Hubungannya dengan sang kekasih yang sudah berjalan selama dua bulan menimbulkan kebiasaan-kebiasaan tersendiri. Seperti membeli barang-barang milik kekasihnya di supermarket saat dia sedang belanja bulanan.
Kang Seulgi membelokkan trolinya ke bagian peralatan mandi laki-laki. Dia ingat, sabun pembersih muka lelaki itu sudah habis dari seminggu yang lalu dan dalam seminggu itu, dua hari Jimin menginap di tempatnya dan memakai sabun pembersih mukanya.
Oh, dan juga alat cukur Jimin yang ada di tempat Seulgi sudah harus diganti. Maka gadis itu segera mengambil keperluan milik Jimin untuk di rumahnya.
Ponselnya berdering di saku jaketnya. Nama Jimin tertera dan Seulgi segera menjawab panggilan itu.
"Aku sudah selesai. Kau di mana?" Tanya Jimin tanpa basa-basi.
"Well, hello. Aku di supermarket dekat rumahku. Kenapa?" Seulgi kembali menjalankan trolinya ke bagian bumbu dapur.
"Aku jemput, ya? Aku ingin makan masakanmu." Kekehan khas lelaki itu terdengar di akhir kalimatnya dan Seulgi tersenyum mendengarnya.
"Kau mau makan apa?"
"I'm fine with everything."
"Okay. See you in a few minutes?" Seulgi meletakkan garam ke dalam trolinya kemudian membenarkan letak ponselnya.
"Ya. Kalau sudah selesai dan aku belum sampai, tunggu dengan sabar, oke?"
"Iya, bawel. Hati-hati dan jangan lupa pakai seatbelt!" Seulgi berucap galak dan kembali terdengar suara kekehan Jimin. Kemudian setelah lelaki itu mengucapkan i love you, sambungan terputus.
***
Setelah meletakkan plastik belanjaan mereka, Jimin ikut serta membantu Seulgi untuk menata semua belanjaan yang telah dibeli. Dimulai dari keperluan untuk dapur. Plastik yang berisi macam-macam bumbu dapur diseret oleh lelaki itu.
Mereka bergerak dengan teratur. Seulgi memberikan satu per satu barang dan Jimin yang menyusunnya di rak. Karena terlalu sering berkunjung, Jimin sampai tahu letak persisnya barang-barang di dalam rak dapur ini.
"What do you want? Pasta?" Tanya Seulgi sambil melipat plastik belanjaan tadi menjadi kecil. Jimin menutup rak perlahan.
"Boleh. Asalkan tidak perlu membuatmu lelah. Seharian ini kau sibuk, kan?"
"Ya, lumayan. Kalau begitu, aku masak sekarang." Seulgi berdiri dan mulai mempersiapkan alat dan bahan untuk memasak pasta yang akan menjadi santapan makan malam mereka.
"Oke. Aku akan mandi selagi kau memasak." Jimin meninggalkan dapur dan dengan santainya masuk ke dalam kamar kekasihnya untuk mengambil handuk baru di dalam lemari.
"Sabun pembersih muka dan alat cukurmu yang baru sudah aku beli, ya!" Seulgi berteriak dari dapur ketika Jimin sudah masuk ke dalam kamar mandi. Dengan malas dia keluar untuk mengambil dua barang tersebut yang masih ada di dalam plastik belanjaan Seulgi lalu kembali masuk ke dalam kamar mandi.
***
Jimin menghampiri Seulgi yang masih memasak. Pakaiannya sudah berganti menjadi piyama yang entah bagaimana bisa ada di lemari Seulgi. Well, beberapa bajunya memang banyak yang tertinggal di sini. Entah baju tidur, kerja, atau baju biasa. Jimin bahkan tidak berniat untuk mengambil semuanya untuk dibawa pulang.
"Kertas design aku untuk Tuan Kim di mana, ya?" Jimin bertanya dengan panik begitu mengingat percakapannya dengan Tuan Kim tadi siang. Pria paruh baya itu menelfon untuk menanyakan perkembangan rancangan yang sedang Jimin buat.
"Yang dua hari lalu itu? Ada di dekat TV." Jawab Seulgi cepat. Lelaki itu bergegas dengan langkah besar dan bernapas lega ketika menemukannya. Kebiasaannya yang sering meninggalkan kerjaannya di tempat Seulgi. Seperti rumah sendiri saja.
"Dinner is ready. Put it down and come here." Kata Seulgi dari dapur. Jimin nurut dan langsung meletakkan kertas itu ke tempat semula dan kembali ke dapur.
"Thank you." Kata Jimin setelah duduk dan mendapatkan makanannya. Setelah berdoa singkat, dia segera menyantap makanannya selagi Seulgi menyiapkan gelas untuk minum.
"Almost all my belongings are here. Are you okay with that?" Jimin bertanya setelah menelan kunyahan makanannya.
Seulgi menatap lelaki itu heran. "Tentu saja. Memangnya aku protes?"
"Tidak. Takut saja kau keberatan karena barang-barangku mulai memenuhi tempatmu dan mengurangi space untuk menaruh barang milikmu." Kata Jimin memberi penjelasan.
"Barangku sedikit jadi masih ada space banyak untukmu."
"Sepertinya aku akan membawa beberapa barang ke tempatku."
"Eh? It's okay, seriously. Kalau kau menginap jadi tidak repot, kan?" Seulgi menggeleng mendengarnya. Jimin ini sepertinya berpikir kalau dia sangat amat merepotkan Seulgi.
"Lama-lama semua bajuku akan pindah kemari." Kata Jimin dan tertawa pelan setelahnya.
"Ya, lalu tempatmu kosong dan berdebu."
"I think we should live together."
Seulgi nyaris tersedak mendengar saran dari kekasihnya itu. Alasan apa yang membuat Jimin berkata demikian? Duh.
"Why? Kantormu jauh dari tempatku, loh."
"Aku tidak suka tinggal sendirian." Kata Jimin santai. Seulgi diam sambil mengunyah makanannya. Dia memikirkan saran lelaki itu terlebih dahulu. Walaupun mereka sudah sering menginap di tempat satu sama lain, tapi harus ada yang dikhawatirkan.
"Kita sudah sering tinggal bersama, kan? Bahkan aku pernah menginap di sini lebih dari seminggu." Kata Jimin.
"Kita sudah terbiasa dengan kehadiran satu sama lain. Jadi tidak ada yang perlu dipikirkan lagi. Aku akan cari tempat yang lebih besar dari tempat kita berdua." Lanjut lelaki itu lagi.
"Boleh juga, sih. But, if something 'bad' will happen, how is it gonna be?" Kata Seulgi sambil mengutip kata bad. Bagaimana kalau tiba-tiba mereka putus? Seulgi akan tinggal di mana?
"Aku akan melamar- shit." Jimin segera memukul mulutnya yang keceplosan akan rencananya itu.
"Apa?" Seulgi bertanya heran, kurang paham dengan ucapan Jimin yang terpotong itu.
"Forget it. Yang penting kita harus tinggal bersama, oke? Aku akan mencari tempat tinggal untuk kita secepatnya." Kata Jimin setengah kesal. Beruntung Seulgi agak lemot jadi Jimin berharap gadis itu tidak paham dengan ucapannya tadi.
—-
Another shitty chapter from me...
Selamat libur genks
KAMU SEDANG MEMBACA
The Journal [p.j.m & k.s.g]
Fanfiction[SLOW UPDATE] Kumpulan cerita Jimin x Seulgi.
![The Journal [p.j.m & k.s.g]](https://img.wattpad.com/cover/94491939-64-k762745.jpg)