Seorang gadis cantik dengan rambut sewarna musim semi keluar dari Bugatti Veyron putih. Dari kegelapan tempat parkir di pinggir jalan itu, samar bisa terlihat kerlip warna cat fluorescent yang ditambahkan pada body mobil itu, hingga seakan ada kepingan salju, kelopak sakura, dan daun maple yang menyelimuti tubuh mobil itu dengan begitu indah.
Gadis itu berjalan pelan mengitari mobilnya, dan menyeberangi jalan. Stiletto nya mengetuk-ngetuk beton jalanan. Tubuhnya yang ramping berselimut skinny jeans dan blouse berwarna pucat, setelan yang terlihat biasa saja , tampak begitu indah dan mewah saat dipakai gadis itu. Hingga orang percaya, walaupun ia mengenakan karung goni sekalipun ia akan tetap terlihat cantik.
Gadis itu tiba di sebuah pintu yang dijaga oleh seorang bouncer berwajah seram dan bertubuh kekar dengan tato yang menyelimuti seluruh lengannya. Orang itu membukakan tali pembatas untuk gadis itu dan mengangguk sopan, begitu pula dengan orang-orang yang mengantre di sisi lain jalan. Gadis itu mengangguk singkat, hampir tak kentara dan memasuki bangunan itu.
Hingar-bingar musik dan kerlipan lampu langsung menyambutnya begitu ia memasuki bangunan itu. Ia membuka kacamata hitam yang dipakainya dan memasukkannya ke dalam pouch kecil sewarna malam yang dibawanya). Rambutnya yang panjang, bergelombang dan berwarna-warni tertutup beanie hitam di puncak kepalanya. Ia membenahi tali pouch kecil yang ada di bahunya dan berjalan lurus menembus kerumunan orang di lantai dansa. Orang-orang yang berdesakan di lantai dansa langsung menyingkir dari jalur yang akan ditempuh gadis itu, bagai Laut Merah yang terbelah agar Musa bisa melewatinya.
Gadis itu terus berjalan diantara kerumunan yang terbelah menuju meja bar. Kursinya penuh. Tak ada yang kosong. Tapi, begitu ia semakin dekat, beberapa orang langsung berdiri dari kursi mereka, membawa serta minuman mereka dan bartender segera membersihkan meja.
"Selamat malam, G." sapa Ian. Bartender malam itu.
"Malam Ian." gadis yang disapa G itu menyapa balik dengan nada dingin. Ia melirik ke area VIP di atas, dimana salah satu boothnya tampak kosong. "Apa Nico tidak turun hari ini?"
"Aku tak tahu, G. Aku belum melihatnya seharian ini. Mungkin di belakang." bartender itu menghentikan pekerjaannya seketika untuk menghadap G karena sepertinya G ingin bicara dengannya lebih banyak. Ia berdiri di hadapan G dengan postur tubuh yang membungkuk dan lebih sopan. "Apa kau ingin kubuatkan sesuatu, G?"
"No, thanks Ian. Kau bisa kembali bekerja. Aku akan membuat minumanku sendiri." G berdiri dari kursinya, dan menuju belakang meja bar. Ia mengambil gelas sloki kecil dan mengisinya dengan susu, dan meminumnya. Ia meletakkan gelas bekas susunya di wastafel. Di belakangnya ia melihat rak dipenuhi botol-botol minuman keras berbagai merek dan jenis yang terpajang. Ia menyisirnya sejenak, berpikir apa yang ingin dibuatnya.
Akhirnya ia mengakhiri bimbangnya setelah melihat kaleng AriZona Strawberry Iced Tea yang didominasi warna hitam dengan aksen berry yang tersebar di seluruh badan kaleng.
Ia mengambil berbagai macam jeruk iris yang ada di dalam kulkas, menempatkannya dalam gelas dan menambahkan brandy. Ia membiarkan jeruk-jeruk itu terendam dalam brandy selama 15 menit dalam kulkas.
Ia mengambil AriZona Strawberry Iced Tea yang tadi menjadi incarannya dan menuangnya dalam shaker. Selanjutnya ia mengambil botol berwarna transparan dengan label hitam bertuliskan SW4 London Dry Gin. Ia menuangnya dalam takaran sebelum menuangnya juga dalam shaker dan mengembalikan botol itu ke atas rak tempatnya semula.
Gadis itu kembali ke tempatnya semula dengan botol Brandy dan Grenadine di kedua tangannya. Ia menakar keduanya dan menambahkannya ke dalam campuran yang tadi dibuatnya. Ia juga menambahkan jeruk yang tadi direndamnya di dalam campuran, menutup shaker dan mengocoknya beberapa kali untuk mencampurnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
VALERIE
General FictionNora : "Kepenak rak kepenak Darling, mati urip barengan selawase." (Enak nggak enak Darling, hidup mati bersama selamanya) Val : "Opo tenan mati urip karo aku..?" (Beneran hidup mati sama aku?) Nora : "Wani sumpah seksine langit bumi." (Berani sumpa...
