Dear femiant , gw ini kakak paling baik. Gw tau elu pasti gabut soal sidang besok. So, daripada gabut smp gabisa tidur, baca ini aja...
---
"Kau bilang sebentar lagi sampai, Val... kau bohong!!!" Nora merengek, ia menghentakkan kakinya dengan kesal, lalu duduk di atas batang kayu dari pohon yang telah roboh yang ada di pinggir jalan setapak.
"Sebentar lagi Nou. Aku nggak bohong." Val berlutut di hadapan Nora, memegang lututnya dan menatapnya dengan penuh kesungguhan.
"Ya, sebentar lagi Nou." ujar Al yang berjalan melewati mereka setelah memperbaiki letak ransel di punggungnya. "Kau bisa dengan suara airnya kan?"
Nora menengadahkan kepalanya demi mendengar sekitarnya lebih jelas lagi, dan memang benar ia bisa mendengar suara air di kejauhan diantara bunyi serangga yang ada di sekitar mereka. Tapi suara air itu masih terdengar samar, Nora berpikir pasti masih jauh sekali dari posisi mereka saat ini.
"Ayo, Nou. Kalau nggak cepat nanti kita bisa kesorean sampai Villa lagi." Val bangkit berdiri, menarik tangan Nora agar ia ikut berdiri bersamanya. Tapi Nora tetap bergeming di tempat.
"Aku rasa aku nggak bakal bisa bertahan lagi Val. Kakiku rasanya seperti mau patah." Nora masih merengek sambil memijat kakinya sendiri dengan perlahan.
"Lihat, Al, Reyansh dan Maya bahkan sudah duluan. Kita akan kehilangan jejak mereka." Val terdengar cemas, tapi Nora tahu itu hanya trik dari Val untuk menakut-nakutinya saja. Nora tahu Val sebenarnya tahu jalan menuju tempat yang akan mereka tuju ini.
Tempat ini hanyalah hulu sungai tempat mata air bermula. Tempatnya tidak terlalu jauh dari Villa, dan jalanan yang harus mereka lewati juga hanya merupakan jalan setapak kecil jadi Val dan yang lain biasa berjalan kaki menuju tempat itu.
Tapi tampaknya Nora tak terbiasa berjalan jauh. Baru setengah jalan pun dia sudah menyerah. Dan melihat bagaimana menggemaskannya ia saat merajuk membuat sesuatu di lubuk hati Val terasa hangat. Ya Tuhan, betapa ia mencintai gadis ini.
Val tersenyum kecil dan kembali jongkok di depan Nora, ia menepuk pelan lutut Nora, "Ayolah Nou..." bujuk Val sekali lagi.
"Gendong." Nora merentangkan kedua tangannya, wajahnya terlihat memelas dengan bibir gemetar dan mata yang berkaca-kaca. "Ayooo, putar balik dan gendong akuuu." Nora menggunakan telunjuknya, mengisyaratkan Val untuk memutar tubuhnya.
Val hanya terkekeh dan memutar tubuhnya, Nora segera saja naik ke punggungnya, mengaitkan lengan di sekeliling leher Val dan melingkarkan kakinya di pinggang Val. Val tertegun sesaat sebelum mengelus lengan Nora dan memberinya kecupan singkat di sana.
"Oke, pegangan anak monyet pemalas..." dengan itu Val bangkit dengan Nora di punggungnya. Val menggunakan kedua tangannya untuk menahan Nora tetap di tempatnya dengan meletakka keduanya di bagian belakang paha Nora.
Kulit Nora yang halus dan sedikit lembab terasa di kedua telapak tangannya. Dengan Nora yang hanya memakai celana pendek, itu sama sekali tidak membantu dan membuat segalanya makin buruk. Val harus menahan dirinya sekuat tenaga agar tidak membiarkan tangannya melupakan tugasnya untuk menyangga Nora alih-alih menyusuri paha Nora yang halus.
"Nah kan Val, apa kubilang? Aku sudah menduganya kalau perjalanan kita masih jauh." Nora mulai mengoceh. "Lihat, sudah berapa lama kita berjalan? Dan kenyataannya hulu sungai yang kau bicarakan belum juga --Oh!!! Lihat Val!!! Itu sungainya!!"
Nora memekik dan menunjuk sungai kecil yang dilindungi bebatuan dimana Reyansh, Al, dan Maya duduk dan mulai membongkar barang bawaan mereka.
"Nou, telingaku sakit. Tolong jangan berteriak di dekat telingaku." ujar Val kesal, sekarang telinganya berdenging akibat teriakan dari Nora.
KAMU SEDANG MEMBACA
VALERIE
Aktuelle LiteraturNora : "Kepenak rak kepenak Darling, mati urip barengan selawase." (Enak nggak enak Darling, hidup mati bersama selamanya) Val : "Opo tenan mati urip karo aku..?" (Beneran hidup mati sama aku?) Nora : "Wani sumpah seksine langit bumi." (Berani sumpa...
