SPECIAL CHAPTER "PITCHER-DEE"

2.8K 200 39
                                        


"Aku pulang..." Pitcher memasuki kamar apartemennya dengan tampang lusuh dan kemeja yang sudah berantakan. Dee, yang mendengar suara kekasihnya, langsung berlari ke luar kamar dan menyambutnya.

"Pitcher, kau sudah pulang?" Ucapnya dengan senyum sumringah.

Pitcher tersenyum sendu, sambil mengangguk. Dee kemudian berjalan menghampiri kekasihnya itu, memberinya sebuah pelukan dan ciuman selamat datang.

"Bagaimana pekerjaanmu?"

"Sangat melelahkan, P' tubuhku terasa mati rasa semua."

Dee terkekeh pelan. Dia mengambil tas koper di tangan Pitcher, lalu meletakkannya di sofa. "Kau sudah bekerja keras. Duduklah, aku akan siapkan air hangat untukmu mandi. Kau sudah makan malam kan?" Ujar Dee sambil berjalan ke kamar mandinya.

"Sudah," Kata Pitcher sambil menjatuhkan tubuhnya di sofa.

"Oh iya, aku sudah selesai mempacking semua barang-barang keperluanmu. Jadi besok pagi, kau tinggal berangkat. Atau, kau memerlukan sesuatu yang lain untuk kau bawa ke New York?" Kata Dee dari dalam kamar mandi.

Pitcher yang mendengar itu hanya bisa menghela nafas keras. Dia tidak habis pikir, bagaimana kekasihnya itu bisa sesantai itu, bahkan ketika dia tau bahwa besok pagi mereka akan berpisah selama 1 bulan penuh. Memikirkannya saja, Pitcher ingin mati rasanya. Bagaimana bisa dia tidak bertemu dengan kekasih tercintanya selama 1 bulan?

"Kenapa kau tidak menjawabku? Huh?" Tanya Dee, yang sekarang sudah berada di belakang Pitcher. Pitcher menengadahkan wajahnya dan memandang kekasihnya yang sedang memijit pundaknya dengan lembut itu. "Kau terlihat sangat lelah, Pitcher. Ku mohon, jangan memaksakan diri saat kau di New York nanti. Seberapa pun sibuknya, kau harus banyak istirahat. Mengerti?"

Pitcher tersenyum sedih sekaligus bahagia mendengar perhatian yang kekasihnya ini berikan. Dia kemudian meraih tangan kanan Dee yang sedang berada di pundaknya, lalu membawanya ke depan wajahnya dan menciumnya lembut, "P'... bisakah kau duduk berdua denganku sebentar?" Tanyanya.

Tanpa bertanya lagi, Dee akhirnya berjalan memutari sofa dan duduk di samping kekasihnya.

"Kau... akan baik-baik saja tanpa aku kan, P'Dee?" Pitcher meremas kedua tangan Dee.

Dee tersenyum, "Tentu saja. Aku bukan anak kecil lagi. Aku bisa menjaga diriku sendiri."

Pitcher menundukkan kepalanya dan menghela nafas pelan, "Kita tidak akan bertemu selama 1 bulan, P'." Ucapnya lemas.

"Euh, hanya 1 bulan kan?" Dee kemudian membawa tangannya ke pipi Pitcher dan mengusapnya perlahan. "Itu tidak akan terasa lama. Percayalah."

"Akan sangat terasa lama tanpa kau disisiku, P'. Heuh... harusnya aku menolak saja tawaran bisnis konyol dari ayahku itu. Mana bisa aku pergi ke New York sendirian, tanpamu, selama satu bulan penuh? Aku bisa mati!"

Dee terkikik geli mendengar kekasihnya yang berbicara seperti orang putus asa. "Kau terlalu melebih-lebihkan anak nakal. Sudahlah, jangan mengeluh. Kau harus tetap pergi. Sekarang kau adalah direktur. Kau harus bertanggung jawab penuh atas perusahaanmu. Aku... akan menunggumu disini, Pitcher."

Pitcher diam sejenak, sebelum matanya turun menatap tangan mereka yang sedang bertaut.

"P'... tidak bisakah, P' ikut bersamaku kesana?" Tanyanya lugu.

"Jangan bodoh, Pitcher. Aku pun juga masih punya pekerjaan disini. Aku tidak bisa meninggalkan pekerjaanku begitu saja. Lagipula, kau pergi... tidak akan lama. Hanya satu bulan, bukan selamanya. Jangan terlihat putus asa seperti ini, Pitcher."

Pitcher akhirnya kembali mengangkat wajahnya dan menatap mata kekasihnya dalam-dalam.

"Aku tidak akan disini selama sebulan, P'."

NO REGRET, JUST LOVETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang