Seulgi berjalan cepat menyusuri lorong flatnya yang sepi itu. Di belakangnya, Jimin menyusul sambil membawa sebagian tentangan milik gadis di depannya itu. Mereka baru saja kembali dari supermarket untuk membeli bahan makanan milik Seulgi yang sudah habis.
Seulgi meletakkan belanjaannya di lantai untuk mengambil kunci di dalam tasnya. Jimin masih setia menunggu di belakangnya, tanpa mengucapkan apapun.
"Kamu bisa pulang sekarang. Thanks for your help." Kata Seulgi setelah membuka pintu flatnya.
Jimin kaget, namun tidak lama. Penolakan seperti ini sudah biasa terjadi kepadanya. Hampir setiap dia ingin mampir ke tempat Seulgi. "Ngga, aku mau bantu kamu."
Seulgi menghela nafas. "Jimin, please. Aku capek, mau langsung tidur selesai beresin belanjaan ini. Buat apa kamu mampir?"
"Ya udah, terserah kamu. Tapi aku taro belanjaan ini ke dalem dulu, oke?"
Seulgi mengangguk, kemudian membiarkan Jimin masuk terlebih dahulu. Flatnya kecil. Ketika masuk, langsung disambut oleh dapur di sebelah kiri dan sebelah kanan pintu adalah kamar mandi dan lemari sepatu.
Setelah Jimin meletakkan bawaannya di atas meja, dia berbalik dan mendapati Seulgi sudah siap menyambutnya di pintu masuk.
"Aku pulang. Sleep well, Gi." Jimin nyaris mendaratkan tangannya di bahu kanan Seulgi sebelum gadis itu menyingkir perlahan. Sebuah penolakkan, lagi.
"Makasih. Hati-hati." Tetapi Seulgi masih memberikan senyum tipisnya itu. Jimin menghela nafas kemudian keluar dari flat Seulgi.
***
Saat jam makan siang, Jimin datang ke kantor Seulgi. Kantor mereka yang masih di kawasan yang sama membuat Jimin sering mampir untuk mengajaknya makan siang dan mengantar cewek itu pulang.
Seulgi tidak mungkin menolak. Kasihan dengan Jimin yang berjalan 10 menit di siang hari hanya untuk mengajaknya makan siang. Dia masih menghargai usaha Jimin.
Dengan berat hati, Seulgi kini sudah duduk berhadapan dengan Jimin di restoran murah namun enak yang berjarak 5 menit dari kantornya.
Saat menunggu pesanan mereka datang, Seulgi tidak mengajak Jimin bicara. Dia hanya memainkan ponselnya. Maklum, kerjaan hari ini benar-benar banyak sehingga dia susah untuk mengecek ponselnya. Di hadapannya, Jimin hanya menatap Seulgi yang sibuk dengan kegiatannya sendiri.
"Aku di sini, loh. Ga ajak aku ngobrol?" Jimin akhirnya bertanya karena dia jengah didiamkan seperti ini.
Seulgi mendongak, kemudian dia segera menyimpan kembali ponselnya ke dalam tas. Dia balik menatap Jimin, namun tanpa mengucapkan apapun.
"Am I a joke to you?" Jimin tertawa miris setelah bertanya dan Seulgi hanya menatapnya heran.
"Maksud kamu?"
"Usaha aku buat dapetin kamu ini ga ngaruh apapun ke hati kamu, ya?"
"Kita pernah bahas ini dan alasan aku masih sama. You chose to stay and you blamed me?"
"Alasan kamu konyol, Gi. Aku ga habis pikir. Dulu kamu suka sama aku, setelah aku tau dan kejar kamu, malah perasaan kamu itu hilang. Is that even make sense?" Suaranya terdengar frustasi. Jimin mengusap wajahnya kasar.
"Buat aku iya. Kalau kamu capek dan ngerasa perjuangan kamu sia-sia, silahkan pergi. Tinggalin aku dan cari perempuan lain yang lebih pantas dari aku." Seulgi berucap dengan tegas. Dia berharap pengunjung lain tidak mendengar pertengkaran kecilnya dengan Jimin.
"I've fallen to deep for you. Aku ga bakal bisa ninggalin kamu tiba-tiba." Jimin menatapnya penuh harap. Cepat-cepat Seulgi mengalihkan tatapannya ke arah lain asalkan buka kedua mata Jimin.
"Ini udah jalan setahun, Jim. Kamu tau? Perasaan aku semakin terkikis. Kamu jangan sia-siain waktu kamu untuk aku lagi."
Saat Jimin ingin bersuara, pelayan datang membawa pesanan mereka. Setelah mengucapkan terima kasih, Jimin kembali menatap Seulgi.
"Aku bakal pastiin perjuangan aku ga sia-sia. Makan makanan kamu." Jimin terdengar marah dan suaranya menjadi lebih rendah.
—-
wkxnshzhshsysy aku gatau ini apa. silahkan marah sm aku wkwkwwk
KAMU SEDANG MEMBACA
The Journal [p.j.m & k.s.g]
Fan-Fiction[SLOW UPDATE] Kumpulan cerita Jimin x Seulgi.
![The Journal [p.j.m & k.s.g]](https://img.wattpad.com/cover/94491939-64-k762745.jpg)