"keep your feet on the ground when your head's in the clouds."-Taylor lautner
Please, stay
Part 24th
Author P.O.V
Tiara beranjak dari dapur menuju ruang tengah, jemari lentiknya dengan sigap mengambil kotak P3K dari lemari buffet yang ada di ruang tengah, lalu dibawanya kotak p3k itu dan duduk di sofa. Dia mengambil segumpal kapas dan betadine, lalu dia menyentuh permukaan kulit di lengan kanannya dengan kapas itu sembari meringis kecil menahan perih.
Tangannya dengan cekatan menepuk-nepuk kapas yang sudah dia balurkan dengan betadine berwarna cokelat yang kini menyelimuti luka di lengannya. Setelah itu dia membalutnya dengan perban lalu dia merekatkannya menggunakan plester.
Kemarin saat dia baru saja mau mandi sehabis pulang dari Gunung Pancar dia baru sadar kalau ada luka goresan di lengannya, mungkin karena kejadian di tebing curam waktu kemarin. Untung saja lukanya tidak parah dan langsung segera diobati, kalau tidak pasti akan infeksi.
"Ara, sini sebentar!" Seru Diana yang berdiri di ambang pintu kamarnya. Tiara merapikan kotak P3K yang ada di pangkuannya dan menaruhnya kembali kedalam buffet.
"Kenapa, Mah?" Tanya Tiara sembari mendekat ke arah Ibunya, matanya melirik ke selembar uang lima ribuan yang terselip diantara genggaman tangan Diana.
"Nih, kasihin ke pengamen yang ada di depan rumah biar gak berisik pagi-pagi gini! Daritadi gak pergi-pergi." Titah Diana sembari menyerahkan uang yang di genggamnya kepada Tiara lalu masuk lagi ke dalam kamarnya.
Hah? Pengamen? Dia mengerutkan keningnya sambil menaikan satu alisnya lalu berjalan tak acuh membuka pintu depan rumahnya. Dalam hatinya dia heran, pasalnya jarang ada pengamen dari luar yang masuk ke komplek perumahannya.
KREK!!! Begitu pintu dibuka, didapatinya seorang lelaki yang sedang melantunkan sebuah lagu dengan gitar di tangannya. Tiara menatap aneh ke arah pengamen itu, mana ada pengamen berpakaian bagus dan rapih seperti ini. Namun, karena dia tidak ingin berpikiran yang tidak-tidak akhirnya Tiara segera menjalankan amanat ibunya untuk memberikan uang lima ribuan pada pengamen itu.
"Nih bang." Ujar Tiara cuek sembari menyodorkan uang lima ribuan yang digenggamnya kepada pengamen yang mengenakan topi untuk menutupi separuh wajahnya itu.
"Makasih ya." Ujar pengamen itu, sembari menerima uang pemberian Tiara. Tunggu dulu! ko suaranya kayak kenal ya, Tiara memandangi tubuh pengamen yang tengah berdiri sambil menunduk didepannya itu. Kok postur tubuhnya mirip Tama ya.
"Hahahaha--" Pengamen itu terkekeh lalu membuka topinya.
"Tama! ih lo ngapain sih nyamar-nyamar jadi pengamen segala!" Mata Tiara membulat seketika begitu sadar kalau pengamen itu ternyata adalah Tama, senyum gadis itu mengembang seketika begitu menyadarinya.
"Ternyata lo murah hati ya, gua kirain lu bakalan ngusir gua." Gurau Tama sembari terkekeh.
"Ya enggak lah, gua juga punya hati kali." Sangkal Tiara.
Tama menyeringai, dia kemudian mengembalikan uang yang tadi di berikan Tiara kembali. Mata hazel Tama tertuju pada sebuah benda yang ada di lengan Tiara begitu gadis itu menyibakkan rambut panjangnya ke belakang.
"Itu kenapa?" Tanya Tama sembari matanya menunjuk ke arah lengan Tiara.
"Oh ini, tangan gua luka gara-gara jatoh kemarin." Jawab Tiara santai.
KAMU SEDANG MEMBACA
Please, stay
Novela Juvenil[TAMAT] [REVISI] [RANK 4 IN JUNE 18th] Tiara sudah mencintai Tama sejak awal pertemuannya dengan lelaki itu, semua orang memuja Tama sebagai sosok Badboy yang tampan dengan segala sisi kesempurnaan yang dimilikinya. Bagi keduanya, takdir adalah sat...
