Chapter 5

60.8K 2.7K 12
                                        

Matahari mulai timbul dari persembunyiannya, pertanda hari sudah mulai pagi. Sehabis sholat subuh tadi, Ali dan Prilly sama sama terlelap kembali. Jadwal Prilly hari ini, hanya menghadiri Primere Film layar lebarnya, berjudul Fall in Love. Beberapa waktu yang lalu, Prilly sempat menjalankan proses shooting untuk film terbarunya itu. Proses shooting itu di ambil di beberapa daerah, seperti Jakarta, Bali dan Yogyakarta. Yang menjadi lawan mainnya adalah Arbani Yaziz, sahabatnya sewaktu membuat video clip lagu. Prilly sempat bingung, di satu sisi ia adalah seorang istri sekaligus ibu namun di sisi lain ia adalah seorang artis, profesionalitas kerja harus selalu di lakukan. Prilly tidak mau mencampuri urusan keluarga dengan perkerjaan nya sebagai public figur. Apapun keputusan Prilly, Ali selalu mendukungnya. Selagi itu tidak membuat Prilly melupakan tugas nya sebagai istri sekaligus ibu. Prilly memang seorang wanita yang mampu menjalankan tugasnya dengan baik. Ali sangat bangga memiliki istri seperti Prilly.

Waktu menunjukkan pukul 07.00 pagi. Terlihat Prilly sudah menjerapkan mata nya. Ia tersenyum saat melihat ada tangan yang masih memeluknya. Di lihat ke samping kanan nya, Ali masih terlelap. Wajah tampannya tidak berubah sedikit pun, meski ia masih terlelap. Alis tebal, bulu mata lentik, bibir merah, dan rambut acak-acak membuat ia semakin terlihat tampan.

Di elus rambut Ali itu dengan sayang, memainkan bulu mata lentiknya itulah rutinitas Prilly saat baru membuka mata nya. Ali yang terusik pun langsung membuka mata nya, Prilly langsung melepaskan tangannya yang sedari tadi memainkan rambut Ali. Di sambutnya dengan senyuman manis dari sang suami.

" Morning, sayang " sapa Ali saat baru membuka mata dengan suara khas orang baru bangun tidur. Tak lupa senyum manis ia tampilkan.

" Morning, sayang. Bangun gihh udah siang, nanti kamu telat lohh! " balas Prilly sambil bangun dari tidurnya dan langsung mengikat rambutnya asal.

Bukannya menuruti perintah Prilly, ia justru membalikkan badannya mengahadap Prilly, memeluknya dari samping dan menenggelamkan kepalanya di perut sang istri. Di usap kembali rambut suami nya itu dengan sayang. Ali merubah posisinya, menjadikan kepala Prilly sebagai bantalan.

" Kamu hari ini ada jadwal apa? " tanya Ali sambil menggenggam tangan Prilly yang sedari tadi mengelus rambutnya.

" Nanti malam acara Premiere film aku. Kamu datang kan?" Ali tersentak kaget mendengar jawaban Prilly. Ia tidak tau bahwa premiere film Prilly akan di adakan hari ini. Pasalnya, Ali hari ini akan memiliki jadwal meeting dengan client pukul 5 sore. Akan kah bisa ia menghadiri acara penting istrinya itu?

" Acara premiere film kamu? Kok aku baru tau? Bukannya film kamu tayang nya minggu depan ya? " bukannya menjawab pertanyaan Prilly, ia malah balik bertanya.

" Iya emang tayang nya minggu depan, tapi Premiere nya hari ini sayang "

" Yaa... Kenapa kamu baru ngomong sekarang sayang? Biar aku bisa ngosongin jadwal aku di kantor " ucap Ali membenarkan posisinya, duduk berhadapan dengan Prilly.

" Kenapa emang nya? Kamu gak bisa dateng ya? " tanya Prilly dengan nada sedihnya. Ia takut jika suaminya itu tidak bisa menghadiri acara pentingnya.

" Bukan gitu, sayang. Premiere kamu jam berapa?" tanya Ali sambil menatap Prilly.

" Jam 6 sore. Di salah satu Mall di daerah Pondok Indah"

" Hari ini aku ada meeting penting sama client dari Jepang jam 5 sore. Aku usahin deh ya buat dateng ke acara kamu. " jawab Ali sambil tersenyum ke arah Prilly. Prilly yang sedari tadi menunduk, kini mendongakkan wajahnya. Menatap Ali dengan tatapan yang sulit di artikan. Entah bahagia atau kecewa yang kini ia rasakan.

" Kalau kamu gak bisa dateng, gapapa kok. Aku ngerti. Sekarang kamu mandi gih, nanti telat. Aku mau ke kamar Daffa dulu " jawab Prilly langsung berlalu pergi dari kamarnya. Mendengar nada bicara Prilly, Ali mengacak rambut nya frustasi, sepertinya Prilly sangat kecewa dengan sikapnya.

Little Family  (COMPLETED)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang