Aku terbangun dengan terengah kehabisan nafas. Perlu beberapa detik bagiku menyadari kalau bantal yang harusnya kuletakkan dibawah kepalaku, justru malah menutupi wajahku. Pantas saja gelap dan terasa sesak saat aku bernafas.
Kubalikkan tubuhku menghadap ke arah lain, dan aku segera menyesalinya karena sinar matahari menghujaniku telak dengan sinarnya yang cemerlang dan hangat. Memangnya sekarang jam berapa?
Kulirik jam di nakas, sudah hampir waktunya makan siang. Entah sudah berapa lama aku seperti ini. Maksudku, dulu aku selalu bangun pagi, bahkan jauh sebelum matahari terbit hanya untuk melihatnya naik ke cakrawala. Sekarang, bahkan lama setelah matahari naik dan seluruh embun sudah menguap, aku baru bangun.
Aku menghela nafas dan bangkit. Kulihat sisi tempat tidur disampingku yang rapi.
Aku meraba permukaannya, berharap menemukan jejak kehangatan disana, tapi nihil. Tempat tidur itu terasa dingin di telapak tanganku. Kuhela nafasku sekali lagi dan bangkit dari tempat tidurku.
Aku berjalan menuju kamar mandi, menyikat gigiku, dan mencuci muka dengan mode semi otomatis —aku menyadari masih ada sisa pasta gigi di ujung bibirku dan mengusapnya bersih sebelum meninggalkan kamar mandi.
Aku berjalan menuruni tangga, menajamkan pendengaranku, bersiap menangkap bunyi sekecil apapun dari sudut terjauh rumah. Tapi hanya sunyi dan dengung dari kipas angin di langit-langit ruangan yang bisa tertangkap di telingaku.
Kuambil teko kopi dan mengisinya dengan air, kuletakkan di atas pemanas dan menyalakannya sebelum menambahkan beberapa sendok bubuk kopi di dalam cup dengan penyaringnya.
Kuambil dua butir telur dan sebotol susu dari dalam lemari pendingin untuk membuat scrambled egg. Menuangkan telur yang masih mengepul ke atas piring, dan meletakkan panci penggorengan kotor ke bak cuci piring sebelum mengembalikan botol susu ke dalam lemari pendingin.
Kuambil obat-obatanku, dan menelannya sekaligus dengan bantuan segelas air. Kusuap sarapanku pelan dan sekali lagi kuedarkan pandanganku ke seluruh penjuru rumah yang sepi. Lantai dan perabotnya terlihat mengkilap, bukti kalau ternyata uang yang kubayarkan tak terbuang sia-sia.
Aku menuangkan secangkir kopi saat ia sudah siap dan membawanya ke patio, menyambar macbookku dalam perjalanan kesana. Aku duduk di kursi santai dan memutuskan akan bekerja dari rumah saja karena toh ini bukan jadwalku untuk berangkat ke kantor.
Aku begitu tenggelam dalam pekerjaanku hingga kali selanjutnya saat aku menyadarinya, hari sudah gelap. Kukemas macbook dan kertas serta alat tulis yang berserakan ke dalam rumah. Kucuci teko kopi, piring bekas sarapanku, panci penggorengan dan cangkir bekas kopiku sebelum mengelap kering wastafel. Kupastikan kembali seluruh pintu rumah sudah tertutup dan terkunci rapat sebelum kembali ke kamarku.
Aku mandi, masih dalam mode gerakan semi otomatis seperti tadi pagi. Hanya gerakan sistematis seperti yang seharusnya. Kuoleskan krim pelembap ke wajahku, dan lotion ke seluruh tubuhku sebelum merangkak menaiki tempat tidur.
Aku tidur di sisi tempat tidurku yang biasa. Berantakan, dan penuh dengan tumpukan bantal. Aku berbaring, menata rambutku yang masih agak lembab menyebar ke sekeliling kepalaku, dan merapatkan selimut tebal menutupi tubuhku hingga ke dagu.
Kutarik seluruh bantal yang mengelilingiku agar semakin merapat ke tubuhku, melindungiku dalam kepompong pelindung yang hangat dan lembut.
Aku menoleh ke sisi kanan ranjangku, yang masih saja rapi. Kuulurkan tanganku dan meraba permukaan ranjang yang halus.
Dan juga dingin.
Kumiringkan tubuhku menghadap ke sisi ranjang kosong itu, dan aku meringkuk dalam bola janin, membiarkan kesunyian menimangku hingga aku jatuh tertidur.
KAMU SEDANG MEMBACA
VALERIE
Fiksi UmumNora : "Kepenak rak kepenak Darling, mati urip barengan selawase." (Enak nggak enak Darling, hidup mati bersama selamanya) Val : "Opo tenan mati urip karo aku..?" (Beneran hidup mati sama aku?) Nora : "Wani sumpah seksine langit bumi." (Berani sumpa...
