Renzan kembali mendapatkan jadwal pemotretan untuk sebuah iklan sepatu olahraga dan tentunya bersama Rena. Akhir-akhir ini jadwal pemotretan Renzan sangat padat karena minat konsumen jatuh pada Renzan. Begitupun dengan perasaannya yang nelangsa. Perasaan cemburu yang selalu ditahannya, perlahan-lahan membuatnya gila. Gila batin karena berusaha menahan perasaan cemburu itu keluar dari lubuk hatinya.
Namun saat ini, ia masih dapat mengendalikan emosinya, dapat mengendalikan keprofesionalitasannya sebagai model untuk banyak iklan. Meskipun dengan suasana tempat kerja yang nyaman dan kondusif, tetap saja tidak membuat hati Renzan penuh keceriaan.
Penyebabnya hanya Reve seorang. Penyebabnya karena Renzan mulai membentangkan jarak pada Reve. Ia disibukkan dengan pekerjaannya dan pelajaran. Ia membiarkan Reve dekat dengan siapapun itu. Dan lagi-lagi Renzan hanya dapat menahan perasaan cemburunya karena itu.
Frekuensi pertemuan yang mulai merenggang membuat Renzan menyesalinya sedikit demi sedikit. Ia hanya dapat berbicara lewat telfon atau media sosial lainnya. Sesuatu yang mengganjal dihati Renzan dapat ia perkirakan sendiri kapan saatnya sesuatu itu membuncah keluar.
Tepatnya pada saat ini, di lapangan upacara Dariesco School yang luas, setelah tim paskibra selesai mengibarkan bendera dan kembali ke tempatnya, pembawa acara kembali melanjutkan pembacaan, dan sebuah troli besi didorong ketengah lapangan oleh seorang petugas sekolah yang mana di atas troli tersebut terdapat tiga trophy dan piagam penghargaan.
Hari ini, Dariesco mengumumkan kemenangannya di lomba artikel antar sekolah. Pak Miki yang merupakan kepala sekolah melangkah maju ke balik podium dan mengucapkan salam pembuka. Semua peserta upacara melihat ke arah troli itu, mengerti apa yang akan disampaikan oleh kepala sekolah mereka.
Setelah memberikan kalimat pembuka yang cukup panjang mengenai lomba artikel, Pak Miki mengumumkan berita intinya. "Baiklah, tiga orang murid berprestasi ini lagi-lagi membanggakan nama sekolah. Saya sebagai perwakilan dari sekolah merasa bangga pada nama-nama yang akan saya sebutkan. Mereka adalah.." ujarnya antusias, "Jerry Fazra! Revendish Avogadro! Rara Lucien! Mereka-lah para pembuat artikel dalam perlombaan ini...."
Di sisi lain, pertama kali baginya kembali mengikuti upacara bendera setelah dirinya menjadi seorang cover boy. Renzan. Merasakan hatinya mencelus mendengar dua nama yang disebutkan secara berdampingan.
"Lo telat lagi, kan?" Cetus Alvin tiba-tiba.
Renzan terdiam. Kali ini ia tidak membantahnya bahwa memang Jerry telah mengambil satu langkah lebih maju dengan memanfaatkan ketidakberadaanya di sisi Reve. "Vin, menurut lo, mereka berdua cocok nggak?" Tanya Renzan gamang.
Serta merta Alvin menoleh ke arah Renzan. "Lo ngomong apa, sih?!" Tukasnya. Ia berdecak kesal. "Gue nggak suka nih. Elo yang kayak gini. nggak suka nih,elo yang pesimis begini.." tanggapnya kesal.
Renzan tidak menanggapinya karena ia sibuk memperhatikan tiga pelajar yang tengah berjalan beriringan. Sebenarnya ia tidak memperhatikan ketiganya, dua orang yang berjalan bersebelahan lebih menarik perhatiannya.
"Kok Reve lebih cocok sama Jerry, ya?"
"Hmm.. iya. Daripada sama Renzan.."
Renzan yang mendengarnya hanya dapat menahan napasnya sejenak.
"Jerry Fazra!" Pak Miki memanggilnya, "karena kamu yang mengkoordinir pembuatan artikel ini, jadi kamu yang menerima kategori 'juara umum artikel'.." ujarnya panjang sambil memberikan trophy dan piagam pada Jerry.
"Revendish Avogadro!" Lanjut Pak Miki. "Karena kamu yang mengambil foto di artikel ini, jadi kamu yang menerima kategori 'juara sudut foto terbaik'.." ujarnya sambil melakukan hal yang serupa seperti pada Jerry sebelumnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Regret
Fiksi RemajaSeorang cowo yang sangat populer dikalangan cewe ini memiliki banyak masalah dalam kisah cintanya. Lorenzan Barzelius namanya. Namun saat ia duduk dibangku SMA, seorang cewe berparas cantik nan cuek yang bernama Revendish Avogadro berhasil memikat h...
