Dua Belas?

146 15 1
                                    

Upacara kali ke-24 di kelas 11, tapi tidak jadi karena hujan.

Harusnya hari ini aku bisa berdiri lama di sebelahmu, tapi tidak apa lah. Toh akhirnya aku tak usah lama berdiri.

Harusnya hari ini upacara penutupan semester, atau apalah itu. Toh akhirnya akan ditunda dan menjadi upacara pembukaan semester.

Aku sedang senang sekali karena kemarin Faris datang ke rumah. Ia hanya memberikan kotak yang isinya kue, lalu pulang.

Ayahku sedang menonton TV saat pacarku datang ke rumah. Ia kaget tahu bahwa ada yang memberinya kado di umurnya yang ke-49 ini.

Aku tak usah memberitahumu obrolanku dengan Faris, ya. Aku tahu kau akan cemburu setengah mati lalu memutuskan untuk tidak mengembalikan bolpenku sama sekali. Atau apalah.

Tidak seperti saat kau memberitahuku obrolanmu dengan Thalia. Padahal kau tahu aku akan cemburu, kemudian membuat Rhesa mendekatimu seharian. Atau apalah.

Oya, aku tak suka ketika kau membentak cewek itu. Dia memang autis sih, tapi kan dia perempuan.

"Mai, gue gasuka lo deket-deket sama A'an. Ya emang dia aneh dan lo ga bakal mau sama dia, tapi kan tetep aja cowok," katamu setelah menyeretku ke koridor paling sepi di sekolah.

"Deket-deket paan sih? Gue ga deketin dia!"

"Dia yang deketin elo."

"Enggak lah!"

"Kalian contekan pas UAS," jelasmu. "Itu bentuk PDKT tau!"

"Plis," keluhku. "Kenal aja belom seminggu."

"Elo yang ga kenal dia! Dia mah kenal elo dari lama kali."

"Kenal dari mana?"

"Mana gue tau! Bisa aja ngestalk ig lo. Bisa aja tau lo anak OSIS."

"Dia baru ngajak kenalan waktu itu kok."

"Iiihh," kau merengek kesal yang aku belum pernah lihat seorang cowok melakukannya. Aku jadi gemas. "Lo ga percaya deh."

"Emang."

"Dia itu sering ngeliatin elo, Mai. Di kantin, pas pulang sekolah, sering."

"Hah? Serius?" Ini gila. Aku dibututi orang aneh. Aku mengerutkan alis. "Kok elo tau?"

"Ya..." kau menggosok-gosokkan telapak tanganmu. "Kan gue lagi di deket situ pas itu."

"Lo ngeliatin gue?"

"Yaiyalah!"

Mukaku memanas dan aku mengedip-ngedipkan mataku, entahlah mungkin untuk mengusir uap yang keluar dari kulitku. Atau aku hanya kaget saja karena jawabanmu.

"Gue takut," akuku.

"Napa?"

"Gue gamau dideketin sama orang aneh gitu, Van."

Kau tertawa, reflek merangkulku. Kita keluar dari koridor sempit itu dengan lenganmu melingkar erat di bahuku.

"Tenang. Kan ada aku."

Mungkin itu hari pertama kau mencoba berbicara denganku menggunakan aku-kamu.

"Terus kenapa?"

"Ya kan gue bakal jagain elo," jawabmu. Skakmat. "Karena gue bukan orang aneh, berarti lo gapapa kan kalo gue deketin elo?"

Dobel skakmat.

Aku melepaskan diri dari lenganmu (yang hangat dan sangat sangat aku rindukan sekarang) dan menjawab, "kapan-kapan ya."

Pintu KayuTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang