15

1.8K 97 0
                                        

Natha pun melajukan motornya ke arah rumahnya. Ia pun melewati rumah Dira. Entah kenapa tubuhnya pun refleks memberhentikan motornya di depan pager rumah Dira. Natha pun berhenti di depan pager minimalis hitam rumah bercat warna cream. Entah ia ingin sekali bertemu dengan Dira saat ini juga. Natha pun melemparkan kerikil kecil ke arah jendela kamarnya.

Suara lemparan batu perlahan-lahan membangunkan Dira dari mimpi indahnya. Dira pun bangun dari tidurnya dan duduk menatap kedepan sambil mengucek matanya. "Malem-malem siapa sih jail banget ganggu tidur" ujarnya sambil berjalan menuju jendela kaca kamarnya.

Tampak motor kawasaki merah terparkir di depan pagar rumahnya. Dira sangat mengenali motor tersebut. Ia pun membuka kaca jendelanya dan melihat sosok Natha sedang tersenyum menggoda kepadanya.

"Dir turun dong" ujarnya sambil memohon. Dira pun yang malas berdebat dan antara sadar tidak sadar keluar dari kamarnya dan menuruni tangga rumahnya. Pintu rumah Dira pun terbuka, Dira segera membuka pintu pagar rumahnya. Dira terkejut melihat penampilan Natha dengan baju san celananya sobek, dagunya berdarah dan beberapa lecet di tubuh tampannya.

Natha pun segera memeluk Dira tanpa izin dari pemilik tubuh tersebut. Natha pun menempelkan dagunya pada pundak Dira dan mempererat pelukannya. Dira pun masih terdiam tidak membalas pelukan Natha namun ia masih belum penuh sadar.

Tidak lama Natha pun melepas pelukannya. Kini ia merasa sedikit lega, entah iya pun tak mengerti dengan dirinya sendiri.

Dira menatap Natha dari ujung kaki hingga rambutnya. Natha terlihat sangat berantakan acak-acakan dan penuh luka lecet di tubuhnya. Sungguh ia tak tega melihat Natha.

"Nath, dagu lo berdarah, banyak lecet pula. Ayo masuk dulu harus segera di obatin nanti infeksi kalau kelamaan" Dira langsung menggandeng Natha membawa lelaki tersebut masuk kedalam rumahnya. Untung saja hanya ada dirinya dan mbak ijah di rumahnya.

Dira pun berjalan meninggalkan Natha  duduk sendiri di ruang tamu nya. Ia pun kembali keruang tamu dengan peralatan p3k di tangannya. Dira pun mulai membersihkan luka di tubuh Natha dengan perlahan dan hati-hati.

"Aaww"

"duhh sakit ya??" tanya nya.

"lebih sakit kalau di tolak lu Dir" balasnya dengan cengegesan.

"yeee dasar gelooo"

Dira pun lanjut membersihkan luka di dagu Natha. Kini jarak mereka kurang dari 15 cm, membuat aroma parfum strawberry Dira tercium oleh hidungnya. Ia sangat suka aroma parfum Dira. Natha terus memperhatikan Dira yang perhatian mengobati lukanya. Dira pun menyadari Natha yang terus menatapnya membuatnya risih.

"lu ngapain sih liatin gue kaya begitu?"

"lu bangun tidur aja masih cantik ya Dir" ujarnya. Natha masih terus

memperhatikan Dira.

Tidak bisa menahan Dirinya untuk tidak tersenyum, Dira memalingkan wajahnya ke arah samping. Kedua pipinya menggembul dan jantungnya berdebar-debar. Bahkan jika kejadian semacam ini terjadi jantungnya akan selalu berdebar-debar.

"yeee gombalan lo basi tau gak" sangkalnya.

" Nath lo abis tawuran ya?" tanya nya sambil terus mengobati luka Natha.

"hmmm... gak tawuran suwer ketewer-tewer" tangannya pun terangkat membentuk huruf V.

"terus kenapa bisa kaya gini, kecelakaan?"

" ya mungkin bisa dibilang gitu. Gue abis balapan Dir dan gue menang. YEAHHHH"

Dira pun menatap Natha, sejujurnya ia sangat khawatir mendengar berita tersebut. Untung saja hanya luka ringan, bagaimana kalau luka berat hingga Natha harus di bawa ke UGD. Seperti kejadian Natha dulu. Ya 3 bulan dekat bersama Natha, Natha sangat terbuka padanya. Natha menceritakan segala seluk-beluk kehidupannya, makanya ia sangat khawatir untung tuhan masih melindungi Natha.

"Nath, elo kan dah janji sama Dena kalau lo bakal berhenti balapan. Kenapa sih sayang sama diri sendiri aja susah banget, lihat noh!! untung aja luka lo gak parah" Dira langsung memalihkan pandangannya dari Natha, ia sangat kesal dengan lelaki tersebut.

Terukir senyum di wajah Natha, ia sangat bahagia melihat Dira yang sangat khawatir dengannya.

"gue gak papa kok Dir, liat nih I'm fine"

" liattt tubuh loo lecet dimana-mana, lo tuh kenapa sih gak sayang sama diri lo sendiri"

"karena udah ada lo yang sayang sama diri gue Dir" ujarnya dengan santai dan cengegesan.

DEG!!jantungnya seakan berhenti mendengar ucapakan yang terlontar barusan dari mulut Natha. Dira terdiam selama 1 menit tidak membalas perkataan Natha. Mulutnya dan tubuhnya terasa kaku. Tubuhnya serasa di sambar petir.

"gue juga gak akan balapan kalau bukan di tantang sama si pengecut Rama"

Lagi dan lagi tubuhnya seperti tersambar petir. Bagaimana bisa Natha mengenal Rama, begitu pula dengan Rama sejak kapan ia mengenal Natha. Ia baru saja masuk sekolah dua hari yang lalu dan Rama selalu berada di kelas duduk mengajaknya ngobrol dan ia acuhkan. Kini sosok menyebalkan Rama kembali, dan mengusik hidupnya.

Dira pun menengok ke arah Natha, ia memandang Natha yang kini sedang diam menunggunya berbicara.

"kenapa lo ladenin!!!!!"

"lagian kalau gue gak dateng gue bakal di kira pengecut dan dia bilang gue gak pantes buat lo, jadi gue kesel dan gue terima aja tantangannya"

  Diam lagi-lagi ia terdiam mendengar ucapan Natha, dirinya bertanya-tanya apa maksud di balik ucapannya tadi. Apa yang sebenernya ada di hati Natha, apa ia juga memiliki perasaan yang sama?? Namun di atu sisi ia kesal dengan Rama. kenapa Rama gak bisa berhenti mengganggu kehidupannya sedangkan keadaan sudah membaik sejak ia memutuskan pergi meninggalkannya.

"Dir emang kenapa lo bisa putus sama Rama sih?" kini ia sangat penasaran, ia sudah memendam rasa penasaran tersebut sejak ia melihat Dira menangis saat itu.

TET TERET TERETTTTT KONFLIK DEMI KONFLIK AKAN SEGERA MUNCULLLL BUNGG JADI JANGAN LUPAAA VOTEE YAA JANGAN MALAS VOTE CUKUP TEKEN BINTANG DOANG:( jangannn lupaaa comment yaaaaa!! Salam kiss kiss😘😘😘

Adira [ COMPLETED]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang