#AUTHOR
"Hey Kong, sudah berapa hari Wad menghilang? Kita sama sekali belum menemukan jejaknya." Aim mengutarakan kekhawatirannya pada kawannya hari itu, ketika mereka sedang melakukan rapat akhir untuk event Capture The Flag.
"Euh, aku tau. Aku juga sedang berusaha mencarinya."
"Kong, apa menurutmu... Wad baik-baik saja sekarang?" Tiw menambahkan.
Kongpob hanya mengangkat bahunya pasrah, "Semoga." Lanjutnya lagi. "Kalau begitu, rapat aku akhiri sampai disini. Ingat, ini adalah kegiatan terakhir kita. Jadi jangan sampai ada kesalahan sedikit pun. Dan soal Wad, bagi kalian, siapapun yang punya info mengenai Wad, langsung beri tau aku, oke? Baiklah, kalian boleh bubar."
Kongpob pun akhirnya membubarkan rapat malam itu. Semua teman-temannya keluar dari ruang rapat satu persatu. Namun Kongpob masih tidak bergerak dari ruangan itu. Pembicaraan mengenai Wad tadi benar-benar jadi membuatnya semakin khawatir kepada temannya yang satu itu. Kongpob memandang ke arah kursi paling ujung, tempat dimana biasanya Wad duduk ketika mereka sedang melakukan rapat. Ketidakhadirannya benar-benar membuat sebuah perubahan besar di dalam timnya. Kongpob benar-benar kewalahan. Selain Tiw, satu-satu temannya yang selalu memberikan bantuan besar kepada Tim mereka adalah Wad. Jadi ketika Wad tidak ada, Kongpob benar-benar kelimpungan.
Namun tidak hanya sebatas itu, Kongpob mengkhawatirkan Wad sebagai teman. Kongpob tau bagaimana Wad yang dulunya mempunyai masa lalu yang cukup kelam. Kongpob hanya berharap, kali ini Wad tidak kembali pada hal-hal tersebut. Hal-hal yang akan semakin akan menghancurkan dirinya.
Kongpob menghela nafasnya pelan. Dia menyandarkan tubuhnya dengan nyaman di kursinya dan mencoba memikirkan cara untuk menemukan Wad. Dia memejamkan matanya sambil memijat pelipisnya pelan. Semua kegiatan cheer sudah membuatnya sangat lelah, dan masalah Wad juga membuat semuanya semakin rumit.
"Jika saja hari itu aku tidak memberi tau nomor dorm milik Wad pada lelaki itu, mungkin semuanya tidak akan begini," pikirnya.
"Hey Kong," Suara Aim tiba-tiba menganggu lamunannya. "Kenapa kau masih disini?" Lanjutnya.
"Iya iya, sebentar lagi aku menyusul."
"Tidak perlu. Ada yang ingin bertemu denganmu." Kata Aim lagi. Setelah itu, seseorang muncul dari belakang Aim dan mengagetkan Kongpob.
"P'Arthit?? P'Arthit sedang apa disini?" Tanya Kongpob kaget. Arthit hanya tersenyum kecil.
"Euh, kalau begitu, aku duluan ya Kong, Aku tidak mau mengganggu malam kalian." Ujar Aim sambil menyeringai. "P'Arthit, Sawaddee khrub." Aim pun kemudian meninggalkan mereka berdua.
"P'Arthit kenapa bisa ada disini?" Tanya Kongpob lagi. Arthit kemudian berjalan menghampiri Kongpob dan duduk di sampingnya.
"Memangnya aku tidak boleh menemui kekasihku sendiri?" Ucap Arthit memanja. Kongpob tergelak.
"P'Arthit... hentikan. Kau membuatku ingin mencumbumu disini sekarang juga!"
"Bodoh!" Arthit memukul kepala Kongpob. "Kau itu mesum sekali sih?" Dengusnya.
Kongpob tertawa, "Baiklah P'. Aku tidak akan menggodamu lagi. Jadi ada apa? Kenapa P'Arthit tidak bilang kalau mau kesini? Kalau P'Arthit bilang kan, aku bisa menjemput P'Arthit,"
"Aku baru pulang dari apartemen Prem. Tadi, dia mengundang kami semua untuk datang kesana, karena dia ingin membicarakan sesuatu. Karena aku melewati Kampus, aku jadi sekalian mampir untuk menemuimu. Karena ada hal yang ingin aku ceritakan juga padamu soal Prem, Kong," Ucap Arthit dengan nada bicaranya yang semakin pelan.
KAMU SEDANG MEMBACA
NO REGRET, JUST LOVE
FanficAgain. Sotus fanfiction. Want to know? Just read it! Happy reading.... ^^
