4. VALENTINE TERBURUK

175 48 0
                                        

Udara SMK Pelita Bangsa mendadak pengap oleh aroma mawar dan cokelat. Di pojok koridor, bisik-bisik rahasia dan bungkusan kado yang disembunyikan di balik punggung menjadi pemandangan wajib. Di kelas XI IPS 1, Nadia menarik sebuah kotak kecil dari kolong mejanya, lalu membukanya.

"Zal, lihat. Ada yang naruh cokelat lagi." Nadia menggoyangkan kotak itu di depan wajah Rizal.

Rizal tidak menoleh. Ia sibuk meruncingkan pensilnya, matanya lurus menatap serpihan kayu yang jatuh ke lantai. "Buang aja. Paling isinya obat mencret."

""Ih, sirik aja lo. Mau?" Nadia menyodorkan potongan cokelat ke depan hidung Rizal.

"Halah, sok mau ngasih lu," sahut Rizal, matanya melirik cokelat itu selama dua detik.

Rizal berdiri, menyambar tasnya, keluar kelas tanpa kata-kata, meninggalkan Nadia yang tertawa kecil.

Sementara itu, di ruang tengah rumah sederhana dekat pabrik tempe milik Haji Ridho, kipas angin tua berputar pelan, mengeluarkan bunyi berdecit di setiap putarannya. Bau rebusan kedelai dari belakang rumah masih memenuhi udara, bercampur aroma minyak kayu putih yang dioleskan berulang kali ke dada Noval.

Noval mengerang pelan. Tubuhnya menggigil di bawah selimut tebal, pelipisnya memerah karena demam tinggi. Sesekali ia membalik badan gelisah, bibirnya menggumam tidak jelas.

"Air..." lirihnya.

Novi mengambil gelas di atas meja kecil. Ia menyelipkan satu tangan ke belakang kepala Noval, mengangkatnya perlahan. "Pelan-pelan."

Noval meneguk dua teguk kecil, lalu kembali menjatuhkan kepalanya ke bantal. "Kepalanya muter..."

Novi memeras kembali handuk di dalam baskom. Airnya sudah mulai hangat. Ia berdiri, menggantinya dengan air sumur yang lebih dingin, lalu meletakkan handuk itu di dahi Noval.

Pintu kamar terbuka pelan. Haji Ridho berdiri di ambang pintu, membawa semangkuk bubur hangat. "Panasnya masih tinggi?"

Novi mengangguk pelan. "Belum turun, Pak."

Haji Ridho meletakkan mangkuk itu di atas meja. Tangannya menyentuh sebentar dahi Noval. "Ck..." Ia menarik napas pendek. "Kalau sampai siang belum turun juga, kita bawa ke puskesmas."

Noval membuka mata setengah. "Nggak usah..."

"Sok kuat."

"Bener, Pak..."

"Kemarin berani tawuran. Sekarang ngelawan demam aja kalah."

Sudut bibir Novi terangkat tipis.

Noval ikut menyeringai lemah. "Itu... beda, Pak."

Haji Ridho menggeleng kecil sambil menepuk pelan kaki Noval yang tertutup selimut. "Istirahat. Urusan jago-jagoan nanti aja."

Ia melangkah keluar kamar. Dari arah belakang rumah terdengar kembali suara mesin penggiling kedelai mulai menyala, disusul suara para pekerja yang saling memanggil. Rumah itu kembali tenang. Dengung kipas angin tua dan napas berat Noval memenuhi udara kamar.

Di ruang BEM Universitas, meja panjang dipenuhi tumpukan bingkisan Valentine. Kotak cokelat berbagai ukuran bertumpuk dengan bunga mawar yang mulai layu karena seharian dibiarkan di ruangan berpendingin mati. Kertas-kertas kecil berisi ucapan cinta berserakan di antara proposal kegiatan kampus yang belum sempat dirapikan.

Ilham duduk di atas meja paling ujung sambil membalik-balik proposal seminar. Sesekali ia melirik tumpukan hadiah itu lalu terkekeh sendiri.

"Gila... Fans lo malah nambah."

Gilang mendengus pelan. Tatapannya menyapu satu per satu nama yang tertulis di kartu ucapan.

"Nih." Ilham mengangkat sebuah boneka kecil berwarna merah muda. "Gue bawa pulang, ya?"

TRILOGY SATU TITIK [COMPLETE]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang