Happy Reading...
Typo bertebaran dimana-mana....
Votenya dong....
"Ma pelan-pelan kali!" ucap Darka yang terus berusaha menghentikan langkah kakinya karena mamanya yang terus memaksanya untuk berjalan cepat mengikutinya.
"Apanya yang pelan-pelan? Ini lagi dalam kondisi yang sangat darurat. Kamu masih aja bisa bilang pelan-pelan!" ucap Mama Imel melepaskan tangan anaknya yang sedari tadi dipaksanya untuk berjalan dengan cepat.
"Ck, yaudah kali ma, darurat ya darurat tapi jangan lebay juga hampir putus nih tangan Darka mama tarik terus." Ucap Darka protes sambil menunjuk pergelangan tangannya.
Imel sekilas melihat pergelangan tangan yang di tunjuk Darka.
"Yang lebay itu kamu," ucap Imel cepat sambil memukul lengan Darka, membuat Darka refleks mengelus lengannya.
"Cuma di tarik aja mana mungkin bisa putus." Omel Mama Imel lagi.
"Ya udah deh sana mama aja yang cari ruangannya Darka nungguin di sini aja." Ucap Darka karena kesal dengan perlakuan mamanya.
Bukannya mendengar suruhan Darka, Imel kembali menarik pergelangan tangan anaknya untuk mengikuti langkah kakinya kembali.
Kali ini Darka benar-benar pasrah mengikuti langkah kaki mamanya. Pergelangan tangannya terus digenggam mamanya kuat dan sekarang dia hanya mendumbel sepanjang jalan. Sesekali dia terlihat menutupi wajahnya karena banyak mata yang sedang menatap aneh kearahnya dan mamanya. Kelakuan mamanya ini benar-benar membuatnya malu, sebenarnya dia bisa berjalan sendiri tanpa harus di tarik-tarik seperti ini. Hanya saja mamanya ini tidak memiliki kesabaran.
"Udah sampai ma?" tanya Darka karena mamanya yang berhenti berjalan dan melepas pergelangan tangannya.
Imel menggeleng-gelengkan kepalanya pertanda kalau mereka belum sampai.
"Jadi ngapain berhenti." Protes Darka kesal.
"Tadi kita disuruh ke ruangan anggrek no 17 kan?"
Darka mengangguk-anggukkan kepalanya membenarkan.
Imel terkekeh pelan. Darka mulai curiga dengan mamanya. Jangan-jangan salah masuk koridor lagi.
Sebenarnya sedari tadi Darka dan mamanya sedang mencari ruang anggrek no 17 kamar rawat Chinta. Dan sekarang mereka telah berada di koridor rumah sakit, sejak mengetahui ruang rawat Chinta, mama Darka terus saja memaksa Darka untuk berjalan cepat. Sampai akhirnya mereka harus berhenti di salah satu ruangan sekarang.
"Mama cuma mau mastiin aja." Ucap Imel terkekeh kecil membuat Darka semakin jengkel.
"Yaudah jalan lagi!" perintah Imel membuat Darka semakin kesal.
"Mama aja gih yang kesana, Darka nunggu di pakiran aja deh,"
Tampaknya sekarang Darka sudah semakin kesal dengan mamanya.
"Kalau Cuma mau nunggu di pakiran, kenapa mau ikut tadi?"
"Tadi aja maksa banget pengen ikut, udah sampai di rumah sakit tinggal beberapa ruangan lagi mau balik."
"Kalau gitu kenapa kamu enggak main PS aja bareng temen-temen kamu itu."
Omel Imel panjang lebar membuat Darka tidak bisa mengatakan apa pun. Kalau sudah begini mau menjawab apalagi. Mamanya ini mana pernah mau jika disalahkan.
"Mau ikut atau mama tarik paksa lagi kamu!" Imel menatap lekat kearah anak semata wayangnya.
Darka menghela napas kasar. Kali ini dia membalikkan kepalanya menatap sekeliling. Darka menatap kesal kearah pengunjung rumah sakit yang tampak tersenyum seolah-olah sedang menertawainya sekarang. Mamanya ini benar-benar membuatnya malu hari ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
DARKA (Update kembali)
Novela Juvenil#1 in teenfiction 10.6.2017 [TELAH TERSEDIA DI SELURUH GRAMEDIA INDONESIA] "Mulai sekarang lo jadi pacar gue!" ucap Darka dengan tatapan datarnya. "M...maksud lo?" balas Chinta takut karena melihat tatapan dingin dari sosok cowok yang berada di de...
