mulmed credit to weheartit
---
"Aku mau buat perjanjian." Seulgi menghampiri Jimin yang sedang meneguk kopinya di ruang makan. Gadis itu menarik bangku di hadapan Jimin dan mendudukinya. Kertas yang sedari tadi dia simpan di belakang tubuhnya dia letakkan di atas meja.
"Ini apa?" Tanya Jimin. Dia memperhatikan Seulgi yang balik menatapnya tajam.
"Perjanjian." Jawab Seulgi, tatapannya masih terpaku di Jimin.
"Perjanjian apa?"
"Perjanjian untuk pernikahan kontrak ini." Seulgi menekan kata kontrak. Tangan kanannya menggeser kertas yang berisikan perjanjian yang sudah dia tulis ke arah Jimin.
"Semuanya sudah jelas, tidak perlu membuat perjanjian lagi." Jawab Jimin. Dia mengalihkan pandangannya ke belakang Seulgi, menghindari tatapan istri kontraknya itu.
"Tidak, aku harus menulisnya dan kau perlu menandatangani ini." Seulgi semakin menggeser kertas itu ke arah Jimin.
"Tidak perlu. Aku tahu ini pernikahan kontrak, dua tahun lagi semuanya selesai."
"Just fucking read this and sign it!" Seulgi berteriak kesal. Dilemparnya bulpoin yang sudah dia genggam sedari tadi. Jimin menatap Seulgi dengan sabar dan membaca kertas tadi agar Seulgi tidak mengamuk lebih parah.
"Tidak mengurusi urusan masing-masing? Oke. Hanya bersandiwara di hadapan orangtua? Aku jelas tahu ini. Jangan menghubungi kalau tidak ada urusan penting? Hmm, boleh juga." Jimin mengangguk mengerti membacanya. Sedangkan Seulgi masih menatap Jimin dengan tatapan tajam dan perasaan kesal.
"Tidak boleh jatuh cinta satu sama lain?"
And with that, he looked at her with a suprised on his face. While she gave him her beautiful smile.
***
Itu sekitar 7 bulan yang lalu, saat mereka baru 2 hari menikah. Sekarang mereka menjalani kehidupan pernikahan mereka yang semua didasari oleh perjanjian yang telah Seulgi buat. Sejauh ini semuanya lancar. Mereka tidak mengurusi urusan masing-masing dan menurut Seulgi itu adalah hal yang sangat bagus.
Sekarang Seulgi sedang merias diri. Jam menunjukkan pukul 7 lewat 23 menit. Sebentar lagi temannya akan menjemput untuk datang ke birthday party salah satu temannya yang diadakan di kelab malam terkenal di Itaewon. Sebenarnya acaranya mulai pukul 10, tapi Seulgi dan temannya ingin bersantai dan mengobrol banyak.
Dering ponselnya membuat Seulgi menghentikan kegiatan meriasnya sejenak untuk mengambil ponsel yang dia letakkan di atas ranjangnya.
Seulgi menghela nafas malas begitu melihat caller ID. Si Park Jimin, suami kontraknya itu.
"Apa?" Tanya Seulgi cuek. Dia kembali berada di depan cermin, mengambil brush untuk mengaplikasikan blush on di pipinya.
"Malam ini aku pulang." Ucap Jimin disebrang sana, terdengar sangat menggangtung di telinga Seulgi. Jadi dia tidak merespon takut-takut Jimin kembali berbicara.
"Seul?" Tanya Jimin dengan halus.
"Ya?"
"Malam ini aku pulang." Ulang Jimin.
"Oh, lalu?" Tanya Seulgi tidak mengerti. Jimin tidak langsung menjawab, ada jeda sekitar 3 detik diantara mereka berdua.
"T-tidak, hanya memberitahumu saja. Pastikan kau di rumah." Ucap Jimin. Tanpa membiarkan Seulgi menjawab, Jimin memutuskan sambungan mereka. Seulgi hendak mengatakan dia akan keluar malam ini, tapi lelaki itu sudah memutuskan sambungan. Dan Seulgi tidak ingin repot-repot untuk mengirim pesan dan mengatakan dia akan pergi dengan teman-temannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Journal [p.j.m & k.s.g]
Fanfiction[SLOW UPDATE] Kumpulan cerita Jimin x Seulgi.
![The Journal [p.j.m & k.s.g]](https://img.wattpad.com/cover/94491939-64-k762745.jpg)