"Aku tak tahu apakah yang aku kerjakan itu berhasil atau tidak, yang penting aku berusaha dan selanjutnya aku serahkan pada Yang Kuasa"-Jhon Bruss
-Please, stay
Part 10th
Tiara P.O.V
Sebuah mobil sedan berwarna putih masuk ke perkarangan rumahku. Aku yang sedari tadi gelisah menanti kedatangannya sambil menatap ke arah depan rumah dari jendela lantai dua kamarku loncat-loncat kegirangan. Seketika jantung ini berdebar-debar dengan cepat.
Aku kembali berdiri di depan sebuah cermin besar, yang terletak di pojok kamarku. Aku memandangi diriku sendiri melalui pantulan cermin, memastikan kalau penampilanku sudah maksimal malam ini. Aku memakai blouse berwarna softblue polos berbahan tipis dipadukan dengan Pompom skirt berwarna putih.
Untuk make up, aku hanya memoles natural powder di wajahku, dan lipglows bening yang seketika jadi warna pink lembut beberapa saat kemudian di bibirku. Aku tidak terlalu suka make up yang terlalu tebal, membuatku terlihat seperti orang 'aneh' menurutku. Rambutku, ku buat sedikit memblow menggunakan roller hair berukuran besar milikku.
"Rin gue udah cantik belum sih?" tanyaku ketika Erin masuk ke dalam kamar. Erin membelalak ketika melihat penampilan ku saat ini.
"Kenapa sih lo liatinnya gitu banget, aneh ya?" tanyaku.
"Astaga Tiara, lo cantik banget sumpah!" ungkap Erin sembari mengerjapkan matanya beberapa kali.
"Tapi ada yang kurang, sebentar." Sambungnya sambil mengambil tas makeup nya yang ada di dalam koper.
"Ehhh mau ngapain lo? udah gua gak mau di apa-apain lagi gue lebih suka kayak gini." tolakku ketika dia berniat untuk 'meng-upgrade' keadaan wajahku dengan alat-alat make up nya. Akhirnya Erin merengut dan membatalkan niat terkutuknya itu.
"Ish ngeyel banget kalo dibilangin." Erin tidak jadi mengambil peralatan make upnya.
TING NONG!! bel rumah berbunyi.
Aku segera turun dari kamarku dan membukakan pintu, begitu pintu terbuka aroma parfume yang sangat wangi ikut menyeruak masuk ke dalam di iringi oleh hembusan angin.
Ku dapati seorang laki-laki berperawakan tinggi memakai kaus berwarna hitam polos dengan balutan jaket levis berwarna silver juga celana ripped denim berwarna senada. Rambut gondrongnya dibiarkan berantakan begitu saja menambah pesona ketampanan wajahnya. Ya Tuhan betapa indahnya ciptaan-Mu.
Dia sepertinya tertegun beberapa saat ketika melihatku berdiri di depannya, memandangiku dari bawah kaki sampai atas kepala tanpa berkedip sedikitpun.
"Tama?" panggilku yang kemudian membuyarkan lamunannya.
"Eh iya" katanya sambil mengerjapkan matanya beberapa kali, lalu tersenyum sekilas, "lo cantik malam ini." katanya sembari tersenyum. Aku ikut tersenyum, pipiku terasa panas seketika.
Kemudian detik itu juga Tama terlihat mengeluarkan sesuatu yang sedari tadi dia sembunyikan di balik tangannya. Sebuket redrose bersampul plastik berwarna hitam dengan pita berwarna merah diberikannya padaku, wajahku memanas seketika, pipiku menjadi merona merah.
"Astaga bagus banget, makasih ya!" kataku sambil menerima buket bunga itu setelah berhasil menetralisir detakkan jantungku yang mungkin bias saja terdengar oleh Tama.
Aku meletakkan redrose darinya di meja tamu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Please, stay
Fiksi Remaja[TAMAT] [REVISI] [RANK 4 IN JUNE 18th] Tiara sudah mencintai Tama sejak awal pertemuannya dengan lelaki itu, semua orang memuja Tama sebagai sosok Badboy yang tampan dengan segala sisi kesempurnaan yang dimilikinya. Bagi keduanya, takdir adalah sat...
