10. Ulang Tahun

3.4K 575 3
                                        

Happy Reading! Semoga suka❤

---

Adriel dan Iren sedang menikmati sarapan saat terdengar ketukan dari luar rumahnya. "Selamat pagi!"

Begitu mendengar suara itu, Adriel langsung menghela nafas, sedangkan Iren tersenyum. "Bukain sana, Kanaya tuh."

Adriel bangkit dari duduknya, kemudian membuka pintu rumahnya. Kanaya yang juga sudah siap dengan seragam abu-abunya menatap Adriel dengan matanya yang berbinar. "Selamat ulang tahun, Adriel!"

Kemudian gadis itu melanjutkan. "Wish aku cuma satu, semoga kamu jadi sering ngomong. Aku berasa ngomong sendiri tahu nggak kalau lagi ngomong sama kamu."

Melihat Adriel yang tidak merespon membuat Kanaya merengut. "Adriel, kamu nggak mau bilang apa, gitu?"

"Makasih," jawab Adriel singkat, dan datar.

"Cuma itu?" tanya Kanaya lagi.

Adriel berdecak kesal. "Jangan ngancurin mood gue pagi ini."

Kanaya mencebik, sorot matanya meredup. Gadis itu lalu mengangguk, "iya, maaf. Aku 'kan cuman excited doang karna hari ini ulang tahun kamu."

Adriel tak bermaksud kasar terhadap Kanaya. Namun suasana hatinya memang sedang buruk melihat ibunya menangis semalam.

Kanaya menurunkan suaranya saat berkata, "aku kasih hadiahnya nanti malem aja, ya."

Bertepatan dengan itu, deru motor David terdengar. Motor merah itu berhenti di depan rumah Kanaya. "Dave udah dateng, aku duluan ya."

Kanaya berbalik, tak menyadari ada adu tatap antara David dan Adriel. Adriel menyeringai remeh kepada David yang merasa ciut seketika. Ada rasa marah dan takut yang bercampur di dadanya.

David tahu, bahwa Adriel tidak main-main lagi.                   
                               

Bel pulang sekolah berbunyi, membuat semua siswa serempak merapikan bukunya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Bel pulang sekolah berbunyi, membuat semua siswa serempak merapikan bukunya. Kelas Kanaya yang baru saja selesai kuis Matematika langsung heboh membicarakan soal yang ada di lembaran tadi.

"ANJIR! Nomer satu tadi pake rumus apa?"

"Pasrah gua mah pasrah."

"Nyentuh nilai standar tumpengan gua."

Kanaya sendiri tak terlalu memikirkan kuis tadi, karena ia memang semalam ia sudah mengerjakan beberapa contoh soal yang tentunya membuat ia lebih mudah mengerjakan soal tadi.

"Nay, David udah di depan, tuh," ucap Dira sambil mengarahkan dagunya kepada David yang berdiri di depan pintu.

Kanaya buru-buru merapikan buku-bukunya, memasukannya kedalam tas lalu melangkah keluar. Namun, gerakan kaki Kanaya terhenti saat seseorang menahan pergelangan tangannya.

Tsundere [Completed]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang