Seulgi membaringkan tubuhnya di sofa sambil mencari saluran di televisi. Dia baru saja selesai mandi dan handuk masih membungkus kepalanya. Hari ini adalah hari liburnya yang harus dia manfaatkan dengan sebaik-baiknya.
Dia ingin beristirahat dan merawat diri, seperti kebanyakan perempuan lain lakukan ketika mereka mendapat hari libur. Pekerjaannya yang sedang menumpuk membuat Seulgi membuat wajahnya nampak lelah, apa lagi kantung matanya.
Seulgi memutuskan untuk mengeringkan rambutnya karena tidak menemukan acara yang bagus untuk dia tonton siang ini. Maka dia menyetel acara apapun hanya untuk sekedar backsound selagi mengeringkan rambutnya.
Ketika dia lagi mengeringkan rambutnya, bel apartemennya berbunyi dan Seulgi dengan sigap langsung berdiri dengan rambutnya yang agak berantakan dan masih setengah kering.
"Oh, hai." Sapa Seulgi gugup setelah melihat siapa yang ada di depan pintu apartemennya. Berdirilah tetangga sebelah bernama Park Jimin di hadapannya dengan pakaian casualnya, sweater abu-abu dan jeans hitam.
"Baru selesai mandi?" Tanya Jimin.
"Ya. Umm, ada apa?"
"Aku hanya ingin mengajakmu pergi hari ini. Ada barang yang ingin aku beli." Jawab Jimin tanpa gugup sedikitpun. Dilihatnya Seulgi sedikit tersentak mendengar ajakannya.
"O-oh, tentu. Mau masuk dulu? Aku masih harus mengeringkan rambutku dan bersiap." Ajak Seulgi. Dia membuka pintunya lebih lebar dan menggeser badannya agar Jimin dapat masuk ke dalam.
"Oke."
***
Sekitar 30 menit setelahnya mereka telah berada di dalam mobil Jimin untuk menuju ke Myeongdong yang terkenal dengan banyaknya toko-toko dengan harga yang murah sampai yang paling mahal sekalipun.
Mereka tidak canggung sama sekali setelah berada di dalam mobil. Mereka bercanda dan benyanyi bersama mengikuti lagu yang terpasang di radio.
Seulgi dan Jimin kini berjalan menyusuri jalan di Myeongdong, masuk keluar toko untuk mencari barang yang diperlukan lelaki itu. Yah, walaupun sebenarnya itu hanya kedok karena alasan sebenarnya dia mengajak Seulgi pergi karena Jimin ingin jalan dengan tetangganya itu.
"Sebenarnya yang kau cari apa, Jim? Kita sudah masuk ke banyak toko." Seulgi merengut lucu di sampingnya. Melihat Seulgi yang kesal, Jimin hanya tertawa. Selain cantik saat tersenyum, Seulgi juga cantik saat ngambek.
"Apa, ya? Kau mau barang? Biar aku belikan."
"Tidak. Kita kesini karena kau bilang ingin membeli barang, kan?" Jimin mengangguk. Tangan kanannya kini beralih untuk mengenggam tangan Seulgi. Gadis itu bahkan tidak menolak ketika merasakan tangan Jimin menggenggam miliknya.
"Kau suka apa?" Tanya Jimin lagi. Mereka menyusuri jalanan dengan toko-toko di kanan dan kiri mereka.
"What is your point exactly?" Tanya Seulgi sedikit kesal. Kalau seperti ini jadinya, dia lebih memilih untuk bersantai di rumah sambil memakai masker di wajahnya.
"You look mad."
"I am. Now tell me." Seulgi mencoba untuk melepaskan genggaman tangan Jimin, namun lekaki itu mengeratkannya. Tidak ingin kehangatan dari genggaman mereka berakhir.
"Bulan lalu ulang tahunmu dan aku belum memberikanmu hadiah. Jadi sesuatu yang harus aku cari hari ini adalah sesuatu yang akan aku berikan untukmu sebagai kado." Jelas Jimin. Seulgi ingin marah kepada Jimin, namun mendengar penjelasan lelaki itu mengurungkan niatnya.
"Kau serius?" Tanya Seulgi. Senyuman cantik terlihat di wajah Seulgi, membuat Jimin menahan diri untuk tidak mencubit pipi tembam milik gadis di sampingnya ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Journal [p.j.m & k.s.g]
Fanfiction[SLOW UPDATE] Kumpulan cerita Jimin x Seulgi.
![The Journal [p.j.m & k.s.g]](https://img.wattpad.com/cover/94491939-64-k762745.jpg)