Would You Still Love Me The Same?

4.8K 409 15
                                        

Aku dah bilang ga akan buat kamu ngerasa dikacangin kan...

jadi kuupdate ini buat kamu. hehe

And rasanya kok udah lama banget aku ga liat bintangmu bersinar disekitarku ya... (itu artinya sindiran buat kamu, Rangga..)

Okay, happy reading all

---

"Val, kau yakin?" tanya Nora untuk yang ke sekian kalinya tak bisa lagi menyembunyikan kecemasannya.

"Iya bawel." jawab Val tanpa mengalihkan pandangan dari jalanan di hadapannya.

"Val, aku tak mau kau pulang tinggal nama saja."

"Tak akan terjadi." Val masih menjawab dengan entengnya.

"Bagaimana kalau ini tak pernah berhasil? Bagaimana kalau semuanya memburuk? Bagaimana kalau ayah kehilangan kendali, Benz bisa saja berakhir tanpa pernah lagi merasakan pemiliknya mengendarainya. Terus, dia akan terparkir di depan rumahku, dan akan menimbulkan kecurigaan. Val ini bisa saja berakhir jadi berita nasional." Nora terus saja mengoceh tanpa henti, tangannya bergerak ke sana kemari dengan ganas. "dan, mengingat jaringan bisnismu yang sudah merambah pasar Internasional, FBI, CIA, dan umm... SWAT, umm... Interpol, umm..."

"Kau melupakan MI7. Karena ayahmu berkerja sebagai guru di sekolah milik yayasan." lanjut Val sambil lalu.

"Val!! Aku serius! Aku tak ingin jadi buronan, aku tak ingin dibunuh oleh Al, dibangkitkan kembali dari kematian oleh Reyansh untuk kemudian dibunuh lagi oleh Maya. Aku terlalu muda dan terlalu imut untuk mengalami itu semua.." Nora mulai merengek, dengan muka horor dan mata melotot ke arah Val, tapi yang dipelototi hanya mengangkat bahu, tanpa sekalipun melirik ke arah penumpang histeris di sebelahnya.

"Aku yakin hal ini tak akan lebih buruk dari kekesalan paman Anthony ataupun kemarahan Maya." Val mengangkat bahunya, masih tak acuh. "Kau harus lihat sendiri bagaimana jika paman Anthony kesal. Lagipula, harusnya kau senang. Karena MI7 akan menemuimu, bisa saja mereka menugaskan Mr. James Bond 007-"

"VALERIE!!!" jerit Nora frustasi. "Seriuslah sedikit apa susahnya sih?"

"Oke, oke. Mau ketemu calon ayah mertua. Jadi harus serius. Oke." Val berdehem dan menegakkan tubuhnya. Ia mulai bergumam tentang seharusnya mereka mampir untuk membeli sesuatu untuk diberikan pada calon ayah mertua dan sesekali mengangguk-angguk serius.

Nora memijat batang hidungnya dan menatap langit-langit Benz Val. Dosa apa dia sampai bisa berakhir jatuh cinta dengan manusia macam Valerie. Entah mengapa Val selalu melakukan sesuatu hal yang harusnya tak dilakukannya di saat itu. Seperti saat ini, yang harusnya mereka bicara serius, tapi Val malah terkesan seperti sedang bercanda.

Kenapa dialog absurd ini bisa berlangsung? Well, tadi saat pulang sekolah Nora terlanjur janji dengan ayahnya bahwa ia akan ikut rapat OSIS dulu, jadi ayahnya pulang terlebih dahulu. Sialnya, tenyata si ketua OSIS itu membatalkan rapat untuk membahas Pentas Seni akhir semester secara sepihak dengan alasan masih banyak waktu sebelum ujian akhir semester yang sebenarnya hanya kurang dari sebulan lagi dan 'kebetulan' ia ada kencan dengan pacarnya.

Jadi Nora berakhir dengan duduk di halte bus depan sekolah, menanti bus yang kalau jam segini pasti jarang banget. Yah, mungkin Tuhan memang sayang banget sama Nora, tak berapa lama kemudian Benz putih Val berhenti di hadapannya.

"Masuk!!" teriak Val dari kursi kemudi. Daripada menunggu bus yang mungkin saja saat gelap baru bisa ia dapatkan, ia memilih menuruti Val dan duduk di kursi penumpang Benz Val. "Sedang apa kau di sana?" tanya Val dengan nada tak setuju.

"Menunggu bus." Nora menjelaskan apa yang terjadi, jadi Val membuat panggilan pada Tina untuk membatalkan kegiatan kantornya sore itu, dan akan mengantar Nora pulang. Dan...disinilah ia. Duduk disamping pacar hiperaktifnya yang masih saja menggumamkan tentang bertemu dengan calon ayah mertua.

VALERIETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang