Tiara P.O.V
Aku menoleh ketika Farel memanggilku. Aku yang baru saja selesai menuruni tiga anak tangga terpaksa kembali ke posisi semula aku berdiri. Farel turun dari jendela tempatnya duduk tadi, lalu berjalan ke arahku. Perasaanku makin semerawut, baru kali ini aku merasa setakut ini saat bertemu dengan seseorang.
"Akhirnya lo dateng juga." katanya yang berdiri tepat di hadapanku saat ini.
Ya, harus aku akui Farel memang sangat tampan, postur tubuhnya hampir sama dengan Tama. Tapi wajahnya memang terlihat lebih seperti ke 'Arab-Araban' dengan hidung mancung dan mata coklat yang menatap tajam, sepertinya dia memang blasteran Arab. Wajar saja dia masuk ke dalam list cowok-cowok keren dan tampan layaknya Tama dan beberapa kakak kelas di sekolah ini.
"To the point aja, lo ngapain nyuruh gua ke sini?" tanyaku ketus, entah kenapa tiba-tiba saja pertanyaan itu meluncur sendiri dari mulutku, biar bagaimanapun dia juga manusia biasa, makan nasi, jadi, untuk apa aku takut dengannya.
"Ih galak banget sih," ungkapnya sedikit mengedutkan bibirnya, lalu setelah itu kembali menatapku focus, "hahaha ternyata bener kata temen-temen gua, lo itu cantik." ujarnya sembari menghisap kembali rokok yang di tangannya.
"Maksud lo?" tanyaku tidak mengerti dengan kata-kata yang dia ucapkan barusan karena mengandung maksud terselubung.
"Hahaha, lo tuh bener-bener polos ya," katanya tertawa, lagi, "lo ga bener-bener tau siapa gua ya?" asap rokok yang dihisapnya tadi keluar dari mulutnya dan tak sengaja terhirup oleh ku. Membuat napasku sesak seketika, dan langsung terbatuk.
"Uhuk.. uhuk dasar cowok aneh! Gue pergi aja." ketusku sembari membalikkan badanku ketika merasakan ada sesuatu yang tidak beres dengan cowok itu.
"Tunggu dulu!!" sergahnya seraya menangkap tanganku begitu aku hendak berlalu, "lo gak bisa pergi begitu aja sebelum kasih gua sesuatu." sambungnya yang membuatku jadi ketakutan setengah mati seketika. Menerka-nerka apa yang sebenarnya ingin dia lakukan saat ini.
Dia menarik kasar tanganku dan memojokkanku ke sudut ruangan sempit yang ada di lantai 5 itu, aku berusaha meronta namun dia malah mencengkram erat tanganku.
"FAREL LO ITU APA-AP..." belum sempat aku meneriakkan kata-kataku, Farel tiba-tiba saja membekap mulutku menggunakan tangannya.
Detik itu juga aku merasa kalau sekarang diriku sedang ada dalam bahaya. Ah, ini semua memang karena kesalahanku sendiri yang terlalu penasaran, padahal kan aku tidak mengenal Farel, walaupun satu sekolah tapi dia tetap orang asing yang belum aku tahu seluk beluknya.
"Sssstt udah lo gak usah berisik!" ujarnya sambil memegangi dagu ku dan kemudian mendekatkan wajahnya ke wajahku, makin lama semakin dekat.
Aku berusaha mendorong tubuhnya dengan sekuat tenagaku, tapi tenaganya dua kali lebih kuat dariku. Aku pasrah begitu ku rasakan bibirnya hampir menyentuh ujung bibirku. Aku sudah benar-benar tidak tahu harus bagaimana lagi, aku tidak menyangka kenapa cowok yang selalu diagung-agungkan oleh semua cewek di Grilya Kencana dan notabenenya adalah cucu pemilik sekolah ini bisa memiliki kelakuan sekeji iblis?
Lambat laun hembusan napas hangat Farel mulai menyentuh pori-pori kulitku, yang dapat kulakukan saat ini hanyalah berdoa kepada Tuhan supaya ada orang yang melihat kejadian ini dan menolongku.
Hingga keajaibanpun akhirnya terjadi ,tiba-tiba saja ada seseorang yang menarik tubuh Farel dari tubuhku, entah seberapa lega perasaanku saat ini mengetahui kalau bibirku yang masih suci dan belum pernah sekalipun tersentuh oleh laki-laki akhirnya masih bisa terselamatkan.
BUGHH!!!! Aku memejamkan mataku ketika melihat Tama melayangkan tinjunya lagi beberapa kali ke wajah Farel sampai laki-laki itu terjatuh di atas lantai sambil memegangi ujung bibirnya yang terlihat memar dan mengeluarkan sedikit darah.
"SEKALI LAGI LO NYENTUH DIA, GUA ABISIN LO!" ancam Tama.
Farel yang sudah menyerah akhirnya hanya bias balas mengancam, "awas lo Tam!" tukasnya dengan nada mengancam, kemudian bangkit dan pergi dari situ.
Tama menghela napasnya berat, kemudian membalikan tubuhnya dan melihat aku yang gemetaran sambil memeluk tubuhku sendiri. Kakiku lunglai, tulang-tulang di dalamnya serasa tidak kuat lagi untuk menopang berat badanku.
"lo gak apa-apa?" tanya Tama.
Aku tidak langsung menjawabnya melainkan langsung memeluknya erat, tanpa memperdulikan apa-apa lagi. Aku menangis terisak-isak di pelukannya, kemudian dia mengusap lembut rambutku berusaha untuk menenangkanku. Selang beberapa detik, aku melepaskan pelukanku, saat aku mulai merasa tenang. Kemudian Tama memegang wajahku dan mengusap lembut air mata yang masih mengalir di pipiku.
"Kenapa lo mau-mau an aja di ajak ke sini sama si brengsek itu?" tanyanya kemudian.
"G-gue" aku sesegukan.
"Ssttt udah nanti aja jelasinnya sekarang gua anterin lo pulang ya?" katanya lagi. Aku hanya mengangguk sebagai jawaban.
*****
TING NONG!!! Aku menekan bel rumahku beberapa kali. Aku baru saja sampai di rumah setelah Tama yang mengantarkanku tadi. Tadi sebelum pulang aku dan Tama bertemu dengan Erin di depan kelas, Erin meminta Tama untuk menjelaskan apa yang terjadi ketika melihat aku menangis. Tama berkata dengan jujur, Erin tidak terima aku diperlakukan seperti itu oleh Farel maka dari itu dia melaporkannya pada guru kesiswaan dan kami semua tadi sempat dipanggil ke ruang BK untuk dimintai keterangan dan hasilnya adalah Farel akan dikeluarkan dari sekolah yang notabene adalah sekolah milik kakeknya sendiri.
"Tiaraaaaa!!!!"Erin yang sudah duluan tiba di rumah langsung memelukku erat. Tadinya selepas mengurusi urusan di ruang BK aku ingin pulang dengan Erin, tapi Tama tetap memaksa supaya dia yang mengantarku pulang.
"Lo gak apa-apa kan?" Tanyanya. Aku menggelengkan kepalaku dan langsung beranjak ke ruang tamu.
"Erin udah cerita semuanya, Papa udah telepon ke sekolah dan anak brutal itu sudah di dropout oleh sekolah." ujar Ayahku yang sudah menunggu kepulanganku.
"Iya, Ara udah tau, Pa." kataku lemas.
Erin mengantarkan ku ke kamar, kulihat kopernya yang sudah berdiri di depan pintu kamarku.
"Lo pulang sekarang Rin?" tanyaku meliriknya,,
"Iya Ra nyokap gua udah dirumah." katanya.
"Ya udah lo hati-hati ya pulangnya!"
"Yaelah gue kepeleset dari sini juga nyampe langsung ke rumah." ujarnya, aku terkekeh.
"Ya udah lo istirahat ya Ra gua pulang dulu bye" Aku mengangguk dan tersenyum ke arahnya, kemudian dia berlalu sambil menarik kopernya keluar.
KAMU SEDANG MEMBACA
Please, stay
Novela Juvenil[TAMAT] [REVISI] [RANK 4 IN JUNE 18th] Tiara sudah mencintai Tama sejak awal pertemuannya dengan lelaki itu, semua orang memuja Tama sebagai sosok Badboy yang tampan dengan segala sisi kesempurnaan yang dimilikinya. Bagi keduanya, takdir adalah sat...
