"Aku tau setiap manusia pasti pernah mencintai. Hanya ku rasa baru kali ini aku merasakan cinta yang begitu amat dalam seperti, mencintaimu."-Bubble gum
-Please, stay.
Part 11th
Tiara P.O.V
"TAMA SEMANGAT TAMA!!!!"
Beberapa siswi yang menjadi supporter futsal X-4 melawan X-5 berteriak-teriak histeris menonton pertandingan dari kedua kelas tersebut. Aku juga ikut nonton bersama Erin, Anggi dan Keren.
"FAREL AYO SEMANGAT FAREL!! LO PASTI MENANG!!!" Erin berteriak ke arah lapangan, si bodoh itu malah memberi dukungan pada salah satu pemain dari kelas X-5.
Farel, siswa dari kelas X-5 itu adalah cowok famous di sekolah ini selain Tama dan beberapa kakak kelas cowok lainnya. Banyak cewek yang 'memujanya' karena memang dia itu adalah cucu dari pemilik sekolah ini. Di samping itu dia juga terkenal sering gonta-ganti pasangan, semua cewek cantik di sekolah ini telah masuk ke dalam list of ex lovers nya.
"GOALLL!!!"
X-4 memenangkan pertandingan dengan score 3-1. Tama dan juga kawan-kawan seperjuangannya keluar dari arena menuju ke kantin.
"Eh gue ke kantin ya pengen ngucapin selamat sama Tama." tukasku pada teman-temanku.
"Ciyeee ciyee." goda mereka bertiga, aku hanya mengerutkan keningku lalu berjalan menjauh dari tribun futsal.
"Pajak jadiannya jangan lupa Ra!" Erin berseru saat aku baru beberapa langkah menjauh dari tempat mereka duduk tadi.
"Gak!" pekikku sembari terus berjalan menuju kantin.
Di kantin, terlihat Tama duduk sedirian di bangku panjang kantin sambil melepaskan sepatu futsalnya dan menggantinya dengan sepatu sekolah. Kawan-kawannya terlihat sedang asik merokok di kedai Teh Pipit, ah sudah gak kaget. Aku tetap memfokuskan pandangannya terhadap Tama sampai akhirnya cewek itu sampai di tempat cowok itu berada.
"Nih Tam!" aku menyodorkan sebotol air mineral ㅡyang tadi sempat aku beli sebelumnyaㅡ pada Tama. Dia mendongakan kepalanya begitu melihatku, kemudian tersenyum.
"Oh, makasih." Kata Tama sembari menyeka keringat di dahinya.
"Selamat ya lo udah ngalahin kelas sebelah, lo jago sumpah!" kataku sambil tersenyum tulus padanya.
"Bukan cuma gua yang jago tapi sama temen-temen gua juga." katanya merendah.
Inilah yang aku sukai dari Tama, seberapa sering orang memujinya karena bakat atau menyangkut fisiknya, dia tetap rendah hati dan tidak menyombongkan semuanya itu di samping itu semua dia juga pintar sekali matematika. Cewek mana yang gak klepek-klepek coba.
"Kapan-kapan ajarin gue main bola ya?" kataku membuat Tama sontak menoleh ke arahku.
"Hah? Cewek sekalem lo mau main bola?" tanyanya kemudian tertawa. Wah dia gak tau aja gua aslinya petakilan gak bisa diem. Batinku.
"Ya, iya emang gak boleh ya?" aku balik bertanya. Bukannya menjawab pertanyaanku Tama malah mengacak rambutku gemas.
"Lo itu gak pantes kalo main bola, cewek selembut lo pantesnya belajar masak biar nanti bisa jadi ibu rumah tangga yang baik." tukas Tama.
Aku mengerjapkan mataku tidak percaya, pasalnya baru kali ini Tama berbicara padaku lebih dari empat puluh suku kata, padahal biasanya Tama selalu dingin dan pelit ngomong bahkan saat sedang bersama teman dekatnya sekalipun.
"Lo ternyata juga bisa ngomong panjang lebar gitu ya, Tam?" gurauku, Tama mengernyit.
"Maksudnya?"
"Ya, biasanya lo kan irit ngomong orangnya." jujurku, entah kenapa tiba-tiba saja aku bisa berkata sejujur itu.
Tama bergeming, ekor matanya terlihat melirik ke arahku membuat aku jadi salah tingkah dibuatnya, "emangnya menurut lo gua begitu?" tanya Tama.
Aku mengangguk ragu, "I-iya." ungkapku.
Tama terkekeh melihat perubahan ekspresi ku saat ini yang terlihat seperti orang ketakutan, dia mungkin tidak menyangka kalau dirinya semenakutkan itu, apa memang karena dia sendiri yang tidak pernah menyadarinya? Menyadari kalau tatapan matanya itu dingin dan tajam, menyadari kalau wajahnya jutek, menyadari kalau dia irit dalam berbicara, atau malah dia tidak menyadari kalau aku saat ini benar-benar mencintainya? Entahlah, biar waktu saja yang menjawab.
"Tam, ayo ke warung Babeh!" Aldo tiba-tiba sudah ada di dekat mereka, memperlihatkan wajah juteknya itu.
"Oh iya, Tiara gua ke warung dulu ya, ada urusan bentar, by the way thanks minumannya." ujar Tama, aku hanya mengangguk sebegai balasan.
"Iya, kalau gitu gue ke kelas duluan ya Tam, dah." aku langsung berlalu dari situ, Aldo yang sedari tadi tidak memperdulikan gerak-gerikku, akhirnya mulai menatapku dengan tajam. Aku yang ngeri melihat tatapannya itu, akhirnya mulai mempercepat langkahku untuk keluar dari kantin, dan kembali ke kelas.
*****
Tiara P.O.V
"Aaaaaa!!" Aku berteriak histeris saat Radit melemparkan seekor kecoak saat aku baru saja masuk ke kelas. Binatang menjijikan itu kini merayap di baju seragamku, sontak aku langsung mengibas-ibaskan seragamku sehingga binatang tersebut jatuh ke lantai.
"Huahahaha.." dengan jahatnya Radit dan Raka tertawa melihat usahanya mengerjaiku berhasil.
Pantas saja mereka berdua tidak ikut Tama, Rayen, dan Aldo di pertandingan futsal tadi ternyata mereka malah asik ngejailin anak cewek yang tidak ikut menjadi supporter futsal kelas.
"RADIT!!! JANGAN LARI LO!" Aku berseru begitu ku lihat Radit kabur keluar kelas.
Aku mengejarnya sampai lantai satu, dengan langkah seribu aku mengerahkan tenagaku untuk bisa mengejar Radit dan membalaskan dendamku padanya dengan cara menjewer atau memukuli punggungnya beberapa kali. Namun, ekspetasiku ternyata salah, begitu baru saja aku sampai di depan ruang kepala sekolah kaki ku sudah lunglai karena terlalu kelelahan, hingga akhirnya,
BRUK!!
Aku terjatuh tepat di depan pintu ruang kepala sekolah, wah jangan-jangan kepala sekolahnya denger lagi, batinku. Radit menoleh ke belakang begitu dia tak lagi mendengar suara hentakkan sepatuku, dia malah tertawa begitu tau aku jatuh terduduk, kemudian dia menjulurkan lidahnya dan terus berlari ke arah lobby.
"Awas aja lo di kelas!" sungutku kesal.
Kriek, Tiba-tiba pintu ruang kepala sekolah terbuka, waduh gawat kalau sampe kepala sekolah ngeliat gue di sini, batinku sembari ingin bangkit berdiri. Belum sempat aku berdiri, tiba-tiba keluar seorang cowok tinggi memakai seragam putih-abu dari ruang kepala sekolah. Farel!
"Loh, lo anak kelas sebelah kan? Ngapain lu duduk-duduk di sini?" ujarnya sembari memandangiku dengan tatapan anehnya.
Aku segera bangkit, lalu berkata, "Gue bukan duduk-duduk di sini, tapi gue jatoh! Abis ngejar temen gue." ujarku menjelaskan.
"Oh gitu?" tanyanya sembari menjeda beberapa detik, "terus gua harus peduli gitu kalo lo jatoh?" tukas cowok itu sembari mengangkat sebelah alisnya. Ko dia malah nyolot sih?
"Ya siapa yang minta lo buat peduli!" Aku segera pergi dari situ dan naik lagi ke lantai empat. Dalam hati aku merutuki cowok yang tingkat nyebelinnya di atas rata-rata itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Please, stay
Novela Juvenil[TAMAT] [REVISI] [RANK 4 IN JUNE 18th] Tiara sudah mencintai Tama sejak awal pertemuannya dengan lelaki itu, semua orang memuja Tama sebagai sosok Badboy yang tampan dengan segala sisi kesempurnaan yang dimilikinya. Bagi keduanya, takdir adalah sat...
