11. SATU TITIK

107 17 0
                                        


"Akan datang satu titik di mana keputusanmu yang akan menentukan jalan hidupmu. Titikmu dan titikku tidak akan pernah sama."

Juli 2015

Lampu neon di plafon ruang kerja Kanit Reskrim berkedip tidak stabil, suara dengung rendah beradu dengan detak jam dinding. Di atas meja kayu, aroma kopi dingin menguar bercampur bau kertas basah dan debu.

Gilang berdiri di depan papan investigasi. Ia menyapu wajahnya dengan telapak tangan. Di bawah lampu neon yang berkedip, bayangan kantung matanya terlihat makin legam. Ia mengembuskan napas panjang, melepaskan kepulan karbondioksida.

Matanya menatap lurus ke tiga foto bertulis nama Renggo, Olay dan Krugger. Tiga ketua gangter yang sudah ia kejar satu tahun belakangan. Di bawahnya benang merah saling terhubung satu sama lain. Foto-foto buram beberapa tempat prostitusi. Gudang terbengkalai yang diduga sebagai tempat transaksi narkoba dan beberapa pusat bisnis yang diduga menyewa jasa dari dua gangster di kota Tangerang Selatan.

Tangannya menelusuri setiap petunjuk, lalu berhenti di foto Renggo, Siluet pria yang selalu memakai masker atau tudung jaket dalam setiap rekaman CCTV, tiga anting kecil dan tatto tribal melingkar di lehernya.

Ketukan dua kali terdengar dari pintu ruangannya.

"Pak Gilang." Seorang bintara muda membuka pintu setengah badan. "Pak Nano udah kumpulin semua di ruang briefing."

Gilang mengangguk singkat. Ia meraih map perkara yang tergeletak di meja, mengambil beberapa foto hasil pengintaian, lalu mencabut dua lembar foto Olay dan Renggo dari papan investigasi, lalu berjalan keluar ruangan. Pintu ruangannya menutup pelan di belakangnya.

Koridor Reskrim masih dipenuhi lalu-lalang anggota yang membawa berkas perkara. Dari ruang tahanan di ujung lorong terdengar samar suara narapidana yang saling berteriak, bercampur bunyi mesin ketik tua dan dering telepon kantor yang tidak pernah benar-benar berhenti.

Gilang mendorong pintu ruang briefing. Lampu ruang rapat Reskrim dipadamkan sebagian. Proyektor tua memantulkan peta Tangerang Selatan ke layar putih. Beberapa penyidik duduk mengelilingi meja panjang. Gelas kopi, map perkara, dan bungkus rokok berserakan di antara mereka.

Pak Nano berdiri di ujung meja sambil melipat tangan. "Gilang, mulai."

Gilang bangkit. Ia mengambil pointer laser, lalu mengarahkannya ke peta. "Tiga bulan terakhir ada tiga puluh dua laporan pemalakan. Sebelas penganiayaan. Empat pembakaran lapak. Delapan bentrokan bersenjata."

Titik merah bermunculan di layar.

"Awalnya semua kejadian terkonsentrasi di perbatasan Jakarta. Sekarang udah nyebar sampai Serpong, Ciputat, Pondok Aren."

Pak Nano mengangguk pelan. "Kesimpulan?"

Gilang mengganti slide. Logo Wild Liar muncul di sisi kiri. Di sisi kanan, tulisan Black Ribal.

"Menurut informasi yang beredar di lapangan, Wild Liar mulai ekspansi dari Jakarta. Mereka narik upeti dari parkiran liar, proyek bangunan, gudang logistik, sampai tempat hiburan malam."

Slide berikutnya memperlihatkan foto-foto bentrokan.

"Preman-preman lokal mulai kehilangan wilayah. Akhirnya beberapa kelompok melebur jadi satu organisasi baru."

Laser merah berhenti tepat di tulisan BLACK RIBAL. 

"Mereka ngaku berdiri buat ngelawan ekspansi Wild Liar."

Seorang penyidik di ujung meja menyela. "Berarti perang rebutan wilayah biasa."

"Itu yang kelihatan di permukaan."

TRILOGY SATU TITIK [COMPLETE]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang