05. Teman

4.3K 673 13
                                        

Malam ini, langit penuh bintang dengan bulan purnama membuat malam semakin terang. Kanaya memandanginya dengan lolipop berbentuk bundar di mulutnya.

Reflek, Kanaya menoleh begitu mendengar bunyi pintu yang digeser yang tak lain adalah pintu pembatas kamar Adriel dan balkon.

"Hai, Adriel!" sapa Kanaya seperti biasanya. Cowok yang memakai kaos putih polos dan celana abu-abu itu hanya menatap Kanaya datar, lalu mengalihkan pandangannya ke langit.

Kanaya kemudian melangkah menuju besi balkon miliknya yang berdekatan dengan besi balkon milik Adriel. Di luar dugaan Adriel, cewek itu memanjat besi balkon yang tingginya hanya sepinggang, kemudian melompat mulus di lantai balkon Adriel.

Melihat wajah heran bercampur kaget Adriel, Kanaya hanya tersenyum lebar. "Nggak usah kaget, gitu. Aku ini jago manjat-manjat kayak gini."

Kanaya mengeluarkan sebatang lolipop dari saku piyama bermotif hello kitty-nya, kemudian menyerahkan itu kepada Adriel.

"Ini," ujar Kanaya. Adriel meraihnya membuat senyum Kanaya semakin lebar. "Anggep aja ini sebagai rasa terima kasih aku sama kamu karena udah nganterin aku."

Kanaya menatap Adriel tulus. "Sekali lagi makasih ya. Ternyata dugaan aku bener, kamu itu sebenernya masih punya hati," ucapnya. Kanaya tersenyum, menampilkan deretan giginya yang rapi dan eye smile-nya membuat dia terlihat seperti anak kecil yang polos.

Adriel masih tak menanggapi. Jujur, masih ada rasa kesal karena gadis ini terus mengusiknya. Namun ada rasa aneh yang membuat Adriel tak mampu mengusir gadis itu. Cowok itu juga meringis di dalam hatinya saat Kanaya mengatakan bahwa ia adalah lelaki yang punya hati.

Seandainya dia tahu...

"Sekarang kita temenan, 'kan?" tanya Kanaya. Adriel menatap Kanaya datar, "gue nggak tertarik untuk punya temen."

Kanaya mengangkat alisnya, lalu mengetuk-ngetukkan jarinya di dagu, bertingkah seolah seorang pemikir keras. "Aku bingung. Kamu ini anti sosial, atau ngerasa nggak butuh teman?"

"Opsi kedua," tukas Adriel. Kanaya langsung membulatkan matanya, seakan apa yang dikatakan Adriel barusan adalah hal yang benar-benar menakjubkan untuknya.

"Adriel, semua orang itu butuh temen. Mau sehebat apapun kamu, kamu pasti butuh temen," cecar Kanaya. "Pasti kamu nyimpen semuanya sendiri, deh."

Kalimat terakhir Kanaya cukup menohok Adriel, walau ia tetap memasang wajah datarnya di hadapan Kanaya.

Kanaya lalu mengedikkan bahu. "Pasti kamu nggak bakal dengerin aku, sih."

Kemudian gadis itu melanjutkan. "Tenang aja, aku bakal tetep anggap kamu temen. Jadi, kalau ada apa-apa, kamu bisa cerita ke aku, supaya nggak kamu pendem sendirian. Nggak baik lho nyimpen semuanya sendirian. Aku pendengar yang baik kok, kata Dira sih gitu."

Kanaya tersenyum. "Aku masuk ke kamar duluan, ya."

Gadis itu membalikkan tubuhnya, namun sedetik kemudian berbalik lagi. "Eh, Adriel. Sebenernya aku seneng sih ditebengin kamu, tapi berhubung ojek pribadi aku alias Dave udah baikan, jadi besok aku berangkat lagi sama dia."

"Trus?" tanya Adriel singkat, walau dalam hatinya ia menggeram kesal karena mendengar nama itu.

"Ya nggak ada terus-terusnya. Cuman ngasih tau aja," balas Kanaya. "Udah sih gitu doang, aku balik ke kamar, ya."

Gadis itu kembali berbalik, memanjat pagar balkon yang rendah kemudian menginjakkan kakinya kembali di balkon miliknya. Kanaya menoleh sebentar, melambaikan tangannya kemudian masuk ke dalam kamarnya seraya kembali menutup pintu balkon diikuti suara kunci yang diputar.

Tsundere [Completed]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang