24. KEHANGATAN

7 1 1
                                        

Gerimis tipis menggantung di udara sore. Lampu-lampu ruko di pinggir jalan mulai menyala satu per satu, bayangan kuning pucat memanjang di atas aspal jalanan yang basah.

Noval berdiri di bawah naungan tenda kain penjual gorengan, mengusap bekas tetesan air di bahu jaketnya. Aroma minyak panas bercampur adonan tepung garing menyengat tajam.

"Biasanya dua, Bang?" tanya si penjual, tangannya cekatan membolak-balik pisang goreng di dalam wajan.

"Empat, Bang," sahut Noval pendek.

Penjual itu menoleh sambil terkekeh. "Lagi laper banget?"

Noval tersenyum tipis. Ia memasukkan kantong kertas berisi gorengan hangat ke dalam saku jaketnya, menjaga suhunya agar tidak cepat dingin.

Di seberang jalan, wanita bertubuh mungil melangkah keluar dari pintu kaca gedung perkantoran. Lanyard ID card bertuliskan nama Novi masih menggantung di lehernya. Langkahnya berat, bahunya melengkung lesu. Matanya menangkap sosok Noval yang berdiri menyandar di bawah tiang lampu, wajah lelahnya berganti dengan senyuman lebar.

Novi menyeberang jalan, merapatkan selendangnya. "Lo nunggu dari tadi?"

"Baru lima belas menit," kata Noval datar.

Ia tidak memberi tahu bahwa jam di ponselnya sudah menunjukkan durasi lima puluh dua menit sejak ia pertama kali menginjakkan kaki di trotoar itu.

Mereka duduk di bangku kayu panjang warung teh poci di pinggir jalan. Asap tipis membumbung dari dua gelas plastik di meja. Kantong kertas gorengan dibuka di tengah.

"Hari ini ada pelanggan yang marah-marah di meja front office." Novi mengunyah tahu isi pelan-pelan.

"Terus?"

"Gue senyumin." Novi tertawa kecil, melirik Noval. "Malah tambah marah dia. Katanya gue ngedoktrin dia pakai senyuman palsu."

Noval terkekeh. Tawa kecilnya mengalir memecah ketegangan.

Mereka melanjutkan perjalanan berjalan kaki menelusuri trotoar yang basah. Tangan Noval menggenggam jemari Novi.

Mereka berhenti di lampu merah persimpangan, pandangan Noval turun ke bawah. Ia menatap sepatu flatshoes hitam Novi. Serabut-serabut benang halus sudah terurai di bagian lipatannya, tali pengikat kecilnya hampir putus sepenuhnya. Noval memandangi sepatu itu beberapa detik.

"Kenapa?" tanya Novi, mendongak menyadari keheningan Noval.

Noval menatap lurus ke lampu lalu lintas yang berganti hijau. "Pengen cepat kaya."

Novi menyenggol lengan Noval dengan bahunya. "Gue enggak pernah nyuruh lo jadi orang kaya."

Noval mengetatkan genggaman tangannya. "Gue yang nyuruh diri gue sendiri."

Gerimis kembali turun lebih rapat. Mereka berlari kecil menepi ke bawah kanopi pertokoan. Di balik kaca etalase toko perhiasan yang masih terang, deretan cincin dan kalung berkilau memantulkan cahaya lampu.

 Di balik kaca etalase toko perhiasan yang masih terang, deretan cincin dan kalung berkilau memantulkan cahaya lampu

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
TRILOGY SATU TITIK [COMPLETE]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang