#AUTHOR
"Diminum, P'..." Knott menengadahkan wajahnya ke atas, tersenyum sembari mengambil segelas minuman dari tangan Tiw.
"Terimakasih, Tiw." Ucapnya. Tiw mengangguk malu. Dia kemudian duduk di samping Knott yang masih terlihat sangat tertekan saat itu.
Tiw duduk disana, tanpa berkata apapun. Begitu pun dengan Knott. Dia hanya duduk diam, menerawang ke kejauhan sambil sesekali menghela nafasnya dengan berat. Knott tersenyum kecil, ketika semilir angin pagi itu menerpa tubuhnya. Dia menghirup udara sebanyak-banyaknya, untuk me-refresh pikirannya yang tengah kalut.
"Suasana disini... sangat nyaman, P'Knott." Tiw memecah keheningan, ketika dia melihat Knott tengah tersenyum lebar sambil memejamkan matanya.
Knott mengangguk setuju, "Ibu sangat suka menanam pohon dan bunga. Jadi, halaman rumahku jadi rindang seperti ini. Kau tau, semua tanaman disini, di tanam sendiri oleh ibu. Dulu, waktu aku masih kecil, aku juga sering membantunya menanam bunga. Dan akhirnya, ini juga jadi tempat favoritku. Jika aku disini, aku jadi merasa lebih tenang dan bisa berpikiran jernih."
Tiw mengangguk, "Terimakasih, sudah mengajakku kesini, P'.."
"Hey, harusnya aku yang berterimakasih padamu, N'Tiw. Kau sudah mau menemaniku kesini. Aku beruntung memiliki teman bicara disaat-saat seperti ini."
Tiw tersenyum kecil, menonjolkan kedua pipinya yang memerah. "Sama-sama P'. Kau bisa menceritakan semuanya padaku jika kau mau. Aku akan mendengarkannya semuanya." Ucapnya pelan.
"Hm, terimakasih ya..."
"P'Knott... sudah tidak apa-apa?" Tanyanya lagi.
Knott menggeleng, "I'm okay." Jawabnya pasti.
"Lalu... sampai kapan P'Knott disini?"
"Emm... entahlah. Aku sudah mengajukan cuti selama 3 hari di Kantorku. Tapi... aku mungkin akan membutuhkan waktu lebih dari itu. N'Tiw.. kau tidak perlu menemaniku terus disini. Kau bisa kembali ke Bangkok lebih dulu. Aku tidak mau, kau meninggalkan kuliahmu lama-lama."
Tiw terdiam sebentar sambil memandang seniornya yang sudah dia sukai selama 2 tahun itu, "Aku pikir... membolos kuliah dua atau tiga hari masih tidak masalah kok, P'. Aku... ingin menemani P'Knott disini." Lirihnya.
Knott tertegun, kemudian menyelingkan tawanya.
"P'Knott kenapa tertawa? Apanya yang lucu?"
"Tidak... tidak apa-apa..." Kata Knott. Tapi Tiw masih memandangnya dengan tatapan tidak percaya. "N'Tiw... boleh aku tanya sesuatu?"
"Tentu P'. Mau tanya apa?"
Knott terdiam. Senyumnya perlahan berubah menjadi seringaian kecil, dan matanya menatap lurus ke arah Tiw. "Kenapa kau menyukaiku?"
Tiw membelalak kaget. Dia diam dan langsung memalingkan wajahnya dari pKnott.
"Kenapa N'Tiw? Apa yang kau lihat dariku?" Knott masih menuntut jawaban.
"P-P'Knott... tau... soal itu?"
"Soal kau yang diam-diam menyukaiku? Tentu saja." Ujar Knott sambil tertawa kecil.
"P'Knott... tau darimana?"
"N'Tiw, hanya orang bodoh yang tidak bisa melihat itu. Aku bisa merasakannya. Aku juga tau, ketika kita satu asrama dulu, kau lah orangnya, yang selalu meletakkan segelas kopi americano di depan pintu kamarku. Benar kan?"
Tiw semakin merasa malu dan terpojok. Wajahnya langsung terasa panas dan memerah seketika. Tiw hanya bisa diam sambil meneguk ludahnya. Berbanding terbalik dengan Tiw, Knott justru menertawakannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
NO REGRET, JUST LOVE
FanfictionAgain. Sotus fanfiction. Want to know? Just read it! Happy reading.... ^^
