57. PENYERAHAN

62 4 1
                                        

Sore merayap di belakang gudang beras pasar Serpong. Aroma asap arang bercampur bumbu sate yang terbakar gurih mengudara, beradu dengan lengkingan musik dangdut dari dua unit speaker raksasa yang baru dipasang di sudut gudang. Puluhan anak buah Black Ribal sibuk memanjat tangga mengikat lampu hias, sementara yang lain menyusun peti-peti minuman keras di atas meja panjang.

Pintu kantor utama terbuka. Renggo melangkah keluar, memutar kunci mobil di sela jarinya.

Aurell duduk bersandarkan jok motornya.
Renggo menghentikan langkahnya tepat di depan roda depan motor Aurell.

"Jalan," kata Renggo pendek.

Aurell mendongak. "Ke mana?"

"Puncak."

"Ngapain?"

"Tahun baruan."

Aurell mendengus, sudut bibirnya terangkat malas. "Sama Brandy aja."

Renggo mobilnya menghentikan gerakan tangan di gagang pintu mobil, ia menoleh perlahan. "Hah?"

Aurell menatap lurus mata Renggo. "Bukannya sekarang kalian lagi akrab?"

Renggo menatap mata Aurell, ia tersenyum tipis. "Cemburu?"

Aurell mendelik. "Najis."

Renggo terkekeh. "Yaudah." Ia memutar tubuhnya, melangkah menuju pintu kantor. "Gue batal aja."

Baru dua langkah Renggo berbalik.

"Eh!" bentak Aurell kencang.

Renggo menoleh sedikit dari balik bahunya. "Motor gue gimana?"

Renggo memiringkan kepalanya, senyum tipisnya masih mengembang. "Ikut nggak?"

Aurell memejamkan mata sejenak, menghembuskan napas panjang. "Tai. Ayo."

Pick up dobel kabin hitam menderu membelah jalanan Serpong yang mulai padat, meluncur masuk menembus gerbang tol menuju arah selatan. Suasana di dalam kabin perlahan tenang saat deru perkotaan tertutup rapat oleh kaca kedap suara. Radio mobil memutarkan alunan lagu lama bernada rendah.

Selama belasan kilometer pertama, hanya ada keheningan di antara mereka.

Aurell menyandarkan kepalanya ke kaca jendela, memperhatikan deretan lampu jalanan yang berkelebat lewat bergantian. "Lo serius sama Brandy?" suaranya pelan memotong lagu di radio.

Renggo melirik sekilas, lalu kembali menatap aspal tol. "Apanya?"

"Hubungannya."

"Hubungan apaan?"

"Yang di gudang."

Renggo terkekeh tipis di balik kemudi. "Lo nguping?"

"Satu gudang dengar," cibir Aurell.

Renggo menggeleng pelan, menyalakan lampu sein untuk menyalip truk tangki. "Itu cuma Brandy."

Aurell melipat kedua tangannya di dada. "Cuma?"

"Dia partner," kata Renggo datar. "Kadang..."

TRILOGY SATU TITIK [COMPLETE]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang