Seulgi's POV
Aku nyaris terlambat saat masuk ke kelas. 3 menit lagi bel masuk akan berbunyi dan aku dapat bernafas lega saat sudah duduk di tempatku yang di paling belakang, pojok kanan. Bagian belakang banyak diisi oleh murid lelaki, tapi aku bersikeras untuk duduk di paling belakang.
Aku tidak biasa duduk di paling depan dan aku tidak ingin, maka aku duduk di paling belakang bersama para lelaki lain. Di depanku Soojung, temanku sejak kelas 1 dan kita satu pemikiran. Maksudku, kita memiliki beberapa kesamaan dan itu membuat kami semakin dekat setiap tahunnya.
"Telat lagi?" Tanya Soojung saat dia menengok ke belakang. Aku mengangguk sambil mengeluarkan botol minumku dari tas. Untung hari ini aku tidak meninggalkan botol minum di meja makan, kalau tidak aku bisa pucat karena kurang minum.
"Sudah buat PR kimia?" Tanya Soojung lagi. Aku diam, mataku membulat setelah sadar aku tidak membuat PR kimia yang diberikan minggu lalu. Alasan apa yan akan aku gunakan kali ini? Guru Kim pasti tidak akan memaafkanku karena dia sudah memberi PR ini sejak minggu lalu.
Ya Tuhan, aku harus apa? Tidak mungkin aku bolos pelajaran kimia karena sebentar lagi akan mulai. Guru Kim juga sangat tepat waktu. Aku tidak ingin cari masalah karena ketahuan bolos pelajaran dia. Duh, aku bingung sekali. Aku tidak ingin dipermalukan di depan kelas.
Bagaimana ini?
"Selamat pagi." Sapaan Guru Kim terdengar begitu aku sadar dengan lamunanku yang sedang memikirkan tentang PR itu. Aku berdoa agar Guru Kim lupa dengan PR itu. Dan jujur saja, aku tidak mengerti materi yang dijadikan PR olehnya. Ah, bisa gila kalau seperti ini.
Aku akan seperti orang yang sangat tolol kalau Guru Kim menyuruhku mengerjakan soal di depan. Menyalin tugas Soojung saja tidak cukup waktunya. Aku meringis saja saat Guru Kim melihat daftar absen kelas.
"Yang tidak mengerjakan PR, keluar sekarang." Suara Guru Kim terdengar sangat tegas dan galak saat mengucapkannya. Beberapa detik tidak ada siswa yang berdiri untuk keluar. Jadi aku tetap diam, tapi aku tidak akan mempermalukan diri nanti saat ketahuan tidak mengerjakannya.
Lebih baik aku langsung berdiri dan keluar dari kelas ini. Lumayan tidak ikut pelajaran Guru Kim yang membuat otak penat. Jadi aku berdiri dan Guru Kim menatapku dengan malas, tangannya dia ulurkan ke arah pintu kelas dan aku mengerti maksudnya. Dia menyuruhku untuk keluar dari kelas ini.
Dengan kepala tertunduk, aku keluar dari kelas ini diikuti dengan suara kelas yang tiba-tiba menjadi berisik. Aku tidak mengerti kenapa tiba-tiba menjadi berisik, padahal aku hanya keluar kelas karena tidak mengerjakan PR? Biasanya tidak seperti ini.
Aku tidak menoleh ke belakang dan keluar dari kelas. Berjalan terus entah kemana, tujuanku tidak jelas. Tidak mungkin aku pergi ke kantin, bisa bahaya kalau ada guru yang memergokiku sedang berada di kantin saat jam pelajaran berlangsung.
Aku belok kiri di ujung lorong, lalu akhirnya memutuskan untuk ke perpustakaan sebagai tempat menghabiskan waktu selama pelajaran Guru Kim berlangsung.
Penjaga perpustakaan meminta kartu pelajarku untuk didata, setelah itu mengembalikannya dan aku diperbolehkan untuk mencari apa yang aku cari disini.
Aku berkeliling di rak buku bagian novel dan sejenisnya. Aku berjalan dengan pelan sepanjang rak dan membaca sinopsis yang ada di belakang novel-novel ini. Beberapa menit kemudian aku mencari tempat duduk dengan dua novel di tanganku.
Yah, aku tidak mungkin akan menyelesaikan dua novel dalam waktu yang singkat ini. Tapi menurutku, dua novel ini yang lumayan di antara yang lain. Setidaknya begitu.
Saat aku sedang asik membaca, seseorang duduk di depanku dengan membawa komiknya. Aku mendongak dan terkejut melihat siapa yang ada di hadapanku. Park Jimin, teman kelasku yang populer dan pintar itu. Sedang apa dia disini?
"Kenapa?" Tanyanya santai saat dia sadar aku sedang memperhatikannya. Aku menggeleng dan kembali membaca novelku. Namun aku tidak dapat berkonsentrasi dengan baik karena ada Jimin di depanku dan pertanyaan mengapa dia ada disini.
Sial, kalau begini aku tidak akan bisa fokus lagi.
"K-kau kenapa bisa ada disini?" Tanyaku akhirnya. Gugup sekali sampai-sampai aku meringis setelah bertanya kepadanya. Ugh, pasti terdengar sangat memalukan. Apa yang akan dia katakan nanti?
"Aku? Membaca, tidak lihat?" Jawabnya kelewat sewot. Aku tanpa sadar mendengus sebal dan akhirnya memutuskan untuk membaca lagi. Tapi lagi-lagi konsentrasiku buyar karena lelaki ini. Padahal dia tidak melakukan apa-apa. Hebat!
Aku memilih untuk berdiri dan mencari tempat lain agar konsentrasiku kembali lagi. Aku memilih tempat yang agak jauh dari Jimin agar fokusku tidak terbagi olehnya.
Sekitar 5 menit aku duduk dan membaca dengan tenang karena kata-kata di dalam novel ini masuk ke dalam otakku dengan baik. Namun aku merasa sedang diawasi, jadi aku menoleh ke samping dan melihat Jimin sedang memperhatikanku dengan intens. Aduh, kenapa aku mendadak gugup?
Aku jarang mengobrol dengan Jimin, lalu mendapatkan dia duduk di depanku tadi dan sedang memperhatikanku tiba-tiba membuat jantungku bekerja tidak normal.
Aku kembali membaca novelku, dan Jimin duduk di hadapanku lagi. Mau lelaki ini apa sebenarnya? Aku bisa gila sepertinya kalau dekat-dekat dengannya.
"Kenapa kau pindah?" Tanya Jimin. Aku menatapnya sekilas dan kembali membaca novelku, tidak ingin menjawab pertanyaannya karena aku belum mendapat jawaban.
Lalu dia tiba-tiba menutup novel yang sedang aku baca dan menariknya, menyimpannya di dekapannya itu. Dia kenapa, sih?
"Apa-apaan kau? Kembalikan."
"Jawab dulu."
"Memang kenapa kalau aku pindah? Kau keberatan?" Aku balik bertanya dengan tidak terima. Bisa begitu dia, menyebalkan sekali. Aku tidak terima diperlakukan seperti ini.
"Iya, aku keberatan." Jawabnya santai. Tapi aku seakan mendengar jawaban yang sangat mengejutkan sampai-sampai aku diam saja. Tidak menjawab kata-katanya lagi.
"M-memangnya kenapa, huh?" Aku benci dengan diriku karena terdengar gugup seperti tadi. Aku malu!
"Aku kan ingin berada di dekatmu. Melihatmu yang sedang fokus membaca novel cinta-cintaan ini. Pasti kau akan tersenyum saat membacanya, dan pasti kau cantik saat tersenyum. Lumayan kan, tontonan gratis."
Itu adalah kalimat terpanjang yang pernah dia ucapkan padaku. Demi Tuhan, aku tidak percaya dengan apa yang barusan dia katakan. Aku tidak salah dengar, kan?
Aku tidak menyangka Park Jimin akan berkata seperti itu padaku. Apa aku mimpi?
"A-apa?" Hanya itu yang bisa aku katakan. Dapat aku lihat Jimin tersenyum mendengarnya. Tuh, kan. Dia yang gila, bukan aku!
"Aku suka denganmu. Kau tidak sadar, ya? Apa kau bodoh? Manusia yang tidak peka terhadap sekitarnya? Itu kau? Aku selalu memperhatikanmu dari tempatku, kau tidak sadar?" Jimin bertanya terus menerus. Aku berkedip beberapa kali mendengarnya. Sebenarnya ini kenapa, sih? Aku masih tidak bisa mencernanya.
"Aku bahkan sengaja keluar dari kelas agar kau tidak sendirian. Aku menemani mu selama kau di keluarkan. Aku calon pacar baik, kan?" Jimin tersenyum sangat manis di akhir kalimat. Senyuman khasnya membuatku membeku beberapa saat. Kemana saja aku selama ini sampai tidak menyadarinya?
"Kau gila, ya? Pergi sana!" Aku mengusirnya dengan menendang kakinya di bawah meja. Dan entah bagaimana caranya dia bisa mengapit kakiku dengan kakinya itu.
"Iya, aku gila karenamu sepertinya." Katanya cuek lalu tertawa setelahnya.
"Jadi pacarku, ya? Tidak ada penolakan."
Park Jimin, sebenarnya kau kenapa?
---
Maaf banyak typo, sebenernya castnya jungkook, bukan jimin :') tapi aku copas trus bawa kesini deh hehhehe
by the waaaayyyy, ini buku udah 5k readersnya, ga nyangka aku :') votenya juga udah 1k. Makasih banyak ya udah baca, vote, dan komen buku ini!❤️
KAMU SEDANG MEMBACA
The Journal [p.j.m & k.s.g]
Fanfiction[SLOW UPDATE] Kumpulan cerita Jimin x Seulgi.
![The Journal [p.j.m & k.s.g]](https://img.wattpad.com/cover/94491939-64-k762745.jpg)