7. BLOK C

5 1 0
                                        

Rizal berdiri di depan meja kayu berlapis yang sudah melengkung. Sepatunya basah menginjak sisa genakan air hujan yang terbawa sepatu bot petugas. Di balik kaca ruang administrasi, buku besar dibuka oleh seorang petugas, ujung kertas menekuk di beberapa bagian.

"Nama?" tanya petugas itu tanpa menoleh.

"Rizal."

Ujung pulpen bergerak di atas kertas yang sudah menguning. "Buka sepatu."

Rizal melepas sepatunya, lalu meletakkan di atas meja. Petugas itu menekan solnya dengan ibu jari, memeriksa sela-sela jahitan.

"Isi," petugas di samping Risal melempar plastik bening ke depan dada Rizal.

Rizal memasukkan sepatu ke dalam plastik bening, jaket menyusul. Ikat pinggang ditarik keluar dari lubang celana dengan satu sentakan. Jam tangan dilepas. Ia mendorong buntalan plastik melalui lubang kecil di bawah kaca. Petugas menarik pelat staples, menekannya tiga kali hingga plastik itu tersegel rapat. Spidol permanen hitam mencoret nama Rizal di permukaan plastik.

"Ganti."

Satu setel pakaian drill berwarna kuning pudar dilemparkan. Kainnya kaku, berbau deterjen murah dan apek gudang. Rizal melepas kaosnya. Udara dingin koridor menyentuh kulit punggungnya. Ia memakai seragam itu; potongannya gombrang, lengannya menggantung di atas siku.

"742," ucap petugas itu. Jempol Rizal ditekan ke bantalan tinta, lalu ditekan ke atas kertas.

Petugas itu berdiri, mengambil serangkaian kunci besar yang tergantung di pinggangnya. Logam-logam itu berdenting, bertabrakan satu sama lain saat ia berjalan menuju lorong gelap di balik jeruji besi pertama.

"Jalan."

Lampu neon di langit-langit berkedip. Sol sepatu bot petugas menghantam lantai semen dengan irama yang statis. Rizal berjalan di belakangnya.

"Berhenti."

Petugas memasukkan kunci pintu besi nomor tiga belas, memutarnya dua kali ke kanan. Pintu berayun terbuka. Bau keringat manusia, pesing kakus, dan asap rokok murahan menyergap. La orang duduk di dalam ruangan tiga kali empat meter.

Rizal melangkah masuk. Pintu besi di belakangnya ditutup dengan satu sentakan keras. Bunyi benturan logam mengakhiri suara dari luar.

Langkah kaki petugas terdengar menjauh, menyisakan kesunyian di dalam sel. Di sudut sel, seorang pria berkaus dalam kuning menatapnya tanpa berkedip, mengikuti setiap gerak kaki Rizal sampai ia menemukan sisa ubin kosong di dekat bak mandi yang berlumut.

Lima pasang mata memandang ke arah Rizal dengan cara yang berbeda. Seorang pria kurus sedang menyusun kartu remi lusuh di atas lantai. Di ranjang paling atas, seorang bertubuh besar tetap berbaring sambil melipat kedua tangan di belakang kepala. Di dekat kakus, pria tua berkumis putih duduk memunggungi semua orang, sibuk menggosok gelas plastik.

"Kasus?" tanya pria di ranjang atas.

"Penganiayaan," Rizal duduk bersandar di ujung ruangan.

"Berapa tahun?"

"Lima."

Pria itu mengangguk pelan. "Bukan narkoba?"

"Bukan."

"Bukan pembunuhan?"

"Bukan."

Pria itu mengembuskan asap rokok ke langit-langit. "Masih bocah."

Mereka kembali pada aktivitas masing-masing.

Lampu sel dipadamkan tepat pukul sepuluh dengan satu sentakan sakelar dari luar. Suara napas berat mulai bersahutan, berubah menjadi dengkur yang tidak beraturan dari arah ranjang. Rizal berbaring di atas busa tipis. Bau keringat lama menguap dari bantalnya.

TRILOGY SATU TITIK [COMPLETE]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang