangannya gemetar merapikan tumpukan kertas yang sudah rapi saat matanya beradu dengan logo tengkorak di hoodie Renggo. Tanpa kunci dan registrasi, Renggo terus melangkah menuju lift.

Di dalam kamar, derit pegas kasur terdengar saat Renggo merebahkan tubuh Aurell. Cahaya lampu nakas yang temaram menyinari noda tanah dan bercak darah yang mengering di kain baju Aurell. Renggo menghela napas panjang, jemarinya yang kasar bergerak kaku, mencoba membuka kancing baju wanita itu satu per satu.

Saat kain itu terlepas, menyisakan Aurell dalam balutan pakaian dalam, Renggo menelan ludah. Dadanya naik turun, Ia menatap telapak tangannya sendiri yang masih memiliki bekas luka, lalu menyentuh pundak Aurell yang halus. Kehangatan kulit itu terasa begitu asing di ujung jarinya.

Setelah mengganti pakaian Aurell dengan piyama hotel yang bersih, Renggo bergerak bangkit. Ia hendak menjauh dari tepi kasur, sebuah cengkeraman lemah mengunci pergelangan tangannya.

"Jangan tinggalin gue sendiri, temenin gue," desis Aurell. Matanya terbuka sedikit, tampak sayu dan berair.

Renggo merunduk hingga hidungnya bersentuhan dengan hidung Aurell. Aroma alkohol dari napas Aurell menyengat kulit wajahnya. Bibir mereka bertemu, tangan Renggo mencengkeram sprai putih di bawahnya hingga kain itu kusut dan tertarik kencang. Ia menekan tubuhnya lebih berat ke atas Aurell.

Di bawah cahaya lampu nakas yang masih menyala, piyama hotel yang tadi disiapkan kini tergeletak di lantai bersama tumpukan baju kotor. Selimut putih di atas kasur tersingkap ke ujung kaki, menampilkan punggung Renggo yang penuh guratan luka parut. Otot-otot lengannya menegang saat ia menumpu berat tubuhnya, sementara jemari Aurell mencengkeram bahunya hingga meninggalkan bekas merah.

Hening menyergap kamar hotel. Renggo meraih sebungkus rokok di meja nakas. Ia menyulut satu, mengisapnya dalam-dalam, lalu mengembuskan asap abu-abu ke langit-langit. Aroma tembakau mulai bercampur dengan bau keringat dan sisa alkohol yang menguap dari tubuh mereka. Di sampingnya, Aurell terlentang dengan dada yang naik-turun tak teratur, rambutnya yang berantakan menutupi sebagian wajahnya yang memerah

Aurell bergeser, menyandarkan kepalanya di lengan atas Renggo. Kulit mereka yang lengket bersentuhan. Renggo membiarkan abu rokoknya jatuh ke asbak kristal sambil menatap kosong ke arah tirai jendela yang tertutup rapat. Tidak ada percakapan. Hanya ada suara pendingin ruangan yang mendengung rendah dan sesekali isapan rokok Renggo yang terdengar jelas.

Tangan Aurell meraba bekas luka panjang di rusuk Renggo, menelusuri dengan ujung kuku.

Renggo menatap kepulan asap. Untuk sesaat, napasnya tertahan. Sentuhan itu tidak terasa seperti hasrat, lebih seperti mengingatkan sesuatu yang pernah ia kubur.

Asap rokok keluar lebih panjang dari sebelumnya. Renggo membiarkan tangan Aurell tetap di sana tanpa membalas.

Sementara di luar sana, dunia yang mereka tinggalkan sejenak mulai kembali berisik dengan suara klakson kendaraan dari kejauhan.

***

***

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
TRILOGY SATU TITIK [COMPLETE]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang