43. Special gift for me

2.3K 165 20
                                        

"Kita tidak bisa melawan takdir, biarkan itu mengalir dengan sendirinya. Apapun yang kita alami, percayalah Tuhan punya rencana yang terbaik untuk kita."-Tama.

Please, stay.
Part 43rd

Author P.O.V

Dan akhirnya Tama beserta ketiga kawannya berada di Bandara Soekarno Hatta. Setelah melepas semua pergolakan batin dan pertentangan meletihkan akhirnya Tama bisa menerima semuanya ini. Dia harus pergi, dan meninggalkan separuh hatinya di sini, perlahan dia merogoh saku jaket levis nya dan mengambil selembar foto berukuran 2x6 berisi 4 buah foto di dalamnya, dia menatap nanar selembaran foto yang ada di tangannya ini.

"Tama ayo ke sana!!!" Seru gadis cantik yang ada di sampingnya sembari menarik-narik ujung hoodienya matanya tertuju ke arah sebuah photobox di sudut arena bermain Vivo City Mall.

"Ah gak mau ah." Tolaknya begitu paham maksud gadis itu. Tiara merengut, gadis itu memanyunkan bibirnya ke depan. Tama tersenyum geli melihat tingkah Tiara yang seperti anak kecil itu, dia mengacak rambut gadis itu dengan gemas.

"Yaudah ayo deh, asal lo seneng gue juga seneng." Ucap Tama, mata Tiara langsung berbinar-binar begitu permintaannya di kabulkan, gadis itu segera menarik lengan pemuda itu ke arah photobox itu lalu mengabadikan momment mereka berdua di dalamnya.

Tama tersenyum sekilas begitu mengingat momen-momen bahagia itu. Kemudian dia memindahkan foto itu ke dalam dompetnya supaya foto itu tidak hilang.

Semalam Tama tidak dapat tidur nyenyak, dia terus menerus menatap layar ponselnya berharap kalau Tiara akan membalas pesannya untuk ikut mengantarnya ke bandara hari ini, tapi gadis itu tetap tidak membalasnya, membacanya saja tidak. Vidcall nya diabaikan begitu saja.

Dia kembali dapat membayangkan bagaimana wajah sedih gadis itu begitu mengetahui keputusannya kemarin, sebenarnya Tama memang tidak tega kalau harus mengatakan yang sebenarnya pada Tiara tapi mau bagaimanapun juga lambat laun Tiara juga akan tahu sendiri dan harus menerima keputusannya ini walaupun dengan berat hati.

Sekarang harapan untuk bisa bersama-sama dengan gadis itu sudah hancur, Tama sebenarnya ingin menolak begitu Tiara memutuskan untuk mengakhiri hubungan mereka, sebenarnya Tama tetap ingin menjaga status mereka walaupun harus terpisah jarak, tapi semua ini sudah terjadi Tiara sudah memilih keputusannya sendiri, meskipun mungkin dia akan menyesalinya kelak. Bagi Tama, hubungan ini hanya putus sebelah pihak saja, toh juga Tama tidak membalas untuk menyetujui keputusan gadis itu.

Tama kembali menyeret koper yang ada di tangannya. Iris mata pemuda yang kini terlihat sayu itu kembali berputar, menjelajahi setiap sudut ruangan dan pilar-pilar tinggi bandara yang mungkin belum terjamah oleh matanya berharap orang yang di harapkan datang walaupun hanya untuk mengantarkannya dan bertemu untuk terakhir kalinya saja.

Dia memang tidak berharap Tiara datang untuk mengucapkan selamat tinggal, batinnya berharap gadis itu datang untuk mengucapkan selamat jalan dan melepas kepergiannya dengan sebuah pelukkan, dan dia dapat menghirup aroma gadis itu lagi dan mengecup keningnya untuk terakhir kali saja. Tapi semuanya sia-sia, Tiara tidak akan datang untuk mengantarnya mungkin sekarang dia benar-benar membencinya.

Setelah beberapa saat kemudian mereka sampai di depan pintu gerbang keberangkatan, Tama menghentikan langkahnya menatap ke arah ketiga sahabatnya yang kini memandanginya dengan tatapan sedih.

Please, stayTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang