18. Bimbang

2.6K 205 19
                                    

"Jadilah pribadi yang tegar, jangan mudah mengeluh untuk hal kecil sebab jiwamu besar"-Redmatt

Please, stay
Part 18th

Author P.O.V

Remaja berusia delapan belas tahunan itu memarkirkan sepeda motornya di garasi luas pada sebuah rumah mewah berlantai dua, rumahnya. Kemudian setelah motor sport itu terparkir dengan sempurna di garasi, Tama mencabut kunci motor ninja hitamnya, lalu segera masuk ke dalam rumah itu hendak menemui orang yang memintanya untuk segera datang.

Begitu masuk, dia sudah ditunggu oleh seorang laki-laki paruh baya yang sedang berdiri sambil matanya menatap ke arah kolam renang rumahnya itu dengan melingkarkan tangan ke belakang.

Tama menghela napas berat, biasanya kalau aura Ayahnya sudah terlihat seperti ini berarti ada sesuatu hal yang sangat penting yang ingin disampaika oleh Ayahnya itu, "Papa mau ngomong apa sih?" tanya Tama santai sembari mengambil buah apel dari meja makan dan duduk bersandar di sofa berwarna biru di sebelah Danang Pratomo Anggara, ayahnya itu.

Danang segera membalikan tubuhnya begitu menyadari Tama anak semata wayangnya, pewaris tahta dan kekayaannya itu sudah berada di dekatnya. "Tama," suara tegas laki-laki itu mulai terdengar, "Papa mau bicara dengan kamu." kata Danang selanjutnya.

"Iya ngomong aja, Tama dengerin." tukas Tama. Danang menghela napas lalu mulai memberanikan diri untuk bicara pada anaknya itu.

"Papa mau yang terbaik untuk kamu," katanya, "Papa mau kamu sekolah di sekolah yang bagus, sekolah khusus untuk para pengusaha bisnis sukses seperti Papa." ungkap Danang langsung ke point utamanya.

Tama menelan gigitan apel yang terakhir dimakannya lalu menatap Ayahnya dengan pandangan heran, "Maksudnya?"

Danang melirik Tama yang masih menatapnya intens, lalu berkata, "Papa mau kamu ikut Papa ke Australia untuk lanjut sekolah bisnis di sana." tukas Danang yang langsung menerima tolakan keras dari Tama.

"Gak bisa Pa, Tama mau tatap sekolah di sini." tutur Tama tegas.

Danang sudah menduga hal ini akan terjadi, dia kenal baik bagaimana karakter Tama, keras kepala, tidak gampang dibujuk, apalagi kalau soal hal seperti ini, "Tolong kamu pertimbangkan lagi, kamu bisa sekolah di tempat lebih bagus dan setelah lulus kamu langsung bisa meneruskan perusahaan Papa yang ada di sana." jelas Danang.

Tama terkekeh, mendengarnya, "Tama gak butuh harta, di sini Tama udah punya banyak temen dan orang-orang yang Tama saying, itu harta yang paling berharga buat Tama." ungkapnya sembari mengigit buah apelnya yang tinggal setengah lalu memalingkan pandangannya ke arah kolam seolah tak acuh.

Melihat respon Tama yang seperti itu, Danang menjadi marah, seolah usahanya ini tidak dihargai, "memangnya teman kamu itu bisa kasih kamu makan?! Atau bisa menjamin kehidupan kamu selanjutnya?!" tanya Danang dengan nada suara yang mulai meninggi.

Tama terdiam sejenak, berpikir, lalu kembali menjawab, "enggak si, tapi mereka bisa kasih Tama kebahagiaan." Katanya yang lantas membuat Danang tertawa sumbang.

"Kebahagiaan itu sifatnya relatif, kalau kamu bisa jadi orang berhasil kebahagiaan yang sebenarnya pasti bisa datang dengan sendirinya." Tukas Danang tak mau kalah berargumen.

"Gimana dengan rumah ini?" tanya Tama, "ada banyak kenangan di rumah ini, kenangan waktu sama Mama." Ekor matanya melirik sekilas ke arah Danang seusai menyebut kata 'Mama'nya.

Mendengar Tama menyebut-nyebut nama itu lagi, Danang lantas malah tersulut emosi, "TAMA PEREMPUAN ITU SUDAH LAMA MENINGGALKAN KITA DEMI LAKI-LAKI LAIN, BAHKAN DIA SUDAH TIDAK PEDULI DENGAN KAMU!" bentak Danang sembari memegangi dadanya yang terasa sesak. Tiap kali mendengar Tama membahas-bahas soal mantan istrinya yang menikah dengan orang lain itu selalu saja membuat Danang kehilangan kendali dirinya.

Please, stayTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang