Seulgi sekali lagi memeriksa penampilannya di cermin. Tank top crop top hitam, hot pants hitam dan jaket jeans kesayangannya sudah terpakai cantik di tubuhnya. Perut ratanya yang mempunyai otot perut itu terlihat sedikit, bahunya yang terekspos itu dia tutup dengan jaket jeansnya. Sempurna.
Dia keluar dari tempat tinggal kecilnya yang rapi dan terawat ini. Di bawah, temannya baru saja datang menjemput. Tujuan mereka kali ini tentu saja kelab malam langganan mereka yang sudah lama Seulgi tidak kunjungi.
Salah satu atasannya cuti dan semua pekerjaan hampir diberikan kepada Seulgi, membuat gadis itu mau tak mau lembur sejak dua minggu yang lalu. Ajakkan teman-temannya bahkan selalu dia tolak demi pekerjaannya cepat selesai.
Dan akhirnya kemarin pekerjaannya selesai dan Seulgi bisa bernapas lega karena bisa bersantai.
Pukul 9 lewat 37 menit ketika mobil yang ditumpangi Seulgi ini meninggalkan area tempat tinggalnya.
***
Seulgi menguncir rambutnya asal dan setelah itu mengambil kotak rokok milik Rosè yang tergeletak di atas meja begitu saja. Perempuan berambut merah gelap itu sedang mengobrol dengan temannya di meja sebelah. Joy di sampingnya sedang memainkan ponsel dengan raut wajah yang tidak dapat dijelaskan.
Dua temannya lagi masih di jalan, katanya hari ini mereka lembur tapi tetap memaksa datang kemari. Jadi mereka terlambat.
"Joy, ada korek?" Seulgi bertanya setelah tidak menemukan korek di kotak rokok Rosè.
"Memangnya punya Rosè tidak ada?" Joy bertanya namun tangan kanannya tetap memberikan apa yang Seulgi minta.
"I don't know. It's not here." Seulgi menjawab sambil menaikkan kedua bahunya. Rokok itu dia selipkan di antara bibirnya lalu menyalakannya.
"Sepi sekali. Where is the DJ?" Joy mengeluh karena keadaan di sini tidak seramai biasanya.
"Tadi aku lihat di papan dekat pintu masuk kala DJnya mulai pukul 11. Sabar." Jawab Seulgi. Dihisapnya rokok itu lalu dihembuskan asapnya ke atas.
"I need to dance right now. Pekerjaan ini benar-benar membuatku penat." Kata Joy.
"Ada apa? Cerita saja."
"It's not that serious, tapi mereka memberikanku banyak sekali pekerjaan. Menyuruhku ini itu mentang-mentang aku anak baru. Padahal, aku sudah tiga bulan di sana. Bahkan seminggu yang lalu ada anak baru di divisiku, kenapa tetap aku yang dibudakkan?" Joy berkata dengan kesal. Temannya yang lebih muda dari dia ini memang baru saja mendapat pekerjaan 3 bulan yang lalu, dan belum kenal betul dengan dunia pekerjaan.
"Ambil positifnya saja, mereka percaya dengan pekerjaanmu maka dari itu mereka sering menyuruhmu. Pun kalau bukan itu alasannya, ikuti saja kemauan mereka. Kau tahu? Dunia perkantoran itu sangat kejam, ada saja ide licik untuk menjatuhkan satu sama lain. Ibuku pernah bilang, jangan terlalu dekat dengan orang di kantormu. Kau tidak tahu apa yang mereka rencanakan ke depannya." Seulgi berkata lumayan panjang. Dia hanya berharap Joy mendengar semuanya karena musik yang dimainkan sekarang cukup keras.
"Kau betul. Ibuku juga pernah berkata seperti itu. Ah, semakin dewasa kenapa semakin banyak permasalahan, sih? Menyebalkan." Joy menggerutu kesal. Tangannya meraih gelas yang berisikan minuman beralkohol itu, berharap beberapa tegukkan dapat meredakan kekesalannya.
"Karena banyaknya permasalahan hidup makanya tempat laknat seperti ini ada, Joy. Hanya tempat ini yang bisa meredakan pikiran orang semacam kita." Seulgi tertawa hambar setelah mengucapkannya.
Rokoknya masih sisa setengah namun Seulgi mematikannya. Seulgi tidak pernah membeli sekotak rokok, Seulgi setiap harinya tidak merokok, hanya di waktu-waktu seperti ini saja dia merokok. Saat dia mengedarkan pandangannya ke sekitar, tatapannya bertemu dengan seorang lelaki bermata kecil dan berambut hitam, dan sialnya Seulgi kenal siapa lelaki itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Journal [p.j.m & k.s.g]
Fanfiction[SLOW UPDATE] Kumpulan cerita Jimin x Seulgi.
![The Journal [p.j.m & k.s.g]](https://img.wattpad.com/cover/94491939-64-k762745.jpg)